KBOBABEL.COM (BAGHDAD) – Operasi antikorupsi besar-besaran yang digelar pemerintah Irak kembali mengungkap temuan mengejutkan. Aparat berhasil menyita uang tunai senilai sekitar USD20 juta atau lebih dari Rp361 miliar, serta 5 kilogram emas, yang diduga merupakan hasil tindak pidana korupsi dan disembunyikan di dalam 11 galon air minum. Rabu (8/7/2026)
Aset tersebut diduga milik mantan Wakil Menteri Perminyakan Irak untuk Urusan Pengolahan, Adnan Al-Jumaili, yang kini menjadi salah satu tersangka utama dalam kasus korupsi yang sedang ditangani otoritas setempat.
Menurut keterangan Dewan Yudisial Tertinggi Irak, penyitaan dilakukan setelah hakim investigasi di Pengadilan Kriminal Pusat untuk Pemberantasan Korupsi mengeluarkan perintah penggeledahan dan penyitaan terhadap aset yang diduga berasal dari praktik korupsi.
Dalam operasi tersebut, petugas menemukan uang tunai dalam jumlah sangat besar yang disembunyikan secara rapi di dalam galon-galon air minum di sebuah rumah milik Al-Jumaili di Kota Tikrit. Selain uang tunai, aparat juga menyita sekitar 5 kilogram perhiasan emas yang diduga merupakan bagian dari hasil kejahatan.
Temuan itu diumumkan secara resmi oleh Dewan Yudisial Tertinggi Irak pada Senin (6/7) waktu setempat, sebagaimana dikutip dari Anadolu.
Hakim penyelidik menyebutkan bahwa penyitaan dilakukan setelah proses penyelidikan yang berlangsung cukup panjang. Tim investigasi menelusuri berbagai aliran dana yang diduga berasal dari penyimpangan proyek-proyek pemerintah yang melibatkan Al-Jumaili bersama sejumlah pihak lainnya.
“Operasi ini merupakan hasil dari upaya intensif untuk melacak aset dan keuntungan finansial yang diperoleh melalui penyimpangan dalam pelaksanaan proyek-proyek pemerintah,” demikian keterangan otoritas peradilan Irak.
Dalam penggeledahan terbaru, aparat menyita tambahan sekitar 25 miliar dinar Irak atau setara hampir USD19 juta, ditambah USD1 juta dalam bentuk mata uang Amerika Serikat.
Dengan penyitaan tersebut, total aset yang berhasil diamankan dalam penyelidikan terhadap Al-Jumaili kini mencapai sekitar 127 miliar dinar Irak, ditambah USD24 juta uang tunai, serta berbagai aset lain berupa properti, kendaraan mewah, dan emas.
Otoritas menyatakan seluruh aset tersebut kini berada di bawah penyitaan negara sebagai barang bukti sambil menunggu proses hukum lebih lanjut.
Adnan Al-Jumaili sebelumnya diberhentikan dari jabatannya sebagai Wakil Menteri Perminyakan Irak pada 2 Juni 2026. Beberapa pekan setelah pencopotannya, tepatnya pada 28 Juni 2026, ia resmi ditangkap aparat antikorupsi.
Penangkapan Al-Jumaili merupakan bagian dari operasi besar yang menyasar praktik korupsi di lingkungan pemerintahan Irak. Dalam operasi yang sama, aparat menangkap 67 orang, termasuk sejumlah anggota parlemen serta pejabat pemerintahan.
Beberapa di antara mereka merupakan pejabat yang sebelumnya memiliki kekebalan hukum. Namun, setelah status perlindungan hukumnya dicabut, aparat bergerak melakukan penangkapan dan penyelidikan.
Dewan Yudisial Tertinggi Irak menegaskan bahwa penyidikan terhadap kasus ini masih terus berlangsung. Aparat masih memburu sejumlah tersangka lain yang diduga ikut menikmati maupun membantu menyembunyikan hasil tindak pidana korupsi tersebut.
“Penyelidikan akan terus dilakukan hingga seluruh prosedur hukum terhadap semua pihak yang terlibat dapat diselesaikan,” demikian pernyataan resmi dewan.
Kasus ini menjadi salah satu pengungkapan korupsi terbesar di Irak dalam beberapa tahun terakhir. Besarnya nilai aset yang disita menunjukkan dugaan penyalahgunaan anggaran negara dalam jumlah yang sangat signifikan.
Operasi antikorupsi tersebut juga menjadi ujian awal bagi pemerintahan baru Irak yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ali al-Zaidi.
Ali al-Zaidi merupakan sosok pengusaha yang relatif baru dalam dunia politik. Meski minim pengalaman sebagai politisi, ia dipercaya membentuk pemerintahan baru setelah dipilih oleh Kerangka Kerja Koordinasi pada April lalu.
Sejak awal menjabat, Zaidi menjadikan pemberantasan korupsi sebagai salah satu agenda prioritas pemerintahannya. Langkah tersebut diambil karena praktik korupsi telah lama menjadi persoalan serius yang menghambat pembangunan serta menggerus kepercayaan publik terhadap institusi negara.
Selama beberapa dekade terakhir, berbagai pemerintahan di Irak berulang kali berjanji memberantas korupsi. Namun, upaya tersebut dinilai belum memberikan hasil yang signifikan karena kuatnya jaringan kepentingan politik dan birokrasi yang terlibat.
Karena itu, operasi penangkapan puluhan pejabat, termasuk mantan wakil menteri, anggota parlemen, dan penyitaan aset bernilai puluhan juta dolar AS, dipandang sebagai langkah paling agresif yang dilakukan pemerintah Irak dalam beberapa tahun terakhir.
Publik Irak kini menantikan kelanjutan proses hukum terhadap seluruh tersangka, termasuk Adnan Al-Jumaili. Pemerintah berharap penindakan tersebut menjadi titik balik dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang lebih bersih sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum di negara tersebut. (Sumber : Sindonews, Editor : KBO Babel)















