Kelangkaan BBM dan Dominasi Depo Afuk: Benarkah Ada Kepentingan Tersembunyi?

Bungkam soal Nilai Kontrak dengan Depo Swasta, Pertamina Pangkalbalam Dituding Tutup Informasi

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA BELITUNG) – Misteri nilai kontrak serta urgensi kerjasama antara Depo Pertamina Pangkalbalam dan depo swasta milik Afuk di Belinyu terus menjadi sorotan publik. Hingga kini, dua pihak terkait sama-sama bungkam dan enggan memberikan penjelasan secara terbuka, memicu berbagai dugaan adanya praktik tidak transparan di balik kerjasama tersebut. Selasa (2/12/2025)

Kerjasama antara Pertamina Pangkalbalam dan depo swasta Afuk Belinyu disebut-sebut melibatkan arus bongkar muat serta distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam jumlah besar, bahkan lebih dominan dibanding aktivitas di depo induk Pangkalbalam. Kondisi ini menjadi pertanyaan besar, mengingat Depo Pertamina Pangkalbalam telah beroperasi puluhan tahun sebagai depo utama penyangga distribusi BBM di Bangka Belitung.

banner 336x280

Namun hingga kini, belum ada pernyataan resmi mengenai besaran nilai kontrak kerja sama, urgensi penggunaan depo swasta tersebut, maupun alasan teknis maupun operasional yang mendasari dominasi distribusi dari Belinyu.


Pejabat Pertamina Terkesan Tertutup, Alasan Dinas Luar Diulang-ulang

Sejumlah pejabat di kantor Sales Area Pertamina Bangka Belitung, yang selama ini menjadi rujukan awak media untuk menggali informasi soal pasokan BBM, justru terlihat sangat tertutup ketika pertanyaan mengarah ke hubungan kerja sama dengan depo milik Afuk.

Biasanya, Pertamina responsif dan cepat memberikan rilis ketika pertanyaan hanya menyangkut kebutuhan masyarakat, seperti kuota BBM, penertiban pengerit, atau isu antrean di SPBU. Namun ketika menyangkut kontrak dan urgensi bongkar muat di depo swasta, sikap yang muncul justru kebalikannya.

Saat ditemui di kantor Sales Area Pertamina Bangka Belitung, Senin (1/12/2025), seorang staf admin bernama Nanda menyampaikan bahwa pejabat yang berwenang memberikan keterangan tidak berada di tempat.

Kita harus mengeluarkan jadwal dulu dengan atasan kita karena atasan masih tugas di luar. Kita konfirmasi dulu, kalau atasan kembali ke sini baru kita konfirmasi ulang,” ujar Nanda sembari meminta kontak person wartawan.

Jawaban serupa juga diterima awak media sebelumnya pada Rabu (19/11/2025). Alasan “dinas luar” terdengar berulang sehingga menimbulkan kesan bahwa Pertamina menghindar dari pertanyaan yang lebih sensitif.

Kondisi ini semakin memperkuat dugaan publik bahwa ada sesuatu yang disembunyikan terkait skema kerjasama tersebut.


Dugaan Adanya Kongkalikong dalam Kerjasama

Dominasi bongkar muat dan distribusi BBM dari depo swasta Belinyu menimbulkan pertanyaan besar mengenai motif Pertamina menggunakan fasilitas tersebut secara intensif. Apalagi, kebijakan ini disebut-sebut turut berdampak pada kelangkaan BBM yang terjadi di beberapa kota dan kabupaten beberapa waktu lalu.

Sumber internal yang enggan disebut namanya menyebut bahwa penggunaan depo swasta tersebut tidak mengikuti pola distribusi seperti biasanya. Depo Pangkalbalam sebagai depo induk justru terkesan tidak difungsikan secara optimal, sementara pengiriman dari Belinyu berjalan masif.

Bagi publik, kondisi ini sangat janggal. Secara logika, depo induk dengan kapasitas besar dan fasilitas lengkap seharusnya menjadi titik utama distribusi. Namun faktanya, distribusi melalui depo swasta malah lebih dominan.

Situasi tersebut memunculkan dugaan adanya kongkalikong atau kepentingan tertentu antara oknum di Pertamina dan pihak depo swasta. Dugaan ini semakin menguat karena manajemen Pertamina hingga kini belum memberi penjelasan yang komprehensif ke publik.


Afuk Bantah Kelangkaan BBM Akibat Dominasi Depo Miliknya

Dalam beberapa pemberitaan media online, Afuk — pemilik depo swasta di Belinyu — membantah bahwa kelangkaan BBM yang terjadi beberapa waktu lalu dipicu oleh aktivitas bongkar muat di fasilitas miliknya. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya memberikan jasa sewa penampungan untuk Pertamina.

Mengenai pemberitaan itu tidak benar, kita hanya memberikan jasa penampungan BBM. BBM itu milik Pertamina,” kata Afuk dalam salah satu pemberitaan.

Meski demikian, Afuk tidak menjelaskan lebih jauh mengenai besaran kontrak, mekanisme kerja sama, atau alasan Pertamina lebih dominan menggunakan depo miliknya dibandingkan fasilitas resmi di Pangkalbalam.

Bantahan Afuk tetap tidak mampu menepis keraguan publik, apalagi ketika kondisi di lapangan menunjukkan bahwa distribusi dari Belinyu berjalan begitu masif hingga memicu pertanyaan mengenai urgensinya.


Publik Menunggu Transparansi Pertamina

Hingga kini, Pertamina belum memberikan pernyataan resmi terkait:

  • berapa nilai kontrak dengan depo swasta Afuk,

  • mengapa distribusi melalui Belinyu begitu dominan,

  • serta apakah keputusan tersebut sesuai dengan standar operasional Pertamina.

Ketertutupan informasi dari manajemen Pertamina justru memperbesar spekulasi. Publik berharap Pertamina memberikan penjelasan lengkap agar isu dugaan kongkalikong dapat diluruskan.

Jika tidak, kecurigaan publik akan terus berkembang, dan kepercayaan terhadap lembaga distribusi energi negara akan semakin menurun.

Hingga laporan ini diturunkan, pertanyaan mengenai urgensi dan kesepakatan kerja sama antara Pertamina Pangkalbalam dan depo swasta Afuk tetap belum terjawab. (Sumber : Babel Aktual, Editor : KBO babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *