
KBOBABEL.COM (JAKARTA) – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemerintah untuk meningkatkan cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional hingga mencapai 90 hari atau setara tiga bulan. Arahan tersebut disampaikan langsung kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam rapat yang digelar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/3/2026). Kamis (4/3/2026)
Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi pasokan energi global.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, saat ini kapasitas cadangan BBM Indonesia masih berada pada kisaran 20 hingga 23 hari. Sementara standar minimal cadangan energi nasional yang ditetapkan pemerintah berada di angka 21 hari.
“Bapak Presiden memberikan arahan agar kita segera menambah kapasitas storage sehingga cadangan BBM nasional bisa mencapai tiga bulan atau sekitar 90 hari,” ujar Bahlil kepada wartawan usai rapat.
Menurut Bahlil, peningkatan kapasitas cadangan energi tersebut akan dilakukan dengan membangun dan menambah fasilitas penyimpanan BBM di sejumlah wilayah strategis di Indonesia. Salah satu wilayah yang sedang dipertimbangkan sebagai lokasi pembangunan fasilitas penyimpanan baru adalah Pulau Sumatera.
Langkah ini dinilai penting untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi yang bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama jika konflik di Timur Tengah semakin meluas dan berdampak pada jalur distribusi minyak dunia.
Ia menjelaskan, saat ini kapasitas maksimum penyimpanan cadangan BBM nasional hanya mampu menampung pasokan sekitar 25 hari. Kondisi tersebut dinilai belum cukup kuat untuk menghadapi kemungkinan gangguan distribusi energi dalam jangka panjang.
Dengan peningkatan kapasitas cadangan hingga tiga bulan, pemerintah berharap Indonesia memiliki ketahanan energi yang lebih kuat serta mampu menghadapi gejolak pasar global tanpa menimbulkan gangguan besar terhadap kebutuhan energi masyarakat.
Meski demikian, Bahlil memastikan bahwa stok BBM nasional saat ini masih dalam kondisi aman dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk menjelang periode arus mudik dan perayaan Hari Raya Idul Fitri.
“Pemerintah menjamin ketersediaan BBM untuk masyarakat, terutama menjelang mudik dan Lebaran. Standar minimal cadangan nasional berada di kisaran 20 sampai 21 hari dan saat ini stok kita masih berada di atas angka tersebut,” jelasnya.
Selain memperkuat cadangan BBM, pemerintah juga mulai menyiapkan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan gangguan pasokan minyak global. Salah satu strategi yang ditempuh adalah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah.
Bahlil menyebutkan, pemerintah telah memutuskan untuk mengalihkan sebagian impor minyak mentah yang sebelumnya berasal dari Timur Tengah ke negara lain, khususnya Amerika Serikat.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi risiko apabila konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak pada jalur distribusi energi internasional, terutama di wilayah Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia.
“Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, impor minyak mentah yang sebelumnya berasal dari Timur Tengah sebagian kita alihkan ke Amerika Serikat dan beberapa negara lain yang tidak berkaitan langsung dengan jalur Selat Hormuz,” kata Bahlil.
Ia menjelaskan, selama ini sekitar 25 persen dari total impor minyak mentah Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah. Sementara sisanya dipasok dari berbagai negara lain, seperti Angola di Afrika, Amerika Serikat, serta Brasil.
Dengan melakukan diversifikasi sumber impor tersebut, pemerintah berharap pasokan energi nasional tetap stabil meskipun terjadi ketegangan geopolitik di kawasan penghasil minyak utama dunia.
Bahlil juga memastikan bahwa hingga saat ini konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran belum memberikan dampak langsung terhadap pasokan BBM di Indonesia.
Menurutnya, dalam jangka waktu satu hingga dua bulan ke depan kondisi pasokan energi nasional masih relatif aman dan belum menunjukkan adanya gangguan yang signifikan.
“Kalau sampai sekarang pasokan belum terganggu. Dalam satu sampai dua bulan ke depan juga masih relatif aman,” ujarnya.
Namun demikian, Bahlil mengakui bahwa jika konflik di Timur Tengah berlangsung dalam waktu lama, maka dampaknya terhadap pasar energi global hampir tidak dapat dihindari.
“Kalau perangnya berlangsung lama, tentu akan berdampak. Itu hampir pasti karena Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi minyak dunia,” katanya.
Karena itu, pemerintah menilai langkah memperkuat cadangan energi nasional menjadi sangat penting sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga stabilitas pasokan BBM di dalam negeri.
Dengan cadangan energi yang lebih besar, Indonesia diharapkan mampu menghadapi potensi gangguan distribusi global tanpa harus mengalami krisis energi yang dapat berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi maupun kebutuhan masyarakat.
Pemerintah juga berkomitmen terus memantau perkembangan situasi geopolitik global serta menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna memastikan ketersediaan energi nasional tetap terjaga dalam berbagai kondisi. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)










