KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Suasana ruang tunggu Poli Anak RSUD Depati Hamzah, Pangkalpinang, pada Minggu itu tidak seperti biasanya. Tidak ada percakapan ringan antarorang tua, tidak ada tawa kecil anak-anak yang menunggu giliran diperiksa. Yang ada hanya kecemasan yang terasa menekan dari wajah-wajah yang menunduk, dari tatapan kosong para ibu dan ayah yang selama ini menggantungkan harapan hidup anak-anak mereka pada satu nama: dr. Ratna Setia Asih, Sp.A. Selasa(25/11/2025)
Sejak kabar penetapan dr. Ratna sebagai tersangka dalam kasus kematian seorang bocah bernama Aldo mencuat, ruang ini berubah menjadi tempat penuh kegelisahan. Pertanyaan yang sama terus terdengar dari para orang tua, namun tak ada yang bisa menjawabnya.
“Bagaimana nasib anak kami nanti?”
Dokter yang Menjawab Telepon di Tengah Malam
Eric, seorang ayah dari anak penderita diabetes yang sudah tiga tahun menjadi pasien tetap dr. Ratna, tidak dapat menyembunyikan kegoncangannya. Ia mengingat dengan jelas bagaimana dokternya itu menjadi penopang di masa-masa paling menakutkan bagi keluarganya.
“Jam satu malam pun, kalau anak saya tiba-tiba drop, saya telepon. Dokter Ratna selalu angkat. Dia dengar dengan sabar, dia jelaskan dengan pelan apa yang harus kami lakukan,” ujar Eric, suaranya bergetar.
Ia menyeka matanya sebelum melanjutkan.
“Anak saya ini penyakitnya bisa kumat kapan saja. Tanpa arahan beliau… saya tidak tahu harus bagaimana. Saya bingung kalau nanti beliau dipenjara.”
Bagi Eric, dr. Ratna bukan hanya dokter. Ia adalah “penjaga malam”—orang yang memastikan anaknya tetap hidup hingga pagi berikutnya.
“Kalau Beliau Tidak Ada, Siapa yang Rawat Kami?”
Evi, ibu dari anak penderita thalassemia, ikut menimpali. Ia mengangguk ketika mendengar cerita Eric—cerita itu terlalu mirip dengan kisahnya sendiri.
“Lebaran, Minggu, hari libur apa pun… dr. Ratna tetap datang visit. Tetap cek anak-anak kami,” katanya.
Ia tersenyum kecil, namun matanya tidak.
“Anak-anak kami ini saling mengenal. Mereka bilang tangan dokter Ratna itu dingin, menenangkan. Kalau beliau tidak ada, siapa yang akan rawat kami?”
Evi mengaku sangat berduka atas meninggalnya Aldo. Tidak ada orang tua yang ingin kehilangan anaknya. Namun ia juga memohon agar ratusan anak lain yang masih berjuang tetap diperhatikan.
“Tolong pikirkan juga anak-anak kami yang masih berjuang,” ucapnya lirih.
Kisah-Kisah yang Tak Pernah Muncul di Berita
Shela, orang tua pasien diabetes lainnya, merasakan kecemasan serupa.
“Banyak dokter anak di dunia ini, tapi kami nyaman dengan cara beliau. Banyak anak-anak terbantu di tangan beliau,” ujarnya.
Sementara itu, Eni, ibu dari anak yang dua kali masuk ICU sejak 2018, menceritakan bahwa ketelitian dr. Ratna pernah menjadi penyelamat hidup bagi putranya.
“Kalau dulu di IGD dr. Ratna tidak seteliti itu, tidak sedetail itu… mungkin anak saya sudah tidak ada,” katanya pelan.
Bagi Eni, kasus ini bukan hanya tentang satu tragedi, tapi tentang ketakutan bahwa ratusan anak di Pangkalpinang akan kehilangan dokter yang memahami kondisi mereka luar dalam.
Dukungan IDI dan Kekhawatiran Tenaga Kesehatan
Kasus ini tidak hanya mengguncang keluarga pasien, tetapi juga komunitas medis. Ketua IDI Wilayah Bangka Belitung, dr. Arinal, Sp.DVE, menyampaikan sikap organisasi.
“IDI selalu memberikan bantuan moril maupun materil kepada sejawat. Kami berterima kasih kepada Kejaksaan karena memberikan penangguhan penahanan demi pelayanan pediatri di Babel,” ujarnya, dikutip dari bangkapos.com.
Menurut IDI, keberadaan seorang dokter spesialis anak tidak dapat digantikan dalam waktu singkat. Ketika satu dokter tersangkut persoalan hukum, dampaknya bisa merembet ke ratusan pasien yang membutuhkan layanan kritis.
Ketegaran Seorang Dokter
Di tengah sorotan publik, dr. Ratna tetap menjalani proses hukum dengan ketegaran yang ia sebut sebagai kekuatan dari keluarganya.
“Sejak awal saya sudah melakukan hal yang benar dan sesuai SOP. Tapi entah kenapa, lama-lama arah kasus ini seperti menyudutkan saya,” katanya saat diwawancarai.
Ia tidak menolak bahwa kasus Aldo adalah sebuah tragedi. Namun ia juga menegaskan bahwa upaya medis yang ia berikan saat itu telah dilakukan sesuai prosedur.
Ketika rekomendasi MDP KKI dianggap tidak jelas, ia mengambil langkah hukum dengan mengajukan uji materil ke Mahkamah Konstitusi.
“Saya hanya berharap kebenaran medis bisa terlihat dengan jelas,” ujarnya singkat.
Anak-Anak Itu Masih Menunggu
Di grup WhatsApp pasien diabetes, thalassemia, dan kanker darah, nama dr. Ratna muncul nyaris setiap hari. Bukan sebagai topik pembelaan, tetapi sebagai rasa takut yang tak bisa mereka sembunyikan.
“Kalau bulan depan jadwal cek darah, siapa gantikan dokter?”
“Anak saya harus evaluasi insulin… bagaimana ya?”
“Kami takut, kami butuh beliau.”
Kandar, ayah dari anak penderita kanker darah, menyimpulkan suara para orang tua itu.
“Kami berbelasungkawa untuk Aldo. Kami juga ingin keadilan. Tapi tolong… jangan biarkan anak-anak kami kehilangan harapan yang tersisa,” ujarnya.
Cermin Rapuhnya Ekosistem Kesehatan Daerah
Kasus dr. Ratna menunjukkan rapuhnya sistem kesehatan di daerah. Ketika satu dokter anak terjerat persoalan hukum, bukan hanya satu keluarga yang terdampak—tetapi ratusan keluarga yang sedang berjuang menjaga hidup anak-anak mereka.
Ketika seorang dokter pergi, kebutuhan medis tidak ikut berhenti. Penyakit tidak mengenal proses hukum. Anak-anak tidak mengerti apa itu pasal, rekomendasi, atau SOP.
Yang mereka tahu hanyalah satu hal:
dokter mereka tidak ada.
Dan bagi banyak orang tua di Pangkalpinang, itu adalah ketakutan terbesar yang pernah mereka rasakan. (Sumber : Trasberita, Editor : KBO Babel)
















