KBOBABEL.COM ( PANGKALPINANG ) – Suatu pagi di sekitar Alun-Alun Taman Merdeka, Pangkalpinang. Sebuah coffee cart menggelar lapaknya dan mulai melayani pembeli. Pesanan dibuat, QRIS dipindai, notifikasi berbunyi, lalu pembeli pergi membawa minumannya.
Yang terlihat adalah transaksinya selesai. Tapi sebenernya disitulah datanya justru baru mulai terbentuk.
Jam pembelian tercatat. Nilai transaksi tersimpan. Jenis minuman yang laku bisa diketahui. Kalau pola seperti ini terjadi puluhan kali setiap hari, dalam beberapa minggu pemilik usaha sebenarnya sudah memiliki cukup banyak cerita tentang bisnisnya.
Persoalannya, apakah cerita itu dibaca?
Sebagian pelaku usaha mungkin cukup melihat total uang yang masuk pada akhir hari. Hari ini Rp500 ribu, kemarin Rp450 ribu. Besok berharap lebih ramai. Tidak ada yang salah. Tetapi angka yang sama sebenarnya bisa memberi informasi lebih jauh. Kapan pembeli paling ramai? Menu mana yang paling sering dipesan? Apakah lokasi yang ramai benar-benar menghasilkan omzet lebih besar? Promosi mana yang akhirnya berujung pada pembelian?
Di sinilah data mulai punya nilai.
Bayangkan dua coffee cart dengan transaksi yang hampir sama. Keduanya memakai QRIS dan aktif di media sosial. Pemilik pertama hanya melihat omzet. Pemilik kedua membaca pola transaksi, membandingkan lokasi, jam penjualan, dan menu yang terjual.
Setelah beberapa minggu, pemilik kedua mengetahui bahwa lokasi paling ramai ternyata bukan yang paling menguntungkan. Di lokasi lain pembelinya lebih sedikit, tetapi nilai transaksi rata-ratanya lebih tinggi.
Datanya sama-sama terbentuk. Yang satu membaca. Yang satu membiarkan. Hasilnya bisa berbeda.
Kurang lebih seperti itulah data analytics bekerja. Istilahnya terdengar rumit, tetapi bagi usaha kecil praktiknya tidak harus demikian. Analitik data pada dasarnya membantu pelaku usaha membaca apa yang sudah terjadi agar keputusan berikutnya tidak hanya berdasarkan perkiraan.
Hal ini cukup relevan bagi Pangkalpinang. Bank Indonesia mencatat 52.831 merchant QRIS di Kota Pangkalpinang pada Maret 2025. Pemerintah Kota Pangkalpinang juga menyebut jumlah pelaku UMKM telah melampaui 29 ribu.
Aktivitas usahanya besar. Transaksi digital juga sudah berkembang. Artinya, datanya terus terbentuk.
Bukan hanya dari QRIS. Riwayat penjualan ada di aplikasi kasir. Pesanan tersimpan di WhatsApp. Instagram dan TikTok mencatat respons audiens. Google menyimpan ulasan pelanggan. Masalahnya bukan lagi kekurangan data. Masalahnya, apa yang dilakukan setelah data itu ada?
Penelitian Perdana, Lee, Koh, dan Arisandi yang terbit dalam International Journal of Accounting Information Systems pada 2022 menunjukkan bahwa data analytics dapat menciptakan nilai bisnis ketika data berubah menjadi informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan. Sebaliknya, keterbatasan pemahaman menjadi salah satu penghambat usaha kecil dan menengah memperoleh manfaat dari data.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, data bisa banyak, tetapi cuan belum tentu ikut banyak.
Sebuah usaha minuman mungkin mengetahui produk A paling laku. Namun, setelah dihitung lebih jauh, produk B yang tidak terlalu ramai justru memberikan margin lebih besar. Promosi di Instagram bisa memperoleh seribu likes. Tetapi belum tentu menghasilkan lebih banyak penjualan dibandingkan unggahan sederhana yang hanya mendapat sedikit respons tetapi membawa banyak pesanan.
Ramai belum tentu cuan.
Karena itu, pelaku usaha sebenarnya cukup memulai dari beberapa pertanyaan sederhana. Apa yang paling laku? Kapan transaksi paling ramai? Produk mana yang paling menguntungkan? Promosi mana yang menghasilkan pembelian? Pelanggan mana yang kembali?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memengaruhi stok, lokasi, waktu berjualan, menu, hingga strategi promosi. Tidak perlu langsung bicara big data. Tidak perlu pula teknologi mahal. Mulai saja dari data yang setiap hari sudah terbentuk.
Di sinilah pendampingan UMKM juga perlu naik kelas. Pelaku usaha jangan hanya diajarkan memakai QRIS, membuat konten, atau masuk marketplace. Mereka juga perlu belajar membaca apa yang dihasilkan teknologi tersebut. Perguruan tinggi, pemerintah kota, Bank Indonesia, perbankan, maupun komunitas usaha dapat mengambil peran dengan membantu pelaku usaha memahami data bisnis mereka sendiri.
Kembali ke coffee cart tadi. Sepanjang hari transaksi terus bertambah. Setiap pembayaran meninggalkan jejak. Pada malam hari, pemilik usaha sebenarnya membawa pulang dua hal: uang dan data.
Uangnya langsung terlihat. Nilai datanya baru muncul kalau dibaca.
Jika data membantu memilih produk yang tepat, lokasi yang lebih produktif, waktu berjualan yang lebih efektif, serta promosi yang benar-benar menghasilkan transaksi, peluang cuan ikut membesar.
Kalau tidak? Datanya tetap terbentuk. Cuannya saja yang belum nyangkut.
Catatan Sumber
- Perdana, A., Lee, H. H., Koh, S. K., & Arisandi, D. (2022). Data analytics in small and mid-size enterprises: Enablers and inhibitors for business value and firm performance. International Journal of Accounting Information Systems, 44, 100547. https://doi.org/10.1016/j.accinf.2021.100547
- Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Mei 2025. Data merchant QRIS Kota Pangkalpinang: 52.831 merchant pada Maret 2025.
- Pemerintah Kota Pangkalpinang, 2026. Informasi jumlah pelaku UMKM di Kota Pangkalpinang lebih dari 29 ribu.
Biodata Singkat Penulis
M. Agus Abdul Majid adalah Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung.












