Jalur Energi Dunia Mulai Pulih, Selat Hormuz Kembali Dilalui Kapal Dagang dan Tanker

Blokade Selat Hormuz Dicabut, 550 Kapal Dagang Bersiap Tinggalkan Teluk Persia

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (TEHERAN/WASHINGTON) — Aktivitas pelayaran internasional di kawasan Teluk Persia mulai kembali bergerak setelah blokade Selat Hormuz resmi dicabut menyusul tercapainya perjanjian sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk menghentikan konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir. Pencabutan blokade tersebut membuka peluang bagi ratusan kapal dagang yang selama ini tertahan untuk kembali melintasi salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Sabtu (20/6/2026)

Perusahaan data maritim Lloyd’s List Intelligence memperkirakan sedikitnya 550 kapal dagang saat ini bersiap keluar dari kawasan Teluk Persia setelah akses melalui Selat Hormuz kembali dibuka secara bertahap.

banner 336x280

Jumlah tersebut terdiri dari sekitar 160 kapal tanker minyak, 200 kapal pengangkut barang curah, 60 kapal kontainer, serta 10 kapal pengangkut kendaraan. Ratusan kapal tersebut sebelumnya terhambat akibat konflik yang memicu penutupan jalur pelayaran strategis tersebut.

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat telah mencabut blokade yang sebelumnya diberlakukan di Selat Hormuz. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.

Pencabutan blokade memungkinkan kapal-kapal dagang dan tanker kembali mengakses pelabuhan-pelabuhan di Iran maupun melintasi kawasan Teluk Persia.

Pergerakan kapal-kapal besar mulai terlihat pada Kamis (18/6/2026), menandai dimulainya kembali aktivitas pelayaran di kawasan tersebut setelah lebih dari tiga bulan mengalami gangguan.

Pemimpin Redaksi Lloyd’s List, Richard Meade, mengatakan kapal milik sejumlah perusahaan pelayaran besar untuk pertama kalinya kembali melintasi Selat Hormuz setelah sekitar 110 hari terisolasi akibat perang.

Menurutnya, sejumlah operator kapal internasional mulai kembali mengoperasikan armadanya setelah adanya kepastian mengenai keamanan pelayaran.

Selama konflik berlangsung, Selat Hormuz praktis menjadi salah satu wilayah paling berisiko bagi pelayaran internasional. Banyak perusahaan pelayaran memilih menghentikan operasi atau mengalihkan rute demi menghindari ancaman keamanan.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia. Sebelum konflik terjadi, sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global dikirim melalui jalur tersebut.

Penutupan selat selama perang menimbulkan gangguan besar terhadap pasokan energi dunia. Harga minyak sempat mengalami tekanan akibat kekhawatiran pasar terhadap terganggunya distribusi minyak dan gas alam dari kawasan Timur Tengah.

Meski belum merilis angka pasti kapal yang telah melintas, Lloyd’s List mencatat sejumlah perusahaan pelayaran besar telah mengoperasikan kembali armadanya di kawasan tersebut.

Beberapa perusahaan yang disebut telah melintasi Selat Hormuz antara lain Grimaldi Group, Cosco, Knutsen, dan NYK.

Selain itu, dua kapal tanker minyak mentah berbendera Iran milik National Iranian Tanker Company juga dilaporkan telah memasuki kawasan selat.

Masuknya kapal-kapal Iran tersebut menjadi indikasi bahwa aktivitas ekspor energi negara itu mulai kembali berjalan setelah terhambat selama masa konflik.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani melalui akun media sosial X menyebut salah satu kapal dagang milik Grimaldi Group menjadi kapal pertama yang melintasi Selat Hormuz setelah perjanjian ditandatangani.

Sementara itu, perusahaan pelacakan maritim Kpler mencatat enam pelayaran terverifikasi pada Rabu dan sebelas pelayaran lainnya pada Kamis.

Meski demikian, aktivitas pelayaran belum sepenuhnya kembali normal.

Direktur Kelautan Intertanko, Phillip Belcher, mengungkapkan bahwa jalur utama Selat Hormuz hingga kini masih ditutup karena adanya ancaman ranjau laut yang belum sepenuhnya dibersihkan.

Menurutnya, diperkirakan masih terdapat sekitar 80 ranjau di jalur utama yang sebelumnya digunakan kapal-kapal besar.

“Kedua rute alternatif itu sekarang tampaknya sepenuhnya terbuka,” kata Belcher.

Untuk sementara waktu, kapal-kapal diarahkan melewati dua jalur alternatif. Jalur pertama berada di wilayah utara yang melintasi perairan Iran, sedangkan jalur kedua berada di sisi selatan melalui perairan Oman.

Kedua jalur tersebut memungkinkan lalu lintas kapal tetap berjalan, namun kapasitasnya jauh lebih terbatas dibandingkan jalur utama Selat Hormuz.

Belcher mengibaratkan kondisi tersebut seperti jalan tol yang sebagian jalurnya ditutup sehingga kendaraan harus menggunakan bahu jalan.

“Ini seperti jalan raya di mana jalan di tengah ditutup dan Anda menggunakan bahu jalan. Itu sekarang digunakan sebagai rute utama. Kita perlu kembali membuka jalan raya,” ujarnya.

Para pelaku industri pelayaran memperkirakan normalisasi penuh Selat Hormuz masih membutuhkan waktu beberapa minggu bahkan beberapa bulan.

Proses pembersihan ranjau, pemeriksaan keamanan, serta pemulihan sistem navigasi menjadi faktor penting sebelum jalur utama dapat dibuka kembali sepenuhnya.

Meski demikian, pencabutan blokade telah memberikan optimisme bagi industri pelayaran global dan pasar energi internasional.

Kembalinya aktivitas kapal tanker dan kapal dagang di Selat Hormuz diharapkan dapat memperlancar distribusi minyak dan gas dunia, menekan biaya logistik, serta mengurangi ketidakpastian yang selama ini membayangi pasar energi global.

Bagi negara-negara pengimpor energi, pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kabar positif karena dapat membantu menjaga stabilitas pasokan dan harga energi dunia setelah berbulan-bulan mengalami gangguan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *