Kualitas Udara Pangalpinang Memburuk, PM2.5 Tembus 79,4! DLHK Imbau Warga Pakai Masker N95

Udara Pangkalpinang Tercemar Partikel Halus, DLHK Babel Uji 12 Titik dan Ingatkan Bahaya ISPA

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Kualitas udara di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dilaporkan memburuk akibat paparan kabut asap yang semakin menebal. Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker yang sesuai saat beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan. Selasa (13/9/2026)

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengungkapkan, hasil pengujian laboratorium menunjukkan konsentrasi partikel halus Particulate Matter (PM) 2.5 di Pangkalpinang telah melampaui baku mutu yang disebutkan sebesar 55 mikrogram per meter kubik normal (µg/Nm³).

banner 336x280

Hasil pengukuran untuk periode 30 September 2026 selama 24 jam mencatat angka PM2.5 sebesar 68,2 dan 79,4 µg/Nm³. Angka tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi partikel halus di udara telah melewati ambang batas yang digunakan dalam laporan pengujian tersebut.

Kondisi ini menjadi perhatian karena PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi berpotensi memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.

Kepala DLHK Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Amransyah Muslimin, mengatakan kualitas udara di Pangkalpinang belum menunjukkan perbaikan. Pihaknya masih memantau perkembangan kabut asap sekaligus menindaklanjuti permintaan pemerintah kota untuk melakukan pengujian tambahan.

“Hasil uji laboratorium DLHK Provinsi Kepulauan Babel, kualitas udara di Pangkalpinang untuk PM2.5 telah melewati ambang batas baku mutu, yaitu 68,2 dan 79,4 mikrogram/Nm³. Parameter baku mutu 55 mikrogram/Nm³,” jelas Amransyah kepada media, Senin (12/10/2026).

Kebakaran Lahan Serdang Diduga Memperburuk Kondisi Udara

Amransyah menjelaskan, salah satu sumber asap yang diduga memperburuk kualitas udara di Pangkalpinang adalah kebakaran lahan di Dusun Serdang, Kabupaten Bangka Selatan.

Asap dari kebakaran tersebut diperkirakan menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Pangkalpinang. Kondisi ini menjadi perhatian karena partikel asap dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara meskipun sumber kebakaran berada di daerah lain.

“Sepertinya makin parah, mungkin dampak langsung kebakaran Dusun Serdang, Simpang Rimba. Ini kami juga lagi uji lagi atas permintaan Pemerintah Kota Pangkalpinang sebanyak 12 titik sampling dan sedang proses,” ujarnya.

DLHK Babel saat ini melakukan pengujian tambahan di 12 titik pengambilan sampel di wilayah Pangkalpinang. Pemeriksaan tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih lengkap mengenai sebaran pencemaran udara dan tingkat konsentrasi partikel halus di sejumlah lokasi.

Hasil pengujian lanjutan juga diperlukan untuk mendukung evaluasi kondisi lingkungan serta menentukan langkah tindak lanjut yang sesuai berdasarkan data pengukuran.

Selain kebakaran lahan lokal, faktor lain yang disebut turut memengaruhi kondisi udara di Bangka Belitung adalah pergerakan asap dari kebakaran gambut di Kalimantan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Amransyah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bangka Belitung juga menyampaikan bahwa angin membawa asap dari kebakaran di wilayah tersebut hingga melewati Bangka Belitung.

Dengan demikian, kabut asap yang menyelimuti wilayah Babel diduga berasal dari kombinasi kebakaran di daerah setempat dan asap kiriman dari luar wilayah.

Musim Hujan Diperkirakan Belum Merata

Faktor cuaca turut menjadi perhatian dalam penanganan kabut asap. Amransyah menyampaikan bahwa berdasarkan perkiraan yang dibahas dalam rapat, musim hujan di Bangka Belitung diperkirakan mulai terjadi pada akhir November.

Hujan pada awal November masih berpeluang turun, tetapi diperkirakan belum merata di seluruh wilayah. Sementara itu, puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Januari.

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu tetap waspada terhadap kemungkinan berlanjutnya kabut asap, terutama apabila kebakaran lahan belum sepenuhnya tertangani dan hujan belum turun secara merata.

Meski hujan dapat membantu mengurangi sebagian partikel di udara, penanganan sumber kebakaran tetap menjadi langkah penting untuk mencegah munculnya asap baru.

Warga Diimbau Menggunakan Masker N95

Untuk mengurangi risiko paparan partikel halus, DLHK Babel mengimbau masyarakat menggunakan masker N95 saat berada di luar ruangan.

Masker N95 yang digunakan dengan benar dapat membantu menyaring partikel halus, termasuk PM2.5. Masyarakat juga disarankan membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan ketika kabut asap terlihat tebal atau kualitas udara memburuk.

Kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih. Anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki asma atau penyakit paru-paru sebaiknya mengurangi paparan asap dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gejala yang memburuk.

Masyarakat juga dapat mengurangi masuknya asap ke dalam rumah dengan menutup jendela saat kondisi udara di luar memburuk, sepanjang kondisi di dalam ruangan tetap memiliki ventilasi yang memadai.

Selain langkah perlindungan individu, masyarakat diharapkan tidak melakukan pembakaran terbuka yang dapat menambah konsentrasi asap di lingkungan.

DLHK Terus Pantau Perkembangan Kabut Asap

Amransyah menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan kualitas udara dan akan melaporkan hasil pengujian kepada pimpinan untuk memperoleh arahan tindak lanjut.

Pengujian tambahan di 12 titik Pangkalpinang menjadi bagian dari upaya memperoleh data terbaru mengenai kondisi udara di ibu kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tersebut.

Hasil pemeriksaan itu diharapkan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan langkah penanganan yang diperlukan, termasuk koordinasi dengan instansi terkait untuk mengendalikan sumber asap dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat.

Dengan hasil pengukuran PM2.5 yang telah melampaui angka baku mutu dalam laporan tersebut, kewaspadaan publik perlu ditingkatkan sembari menunggu hasil pemantauan terbaru.

Penanganan kabut asap tidak hanya bergantung pada imbauan penggunaan masker, tetapi juga memerlukan upaya pengendalian kebakaran lahan, pemantauan kualitas udara secara berkala, serta penyampaian informasi yang jelas kepada masyarakat.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan bersama-sama mengurangi sumber pencemaran dan mengikuti perkembangan informasi resmi agar risiko kesehatan akibat paparan kabut asap dapat diminimalkan. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed