Cuaca Ekstrem Kembali Makan Korban, Nelayan Tewas Tersambar Petir di Perairan Bangka

Tragedi di Karang Langkore: Ayah Tewas Disambar Petir, Anak Selamat dengan Luka Bakar Parah

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA) – Perairan Karang Langkore, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, menjadi lokasi tragedi maut pada Sabtu, 6 Desember 2025. Seorang nelayan bernama Hasanudin, 45 tahun, meninggal dunia setelah tersambar petir saat melaut bersama anaknya, Bahar. Dalam peristiwa tersebut, sang anak juga turut menjadi korban dengan mengalami luka bakar serius di beberapa bagian tubuhnya. Senin (8/12/2025)

Insiden nahas ini terjadi sekitar pukul 08.00 WIB ketika keduanya sedang berada di atas Kapal Motor Kirana. Sambaran petir tidak hanya mengenai tubuh korban, tetapi juga merusak bagian kapal hingga nyaris tenggelam. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bangka, Ridwan, membenarkan peristiwa tersebut dan menyebut korban merupakan ayah dan anak.

banner 336x280

“KM Kirana tersambar petir dengan satu korban meninggal dunia, sementara satunya mengalami luka bakar. Keduanya adalah ayah dan anak,” ujar Ridwan saat dikonfirmasi Sabtu siang. Ia menjelaskan, setelah sambaran petir terjadi, kedua korban sempat terlempar dan melompat ke laut untuk menyelamatkan diri dari kapal yang mulai rusak berat.

Ridwan menuturkan, di tengah kondisi panik dan cuaca yang buruk, Bahar sempat mendengar suara ayahnya meminta tolong. Dengan sisa tenaga, ia berusaha mengangkat tubuh Hasanudin kembali ke atas kapal. Namun, kondisi korban sudah sangat lemah akibat sengatan petir yang mengenai sebagian besar tubuhnya. Beberapa saat kemudian, Hasanudin dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Dalam kondisi kapal yang terus terombang-ambing dan hampir tenggelam, Bahar bertahan di laut sebelum akhirnya ditemukan oleh nelayan lain yang kebetulan melintas di sekitar perairan Karang Langkore. Nelayan tersebut kemudian meminta bantuan kepada aparat terkait. Tak lama berselang, tim gabungan langsung diterjunkan untuk melakukan proses evakuasi terhadap para korban.

Tim gabungan tersebut terdiri dari Satpolairud Polres Bangka, Ditpolairud Polda Kepulauan Bangka Belitung, BPBD Bangka, serta unsur relawan Laskar Sekaban. Menggunakan dua unit speed boat, tim bergerak menuju lokasi korban untuk mengevakuasi jenazah Hasanudin dan menyelamatkan Bahar yang dalam kondisi luka bakar. Proses evakuasi berlangsung dramatis karena cuaca masih belum sepenuhnya membaik.

Jenazah Hasanudin berhasil dibawa ke rumah duka di Kelurahan Jelitik, Kecamatan Sungailiat, untuk diserahkan kepada pihak keluarga. Sementara itu, Bahar langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Depati Bahrin Sungailiat guna mendapatkan penanganan medis intensif. Pihak rumah sakit menyebut korban mengalami luka bakar di bagian dada, lengan, serta kaki akibat sengatan petir.

Ridwan mengungkapkan bahwa peristiwa ini menjadi pengingat serius bagi masyarakat pesisir terhadap bahaya cuaca ekstrem. Ia menyebut, selama bulan Desember, wilayah Kabupaten Bangka masih berpotensi dilanda hujan lebat disertai petir dan angin kencang. Kondisi tersebut dinilai sangat berisiko bagi para nelayan yang tetap memaksakan diri melaut dalam situasi cuaca buruk.

“Kami mengimbau masyarakat, khususnya nelayan, untuk selalu memperhatikan informasi prakiraan cuaca sebelum melaut. Jika cuaca tidak bersahabat, sebaiknya aktivitas di laut ditunda demi keselamatan bersama,” tegasnya. Ia juga meminta warga yang beraktivitas di pesisir untuk segera mencari tempat aman apabila melihat tanda-tanda badai atau mendengar suara guntur di sekitar wilayah perairan.

Peristiwa meninggalnya Hasanudin sontak mengundang duka mendalam bagi keluarga dan warga sekitar. Sejumlah tetangga dan kerabat tampak berdatangan ke rumah duka untuk memberikan bantuan serta dukungan moril kepada istri dan anak-anak korban. Mereka mengenal Hasanudin sebagai sosok pekerja keras yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil melaut.

Pemerintah daerah melalui BPBD Bangka memastikan akan terus meningkatkan patroli dan penyebaran informasi peringatan dini cuaca ekstrem kepada masyarakat pesisir. Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan risiko kecelakaan laut, khususnya yang disebabkan oleh sambaran petir dan gelombang tinggi. BPBD juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memperkuat sistem respons cepat di wilayah rawan bencana.

Sementara itu, kondisi Bahar hingga Sabtu malam masih dalam pengawasan tim medis. Pihak keluarga berharap korban dapat segera pulih meski mengalami trauma akibat peristiwa tersebut. Tragedi ini menjadi pelajaran pahit tentang besarnya risiko bekerja di laut saat cuaca ekstrem bagi para nelayan di Bangka Belitung. (Sumber : Mureks, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *