KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis subsidi maupun non-subsidi di wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung semakin mempersulit aktivitas masyarakat. Dalam beberapa hari terakhir, warga mengeluhkan antrean panjang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), terbatasnya stok, hingga harga eceran yang melambung tinggi. Kondisi ini dirasakan di seluruh kabupaten/kota, terutama Pangkalpinang dan Sungailiat yang menjadi pusat pergerakan ekonomi dan transportasi. Rabu (19/11/2025)
Firman (40), warga Kampak, Pangkalpinang, menjadi salah satu yang merasakan langsung dampak kelangkaan tersebut. Ia terpaksa membeli BBM eceran dengan harga jauh di atas harga resmi akibat tidak mampu menunggu antrean panjang di SPBU.
“Akhirnya dapat eceran Rp 18.000 per liter, saya beli Rp 25.000 sekitar 1,5 liter,” ungkapnya, Selasa (18/11/2025) malam.
Firman menuturkan, SPBU di wilayah tempat tinggalnya tutup lebih cepat dari biasanya. “SPBU dekat rumah di Kampak sudah tutup pukul 18.00 WIB. Biasanya masih buka sampai lebih malam, tapi sekarang cepat sekali tutup karena habis,” ujarnya. Karena mendesak harus mengisi BBM untuk kendaraan, Firman mencoba mencari alternatif di SPBU lain.
Namun upayanya tidak mudah. Ia pergi ke SPBU depan Samsat, tetapi antrean sudah mengular hingga satu kilometer, bahkan dibagi menjadi dua baris.
“Tak mungkin lama menunggu karena baru pulang kerja, mau tak mau cari yang ketengan,” katanya. Membeli BBM eceran menjadi pilihan terakhir meski harganya jauh lebih mahal.
Firman mengaku situasi di wilayah lain tidak lebih baik. Di Sungailiat, kondisi antrean bahkan lebih parah dibanding Pangkalpinang.
“Di Bangka induk antreannya sepanjang jalan, sampai malam. Bahkan, eceran tak ada. Saya tadi langsung balik ke Pangkalpinang,” bebernya.
Keluh kesah serupa datang dari warga lainnya, David, yang biasanya menggunakan BBM non-subsidi untuk menghindari antrean Pertalite. Namun kelangkaan kali ini turut berdampak pada stok Pertamax dan jenis BBM non-subsidi lainnya.
“Biasanya kalau Pertalite antre, saya langsung ambil Pertamax, non-subsidi. Sekarang malah Pertamax kosong hampir semua SPBU,” ujarnya.
Warga pun semakin tertekan karena ketidakpastian ketersediaan BBM yang berdampak pada aktivitas harian, pekerjaan, hingga mobilitas ekonomi. Banyak pengendara terpaksa mengatur ulang waktu bepergian, bahkan sebagian memilih meninggalkan kendaraan di rumah karena tidak mendapat BBM.
Tanggapan Pertamina: Suplai Ditambah 13 Persen
Menanggapi kelangkaan yang terjadi, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel memastikan bahwa pihaknya telah melakukan penyesuaian suplai BBM untuk wilayah Kepulauan Bangka. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Rusminto Wahyudi, menyampaikan bahwa penyaluran Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) atau Pertalite mengalami peningkatan signifikan pada November 2025.
“Penyaluran JBKP di Wilayah Bangka pada November 2025 telah dilakukan peningkatan suplai sebesar 13 persen dari rata-rata penyaluran bulanan sebelumnya,” jelas Rusminto.
Selain penambahan suplai, Pertamina juga menginstruksikan SPBU di wilayah Bangka untuk memperpanjang waktu operasional agar dapat melayani masyarakat lebih optimal. “Beberapa SPBU bahkan melayani hingga 24 jam,” ujarnya. Meski demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah SPBU masih terpaksa tutup lebih cepat karena stok yang cepat habis akibat lonjakan permintaan.
Pertamina menegaskan komitmen mereka untuk menjaga stabilitas pasokan BBM di daerah tersebut. “
Pertamina berkomitmen menjaga pasokan BBM di Kepulauan Bangka agar selalu aman. Kami memastikan penyaluran berjalan sesuai regulasi dan mengimbau masyarakat untuk menggunakan QR Code Subsidi Tepat saat melakukan pembelian BBM subsidi,” kata Rusminto.
Masyarakat Harapkan Kepastian Stok dan Pengawasan Ketat
Di tengah kondisi kelangkaan yang meresahkan, masyarakat berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah maupun Pertamina untuk menormalkan kembali pasokan BBM. Warga menilai perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap distribusi agar tidak terjadi penimbunan maupun penyalahgunaan BBM subsidi.
Selain itu, masyarakat juga meminta agar Pertamina memperbanyak SPBU yang beroperasi 24 jam selama masa krisis distribusi. Penambahan mobil tangki suplai dan pemerataan distribusi ke SPBU di daerah pinggiran menjadi salah satu harapan yang disampaikan warga.
Kelangkaan BBM yang terjadi di Bangka Belitung menunjukkan bahwa masalah distribusi energi masih menjadi pekerjaan besar di wilayah kepulauan. Selama pasokan belum stabil, masyarakat harus berhadapan dengan antrean panjang, harga eceran tinggi, serta ketidakpastian dalam memenuhi kebutuhan transportasi sehari-hari. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)













