KBOBABEL.COM (BANGKA TENGAH) – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kepulauan Bangka Belitung kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan pesisir dengan menginisiasi penanaman 2.500 batang mangrove di kawasan Pantai Penyak Duri–Bakong, Desa Batu Beriga, Kecamatan Lubuk Besar, Kabupaten Bangka Tengah, Sabtu (20/12/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata dirasakan masyarakat pesisir. Senin (22/12/2025)
Penanaman mangrove tersebut melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari warga Desa Batu Beriga, kelompok anak muda sahabat WALHI, hingga sejumlah komunitas lingkungan dan sosial. Beberapa komunitas yang terlibat di antaranya KOPASSAS, Green Generation, serta Komunitas Vespa Bangka Belitung. Kolaborasi lintas elemen ini menunjukkan kepedulian bersama terhadap perlindungan ekosistem pesisir yang semakin terancam.
Manager Advokasi dan Kampanye WALHI Kepulauan Bangka Belitung, Regi Yoga, mengatakan penanaman 2.500 batang mangrove ini bertujuan untuk mencegah abrasi pantai serta mengurangi risiko banjir rob yang kerap melanda wilayah pesisir Bangka Belitung. Menurutnya, mangrove memiliki peran penting sebagai pelindung alami garis pantai dari hempasan gelombang laut.
“Ini adalah salah satu bentuk mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim global yang membuat wilayah pesisir Bangka Belitung sangat rentan terhadap berbagai ancaman, seperti sedimentasi, abrasi, maupun banjir rob akibat gelombang ekstrem dan rusaknya ekosistem pesisir,” ujar Regi Yoga, Minggu (21/12/2025).
Regi menjelaskan, berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu permukaan bumi secara global telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius sejak era praindustri. Kondisi tersebut menjadi peringatan serius bagi seluruh negara, termasuk Indonesia, untuk segera melakukan langkah-langkah penyelamatan lingkungan.
Ia menambahkan, memasuki era industrialisasi dan meningkatnya aktivitas manusia terhadap lingkungan, pada periode 2021 hingga 2040 mendatang, suhu bumi diperkirakan akan melampaui ambang batas kritis 1,5 derajat Celsius. Jika hal ini terjadi, dampaknya akan sangat signifikan terhadap ekosistem dan kehidupan manusia, terutama di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
“Terdapat berbagai aktivitas manusia, terutama sektor industri, yang berkontribusi besar terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca. Mulai dari industri energi, pertambangan, penggunaan bahan bakar untuk kendaraan, hingga deforestasi dan alih fungsi lahan. Semua ini menyebabkan hutan kehilangan fungsi ekologisnya sebagai penyerap karbon dan bahkan berubah menjadi sumber emisi,” tutur Regi.
Desa Batu Beriga sendiri diketahui berada di pesisir timur Pulau Bangka. Sekitar 90 persen masyarakat desa tersebut menggantungkan hidupnya pada kelestarian ekosistem laut, baik sebagai nelayan maupun pelaku usaha berbasis sumber daya pesisir. Kerusakan lingkungan laut dan pesisir secara langsung berdampak pada perekonomian warga.
Selain ancaman perubahan iklim, Regi mengungkapkan bahwa masyarakat Batu Beriga juga dihadapkan pada berbagai rencana pembangunan yang berpotensi mengancam ruang hidup mereka. Di antaranya adalah rencana penambangan laut serta pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang dinilai dapat memperparah tekanan terhadap lingkungan pesisir.
“Sulitnya memprediksi perubahan cuaca di laut memang menjadi tantangan tersendiri bagi nelayan Desa Batu Beriga. Selain itu, permukiman kami yang berada tepat di pinggiran pesisir juga sangat rentan terhadap abrasi,” ungkap Regi.
Senada dengan itu, salah seorang nelayan Batu Beriga, Dariyus, menyatakan bahwa selain pemanasan global, terdapat ancaman lain yang terus menghantui ruang hidup masyarakat pesisir. Ia menyinggung masih adanya zona tambang laut dalam Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) yang memuat Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT Timah.
“Selain itu, ada juga rencana pembangunan PLTN di Pulau Kelasa atau Gelasa. Tentunya ini sangat mengancam keberlangsungan hidup nelayan dan generasi kami yang akan datang,” tegas Dariyus.
Melalui penanaman mangrove ini, WALHI Babel berharap kesadaran kolektif masyarakat dan pemerintah semakin meningkat untuk melindungi ekosistem pesisir. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai penahan abrasi, tetapi juga sebagai habitat biota laut, penyerap karbon, serta benteng alami bagi kehidupan masyarakat pesisir Bangka Belitung di tengah ancaman perubahan iklim dan eksploitasi sumber daya alam. (Sumber : suarapos.com, Editor : KBO Babel)

















