Penambang Ilegal di Jade Bahrin Bentrok, Kamal Diduga Jadi Aktor di Balik Kekisruhan

Kisruh Tambang Ilegal Jade Bahrin: Kelompok Kamal Dituding Langgar Kesepakatan, Ratusan Penambang Nyaris Bentrok

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA) — Konflik antarpenambang timah ilegal pecah di kawasan aliran Sungai (DAS) Jade Bahrin, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Sabtu (11/10/2025). Kericuhan itu bukan dipicu oleh penertiban aparat, melainkan karena adanya persaingan dan pelanggaran kesepakatan di antara sesama pelaku tambang. Senin (13/10/2025)

Kisruh bermula saat kelompok tambang yang dikendalikan oleh seorang koordinator bernama Kamal diduga melanggar kesepakatan operasional yang telah disetujui bersama para penambang di wilayah tersebut. Kamal diketahui mengatur sekitar 40 ponton rajuk jenis tower, sementara di sisi lain terdapat kelompok penambang jenis serbu yang juga beroperasi di kawasan yang sama.

banner 336x280

Dalam sebuah video amatir yang beredar di media sosial, tampak ratusan penambang jenis serbu mendatangi lokasi tambang tower milik kelompok Kamal CS. Suasana sempat tegang dan hampir berujung bentrok fisik, sebelum akhirnya berhasil diredam oleh warga sekitar dan sejumlah tokoh masyarakat yang datang ke lokasi.

Salah satu sumber di lapangan mengatakan konflik ini dipicu oleh persoalan uang koordinasi yang diberlakukan oleh kelompok Kamal.

“Setiap ponton yang beroperasi di wilayah Jade Bahrin dikenai biaya koordinasi sebesar Rp5.000 per ponton. Tapi sampai sekarang tidak jelas uang itu mengalir ke mana,” ujar sumber yang enggan disebutkan namanya.

Sumber tersebut menambahkan, kebijakan sepihak itu membuat banyak penambang kecil merasa dirugikan dan memicu kemarahan.

“Masalahnya, Kamal memungut uang, tapi tidak ada jaminan keamanan seperti yang dijanjikan. Padahal kami bayar rutin setiap hari,” katanya.

Tambang timah ilegal di kawasan Jade Bahrin sebenarnya pernah ditertibkan oleh aparat gabungan dari Unit Tindak Tertentu (Tipiter), Satreskrim Polres Bangka, dan Polsek Merawang. Saat itu, ratusan ponton apung dihentikan paksa dan para penambang diminta meninggalkan lokasi. Namun, hanya berselang beberapa minggu, aktivitas tambang kembali marak seolah tak tersentuh hukum.

Penertiban itu dilakukan setelah beredar sebuah buku aturan internal tambang yang mencantumkan nama Kamal sebagai koordinator utama. Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa Kamal menjamin keamanan para penambang dan menjembatani koordinasi dengan pihak tertentu agar aktivitas tidak diganggu aparat. Buku itu sempat viral di sejumlah grup WhatsApp para penambang dan menjadi bahan perbincangan luas.

Dari hasil penelusuran tim media, selain Kamal, terdapat beberapa nama lain yang juga berperan sebagai koordinator lapangan dan pembeli hasil tambang di kawasan tersebut. Sejumlah peralatan tambang jenis ponton dan serbu kini turut menjadi perhatian dalam penyelidikan aparat. Meski begitu, hingga kini belum ada tindakan hukum yang berarti.

Pihak kepolisian sendiri masih enggan memberikan keterangan resmi terkait perkembangan kasus tambang ilegal di Jade Bahrin. Namun, sejumlah sumber internal menyebut, penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap siapa aktor utama di balik jaringan tambang ilegal yang telah merusak kawasan hutan mangrove dan meracuni aliran sungai tersebut.

“Saat ini sedang dikumpulkan bukti dan informasi di lapangan. Kami masih telusuri keterlibatan pihak-pihak tertentu,” ujar salah satu petugas kepolisian yang enggan disebutkan namanya ketika dikonfirmasi, Jumat (10/10/2025).

Sementara itu, perangkat Desa Jade Bahrin, Basali, mengaku sudah lama melaporkan aktivitas tambang ilegal di wilayahnya kepada berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Namun, hingga kini tak ada tindakan tegas yang terlihat.

“Kami sudah kirim laporan ke kecamatan, Polsek, Polres, hingga ke Gubernur dan Polairud. Tapi sepertinya laporan itu kandas di jalan,” ujar Basali dengan nada kecewa.

Ia menegaskan, masyarakat desa telah resah karena aktivitas tambang tersebut tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memicu konflik sosial.

“Sekarang bukan cuma rusak alam, tapi juga warga saling berselisih. Ini sudah parah,” tambahnya.

Sejumlah warga di sekitar DAS Jade Bahrin juga membenarkan adanya dugaan keterlibatan oknum aparat dalam melindungi aktivitas tambang ilegal tersebut. “Kamal ini bukan orang baru. Dia punya jaringan luas dan diduga dekat dengan beberapa oknum penegak hukum. Makanya sulit disentuh,” ungkap salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Warga berharap pemerintah dan aparat kepolisian segera bertindak tegas untuk menghentikan kegiatan tambang ilegal tersebut sebelum menimbulkan konflik yang lebih besar.

“Kalau dibiarkan terus, ini bisa pecah jadi keributan besar antarpenambang. Harus ada ketegasan dari pihak berwenang,” tegas warga lainnya.

Hingga berita ini diturunkan, aktivitas tambang di Jade Bahrin dilaporkan masih berlangsung meski dalam kondisi lebih hati-hati pasca kericuhan. Aparat disebut tengah melakukan pemantauan lapangan, sementara masyarakat menunggu langkah konkret dari pihak berwenang untuk mengakhiri praktik tambang ilegal yang telah lama menjadi sumber masalah di kawasan tersebut. (Sumber : Camera Jurnalis, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *