ISPU Pangkalpinang Masih 39, DLH: Udara Aman Meski Kemarau dan Karhutla

Karhutla Belum Ganggu Udara Pangkalpinang, DLH Ingatkan Warga Jangan Bakar Sampah

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Kualitas udara di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, masih berada dalam kategori baik di tengah kondisi kemarau dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Sabtu (19/9/2026)

Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pangkalpinang pada Jumat, 18 September 2026, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) tercatat berada di angka 39 hingga pukul 16.00 WIB.

banner 336x280

Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas udara di Pangkalpinang masih tergolong baik dan relatif aman bagi masyarakat untuk menjalankan aktivitas di luar ruangan.

Kepala DLH Kota Pangkalpinang, Fahrizal, mengatakan kondisi udara saat ini masih memungkinkan masyarakat melakukan berbagai kegiatan di luar rumah. Meski demikian, masyarakat tetap dianjurkan menjaga kesehatan dan mengantisipasi paparan polusi udara.

“ Kualitas udara kita masih baik, aman untuk aktivitas masyarakat walau tanpa masker. Akan lebih baik juga jika memakai masker saat berada di luar,” kata Fahrizal di Pangkalpinang, Jumat sore.

Menurutnya, kondisi kualitas udara tersebut menjadi salah satu indikator bahwa dampak kemarau dan karhutla terhadap udara di wilayah Pangkalpinang sejauh ini belum signifikan.

Fahrizal mengatakan masyarakat juga dapat memantau kondisi kualitas udara secara langsung melalui aplikasi indeks pencemaran udara. Pemantauan secara real time tersebut penting agar masyarakat dapat mengetahui perubahan kualitas udara, terutama ketika terjadi peningkatan titik panas atau kebakaran lahan.

Dalam sistem ISPU, kualitas udara berada dalam kategori baik pada rentang angka 1 hingga 50. Sementara angka 51 hingga 100 masuk kategori sedang. Selanjutnya, angka 101 hingga 200 masuk kategori tidak sehat, 201 hingga 300 tergolong sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Dengan ISPU di angka 39, kondisi udara Pangkalpinang masih berada di bawah ambang kategori sedang.

“Secara umum memang kita terpapar kemarau dan karhutla, tapi dampaknya tidak signifikan sehingga kualitas udara kita masih baik,” jelas Fahrizal.

Ia menjelaskan, kondisi geografis dan karakteristik lahan di Bangka Belitung turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi durasi penanganan karhutla. Menurutnya, sebagian wilayah di Bangka Belitung tidak didominasi lahan gambut sehingga api maupun asap dari kebakaran lahan relatif lebih cepat ditangani.

“Beda kondisi kalau daerah lain, gambut. Kalau sudah terbakar api dan asap itu lama hilangnya,” ujarnya.

Meski kualitas udara masih tergolong baik, DLH Pangkalpinang tetap meminta masyarakat tidak lengah. Kondisi kemarau dapat meningkatkan potensi terjadinya kebakaran, khususnya apabila masyarakat melakukan aktivitas pembakaran secara terbuka.

Fahrizal secara khusus mengimbau masyarakat tidak membakar sampah rumah tangga maupun membuka lahan dengan cara membakar. Kebiasaan tersebut dinilai dapat menghasilkan asap dan partikulat yang berpotensi menurunkan kualitas udara.

Selain menghindari pembakaran, masyarakat juga diajak berperan menjaga kualitas lingkungan dengan memperbanyak ruang hijau di sekitar tempat tinggal. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah menanam dan merawat pohon di halaman rumah.

Menurut Fahrizal, keberadaan pohon di lingkungan permukiman memiliki kontribusi terhadap kualitas udara. Jika setiap rumah memiliki tanaman dan pohon, manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas karena ruang hijau terbentuk secara kolektif.

“Bukaan lahan kita masih terkendali, ada banyak pohon. Di rumah warga ada pohon satu-satu, itu semua berkontribusi untuk menjaga kualitas udara tetap baik. Mari kita tanam pohon dimulai dari halaman rumah masing-masing,” katanya.

DLH berharap kondisi udara yang masih baik dapat dipertahankan melalui kesadaran masyarakat. Terlebih, musim kemarau masih berpotensi meningkatkan risiko karhutla dan menghasilkan asap apabila kebakaran tidak segera ditangani.

Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam menjaga kualitas udara. Pencegahan dapat dimulai dari lingkungan terkecil, seperti tidak membakar sampah, tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan, menjaga pepohonan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik api.

Dengan langkah tersebut, kualitas udara Pangkalpinang diharapkan tetap berada dalam kategori baik meskipun menghadapi tekanan musim kemarau dan potensi karhutla di wilayah Bangka Belitung. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *