APDESI Bangka Tengah Usulkan Program 1.000 Titik Cahaya, Minta PLN Babel Hadir hingga Pelosok

Masih Ada Gang Desa Gelap, Ketua APDESI Bangka Tengah Minta PLN Babel Gulirkan CSR Penerangan Jalan

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (KOBA) — Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Bangka Tengah, Yani Basaroni, mendorong PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Bangka Belitung (PLN Babel) memperluas manfaat program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) hingga ke pelosok desa. Senin (3/8/2026)

Dorongan tersebut disampaikan Yani Basaroni pada Senin (3/8/2026). Ia menilai penerangan jalan di sejumlah gang dan kawasan permukiman desa masih menjadi kebutuhan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius.

banner 336x280

Menurut pria yang akrab disapa Ronie Arabel itu, keberadaan penerangan jalan tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan masyarakat saat beraktivitas pada malam hari, tetapi juga menyangkut keamanan dan keselamatan warga.

Ia mengapresiasi program CSR PLN Babel yang telah berjalan dan tahun ini disebut mengucurkan dana hingga ratusan juta rupiah. Namun, menurutnya, manfaat program tersebut masih dapat diperluas agar benar-benar dirasakan masyarakat hingga tingkat permukiman paling kecil.

Ronie mengusulkan agar PLN Babel menjadikan penerangan jalan di pelosok desa sebagai salah satu program CSR yang berkelanjutan. Ia bahkan mengusulkan program bertajuk 1.000 Titik Cahaya Lampu di Pelosok Gang Desa.

“Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka, sudah sewajarnya kita merasakan kesejahteraan di bidang kelistrikan. Silakan bersilaturahmi ke pelosok desa hingga ke gang-gang jalan, masyarakat sangat membutuhkan penerangan jalan,” ujar Ronie.

Ia menyebut, Bangka Tengah memiliki puluhan desa dan kelurahan yang tersebar di berbagai wilayah. Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat 63 desa dan kelurahan di Kabupaten Bangka Tengah.

Dengan jumlah tersebut, ia menilai program penerangan jalan dapat dilakukan secara bertahap dan proporsional. Apabila setiap desa dan kelurahan mendapatkan alokasi sekitar 20 titik lampu penerangan jalan, maka program tersebut dapat membantu menerangi berbagai gang dan kawasan permukiman yang selama ini minim penerangan.

Ronie menilai program tersebut akan memberikan manfaat langsung dan jangka panjang bagi masyarakat. Selain membantu meningkatkan rasa aman warga pada malam hari, penerangan jalan juga dapat mendukung aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat di tingkat desa.

Ia juga menyampaikan bahwa pemerintah desa bersama masyarakat siap berperan dalam menjaga keberlangsungan program tersebut. Pihak desa, kata dia, dapat menggerakkan masyarakat melalui perangkat RT untuk ikut merawat fasilitas penerangan yang telah dibangun.

Bahkan, masyarakat disebut siap berpartisipasi dalam memenuhi kebutuhan operasional, termasuk pengisian token listrik secara berkala. Dengan demikian, program CSR yang diberikan PLN tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, tetapi dapat terus dimanfaatkan dan dijaga bersama oleh masyarakat.

“Kalau program ini direalisasikan, pihak desa siap pasang badan. Kami siap menggerakkan warga di tingkat RT untuk merawat dan mengisi token listrik setiap bulannya,” katanya.

Menurut Ronie, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci agar program penerangan jalan dapat berjalan secara berkelanjutan. Pemerintah desa dan warga diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga ikut bertanggung jawab menjaga fasilitas yang telah diberikan.

Ia juga menyinggung kontribusi masyarakat dalam penggunaan layanan kelistrikan. Menurutnya, masyarakat selama ini turut memberikan kontribusi terhadap PLN melalui pembayaran listrik dan pembelian token. Karena itu, ia berharap sebagian manfaat dari kontribusi tersebut dapat dirasakan kembali oleh masyarakat dalam bentuk program sosial yang konkret.

Ronie juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan PLN yang selama ini dinilainya cukup responsif dalam menangani gangguan kelistrikan. Ia turut menyoroti program penyediaan sambungan listrik atau kWh gratis bagi masyarakat kurang mampu yang dinilai telah membantu warga yang membutuhkan.

Namun, ia berharap berbagai program tersebut dapat terus dikembangkan dengan menyentuh kebutuhan masyarakat di lapisan paling bawah.

“Kami akan bersurat. Direalisasikan atau tidak, ya kembali ke pihak PLN Babel mau atau tidak membuat program CSR berfaedah jangka panjang ini,” tegasnya.

APDESI Bangka Tengah, lanjutnya, dalam waktu dekat akan menyampaikan usulan secara resmi kepada pimpinan PLN Babel. Surat tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk membuka komunikasi dan pembahasan mengenai kemungkinan realisasi program penerangan jalan di pelosok desa.

Ia berharap PLN Babel dapat mempertimbangkan usulan tersebut sebagai bagian dari program CSR yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Bagi APDESI Bangka Tengah, penerangan jalan bukan sekadar persoalan lampu yang menyala di malam hari. Lebih dari itu, cahaya di pelosok desa diharapkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan keamanan, kenyamanan, serta kualitas hidup masyarakat.

Melalui program 1.000 Titik Cahaya Lampu di Pelosok Gang Desa, APDESI berharap tidak ada lagi kawasan permukiman warga yang harus menjalani malam dalam kondisi gelap dan minim penerangan. (KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *