Kasus HIV di Bangka Selatan Meningkat, 4 Orang Meninggal Dunia Sepanjang 2025

Bangka Selatan Masuk Daerah dengan Kasus HIV Tertinggi di Babel, Dinkes Gencarkan Edukasi

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) — Lonjakan kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir, Dinas Kesehatan setempat mencatat sebanyak 12 kasus baru HIV ditemukan di berbagai wilayah. Ironisnya, empat di antaranya telah meninggal dunia akibat komplikasi penyakit. Rabu (5/11/2025)

Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Bangka Selatan, dr Agus Pranawa, mengungkapkan bahwa kasus HIV baru tersebut terdeteksi sepanjang Januari hingga September 2025. Menurutnya, dari total 12 kasus baru yang ditemukan, delapan pasien kini menjalani pengobatan aktif di fasilitas kesehatan, sementara empat pasien lainnya tidak dapat diselamatkan.

banner 336x280

“Kami menemukan 12 kasus baru selama tahun 2025 ini, dan sebagian besar pasien berada pada usia produktif. Empat di antaranya telah meninggal dunia karena komplikasi yang timbul akibat HIV,” ujar dr Agus Pranawa saat diwawancarai, Selasa (4/11/2025).

Ia menambahkan, secara kumulatif sejak tahun 2010 hingga September 2025, total sudah tercatat 83 warga Bangka Selatan yang terinfeksi HIV. Dari jumlah tersebut, 54 orang masih menjalani pengobatan secara rutin, 14 orang dinyatakan meninggal dunia, dan 15 lainnya gagal dipantau atau hilang tindak lanjut (lost to follow up).

Dari hasil pemeriksaan dan analisis, dr Agus menjelaskan bahwa pola penularan HIV di Bangka Selatan mayoritas terjadi akibat hubungan seksual berisiko, terutama pada kelompok lelaki seks lelaki (LSL), serta hubungan seksual dengan individu yang telah terinfeksi HIV.

“Faktor utama penyebab kasus HIV baru masih didominasi oleh hubungan seksual sesama jenis dan hubungan dengan pasangan yang sudah positif HIV. Kategori LSL menjadi penyumbang terbesar,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kasus HIV yang muncul tahun ini sebagian besar ditemukan pada kalangan muda dan usia produktif, yakni usia 18 tahun ke atas. Namun, terdapat juga beberapa kasus penularan dari ibu ke anak, yang menunjukkan bahwa penyebaran virus ini tidak hanya terjadi di kalangan dewasa.

“Kami juga menemukan beberapa kasus pada anak-anak, yang umumnya tertular dari ibu positif HIV. Kondisi ini menunjukkan bahwa deteksi dini pada ibu hamil sangat penting dilakukan,” terang Agus.

Selain tantangan penemuan kasus baru, Dinas Kesehatan juga menghadapi kesulitan dalam memantau pasien yang sudah terdiagnosis. Sebanyak 15 penderita HIV dilaporkan gagal follow up karena tidak lagi melakukan kontrol rutin atau berpindah domisili tanpa informasi. Kondisi ini dinilai berisiko menambah angka penularan karena pasien yang tidak berobat memiliki potensi lebih besar untuk menularkan virus kepada orang lain.

“Ketika pasien berhenti berobat, risiko penularan ke orang lain meningkat. Ini menjadi perhatian kami karena perilaku tersebut bisa memperluas penyebaran HIV di masyarakat,” tambahnya.

Dengan jumlah kasus yang terus bertambah setiap tahun, Kabupaten Bangka Selatan kini masuk dalam kategori daerah dengan angka HIV tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Hal ini menjadi peringatan bagi semua pihak untuk memperkuat langkah pencegahan dan edukasi kepada masyarakat.

“Dengan kondisi seperti ini, Bangka Selatan termasuk wilayah dengan angka HIV tertinggi di Babel. Kami terus berupaya melakukan edukasi dan deteksi dini agar penyebaran bisa ditekan,” tegas Agus.

Pemerintah daerah melalui Dinkes P2KB terus melakukan berbagai upaya pencegahan, mulai dari kampanye edukatif, sosialisasi bahaya HIV, hingga pemeriksaan sukarela di Puskesmas dan rumah sakit. Program edukasi ini difokuskan pada masyarakat dengan risiko tinggi, seperti kelompok usia produktif dan mereka yang melakukan hubungan seksual tidak aman.

“Kesadaran masyarakat masih rendah untuk melakukan pemeriksaan HIV. Padahal, pemeriksaan bisa dilakukan secara gratis dan hasilnya bersifat rahasia. Kami mengimbau masyarakat agar tidak takut memeriksakan diri,” kata Agus.

Ia juga menegaskan bahwa pencegahan HIV tidak hanya bisa dilakukan lewat pemeriksaan, tetapi juga melalui perubahan perilaku. Edukasi mengenai pentingnya hubungan seksual yang aman dan setia pada satu pasangan menjadi bagian penting dari kampanye kesehatan yang kini gencar dilakukan.

“Pemeriksaan HIV dapat dilakukan secara gratis di Puskesmas maupun rumah sakit dengan identitas yang dijamin kerahasiaannya. Kami berharap masyarakat mau proaktif agar bisa dilakukan penanganan sejak dini,” pungkasnya.

Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat serta dukungan dari semua pihak, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan berharap angka kasus HIV dapat ditekan dan tidak terus meningkat setiap tahunnya. Pencegahan dan deteksi dini menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan virus mematikan ini. (Sumber : Bangkapos, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *