KBOBABEL.COM (KOBA, BANGKA TENGAH) — Kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak kembali mengguncang Kabupaten Bangka Tengah. Seorang gadis berusia 15 tahun diduga menjadi korban pencabulan pamannya sendiri berinisial W, yang diketahui bekerja sebagai pegawai salah satu bank swasta di Kecamatan Koba. Akibat perbuatan tersebut, korban kini diketahui telah hamil lima bulan. Kamis (22/1/2026)
Peristiwa memilukan ini terungkap setelah keluarga korban menaruh kecurigaan terhadap kondisi kesehatan korban yang kerap mengeluh sakit dalam beberapa bulan terakhir. Korban yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah itu beberapa kali dibawa berobat ke dokter oleh pihak keluarga.
“Kami curiga karena dia sering sakit. Setelah dibawa ke dokter dan diperiksa secara medis, ternyata dia sudah hamil lima bulan,” ungkap bibi korban kepada awak media, Rabu (21/1/2026), dengan suara bergetar.
Dari hasil pemeriksaan dan pengakuan korban kepada keluarga, pelaku dugaan pencabulan adalah pamannya sendiri, W. Selama ini, pelaku diketahui tinggal dan berinteraksi dekat dengan korban, bahkan telah dianggap layaknya ayah oleh korban.
“Selama ini pelaku dianggap seperti ayah sendiri oleh korban. Kami benar-benar tidak menyangka perbuatan bejat itu dilakukan oleh orang yang seharusnya melindungi,” ujar bibi korban.
Mengetahui kejadian tersebut, keluarga korban langsung mengambil langkah hukum dengan melaporkan kasus ini ke Polres Bangka Tengah. Menurut keterangan keluarga, setelah laporan dibuat, pelaku sempat melarikan diri.
“Kami bersama keluarga langsung melaporkan tersangka W ke Polres Bangka Tengah. Informasi yang kami dapat, pelaku sempat kabur, tapi beberapa hari kemudian sudah ditangkap,” jelasnya.
Namun, proses hukum yang berjalan tidak sepenuhnya mulus. Keluarga korban mengaku mendapat tekanan dan intimidasi dari pihak keluarga pelaku agar laporan tersebut dicabut.
“Beberapa kali keluarga tersangka mendatangi kami, tanpa rasa bersalah, tanpa permintaan maaf, justru mendesak agar laporan dicabut,” kata bibi korban sambil menahan tangis.
Lebih memprihatinkan lagi, keluarga korban mengaku mendapat perlakuan kasar dari salah satu pihak keluarga pelaku yang disebut memiliki jabatan atau pangkat tertentu.
“Kami merasa sangat terintimidasi. Ada keluarga pelaku yang berpangkat, bersikap kasar dan memaksa saya serta keluarga mencabut laporan. Ini sangat menekan mental kami,” ungkapnya.
Atas tekanan tersebut, keluarga korban meminta agar intimidasi segera dihentikan. Mereka mengaku masih menahan diri untuk tidak membuka identitas pihak-pihak yang diduga melakukan intimidasi.
“Saya selaku bibi korban meminta keluarga pelaku berhenti mengintimidasi kami. Kami masih bersikap baik dengan tidak mengungkap siapa saja yang mengintimidasi. Jangan paksa kami untuk melaporkan intimidasi itu ke pihak berwajib,” tegasnya.
Keluarga korban kini sangat berharap agar aparat kepolisian, khususnya Polres Bangka Tengah, dapat menangani kasus ini secara profesional, transparan, dan tanpa intervensi dari pihak mana pun.
“Kami berharap polisi bekerja profesional. Intimidasi yang kami terima melibatkan orang-orang yang cukup berpengaruh, tapi kami ingin hukum tetap ditegakkan,” ujarnya.
Sementara itu, saat awak media mencoba mengonfirmasi perkembangan kasus tersebut kepada pihak Humas Polres Bangka Tengah melalui grup WhatsApp media, jawaban yang diterima masih sangat singkat.
“Siap, belum ada perintah dari atas bang,” tulis admin Humas Polres Bangka Tengah.
Kasus ini menjadi sorotan penting terkait kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan yang masih sering terjadi di Kabupaten Bangka Tengah. Kondisi ini juga menyoroti tantangan dalam penegakan hukum, terutama ketika pelaku memiliki posisi sosial atau jabatan yang dianggap berpengaruh.
Aktivis perlindungan anak menyatakan, penanganan kasus seperti ini memerlukan keberanian, ketegasan, dan profesionalisme dari aparat hukum. “Korban anak berhak mendapatkan perlindungan penuh, sementara pelaku harus diproses sesuai hukum tanpa pandang bulu. Intimidasi terhadap keluarga korban tidak boleh memengaruhi jalannya proses hukum,” ujar salah satu aktivis melalui pernyataan tertulis.
Kasus ini kini tengah menjadi perhatian publik dan menunjukkan pentingnya pengawasan, pendidikan, dan pencegahan kekerasan seksual, terutama yang terjadi di lingkungan keluarga sendiri. Polisi diharapkan segera menindaklanjuti laporan ini agar korban mendapatkan keadilan dan perlindungan yang layak. (Sumber : Jurnal Indonesia.co, Editor : KBO Babel)










