KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan mencatat sebanyak 17 kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang tahun 2025 hingga Juli 2026. Dari jumlah tersebut, tujuh kasus ditemukan pada pasien yang disebut berasal dari kelompok LGBTQ. Rabu (29/7/2026)
Data tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Bangka Selatan, dr. Agus Pranawa. Ia merinci, sepanjang 2025 terdapat 12 kasus baru HIV yang terdeteksi. Dari jumlah tersebut, enam kasus tercatat pada pasien dari kelompok LGBTQ.
Sementara itu, hingga Juli 2026, Dinkes Bangka Selatan kembali menemukan lima kasus baru HIV. Dari lima kasus tersebut, satu di antaranya disebut berasal dari kelompok LGBTQ.
“Tahun 2025 ada 12 kasus yang kami temukan kasus baru, dari 12 itu enam memang dari LGBT. Sementara tahun 2026 sampai bulan ini ada lima kasus dan yang LGBT satu orang,” kata Agus, Rabu (29/7/2026).
Dengan demikian, dalam kurun waktu 2025 hingga Juli 2026, terdapat 17 kasus baru HIV yang berhasil terdeteksi oleh Dinas Kesehatan Bangka Selatan. Data tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah dalam memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, pengobatan, dan pendampingan bagi masyarakat yang berisiko maupun yang telah terdiagnosis HIV.
Agus menyebutkan, secara akumulatif jumlah kasus HIV yang tercatat di Kabupaten Bangka Selatan hingga Juli 2026 mencapai 93 kasus.
Menurutnya, pasien yang telah terdeteksi mendapatkan layanan kesehatan secara berkala. Pemerintah daerah melalui fasilitas pelayanan kesehatan memberikan pengobatan dan pemantauan medis kepada pasien sesuai kebutuhan. Selain layanan medis, pasien juga mendapatkan pendampingan dan edukasi yang berkaitan dengan pencegahan penularan HIV.
Penanganan HIV, kata Agus, tidak hanya berfokus pada pengobatan terhadap pasien yang telah terdiagnosis. Upaya pencegahan dan deteksi dini juga menjadi bagian penting untuk menekan potensi penularan di tengah masyarakat.
Namun, dalam pelaksanaannya, Dinas Kesehatan menghadapi sejumlah tantangan, terutama dalam menjangkau kelompok masyarakat yang dinilai rentan terhadap penularan HIV. Salah satu kendala yang dihadapi petugas adalah keterbukaan informasi dari kelompok tertentu sehingga proses edukasi dan pemeriksaan atau screening membutuhkan pendekatan yang tepat.
“Untuk menjangkau kelompok tersebut, kita selalu melakukan edukasi, baik yang sudah penderita itu kita sarankan untuk screening untuk kelompoknya,” jelas Agus.
Ia mengatakan, keterbatasan akses terhadap kelompok yang cenderung tertutup menjadi salah satu hambatan dalam melakukan deteksi dini. Kondisi tersebut membuat petugas kesehatan harus terus melakukan pendekatan melalui edukasi dan sosialisasi agar masyarakat memiliki kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.
“Memang kendalanya kelompok-kelompok yang LGBT itu cenderung tertutup, jadi memang permasalahannya di situ,” ungkapnya.
Untuk memperkuat pencegahan, Dinas Kesehatan Bangka Selatan secara rutin melaksanakan kegiatan screening di sejumlah lokasi yang dinilai memiliki risiko penularan HIV. Salah satunya dilakukan di kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai lokasi lokalisasi.
Kegiatan screening di kawasan tersebut dilakukan sedikitnya dua kali dalam setahun. Pemeriksaan tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendeteksi kasus HIV lebih awal sehingga masyarakat yang terdiagnosis dapat segera mendapatkan layanan kesehatan dan pengobatan.
Selain melakukan screening pada kelompok berisiko, upaya pencegahan juga diarahkan kepada generasi muda. Dinas Kesehatan melakukan edukasi ke lingkungan sekolah melalui berbagai kegiatan sosialisasi kesehatan reproduksi dan pencegahan penyakit menular.
Salah satu wadah yang dimanfaatkan adalah Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Melalui wadah tersebut, para pelajar diberikan informasi dan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kesehatan serta menghindari perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan penyakit.
“Kita edukasi ke sekolah-sekolah, ke tempat teman-teman yang ada di sekolah, misalkan lewat PIK-R-nya kita sosialisasi juga,” sebut Agus.
Dinas Kesehatan Bangka Selatan berharap kegiatan edukasi dan screening dapat terus ditingkatkan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak ragu memanfaatkan layanan kesehatan dan melakukan pemeriksaan apabila memiliki faktor risiko.
Dengan deteksi dini, pasien yang terdiagnosis HIV dapat segera memperoleh pengobatan dan pendampingan medis. Penanganan yang tepat juga diharapkan dapat membantu menjaga kualitas hidup pasien sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain.
Pemerintah daerah menilai kolaborasi antara tenaga kesehatan, sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan HIV. Edukasi yang berkelanjutan dan akses pemeriksaan yang mudah diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan deteksi dini. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)















