KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) — Berdiri kokoh di kawasan Pantai Tanjung Kalian, Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Menara Suar Tanjung Kalian menjadi salah satu peninggalan sejarah yang hingga kini masih menjalankan fungsi penting bagi pelayaran di Selat Bangka. Sabtu (19/9/2026)
Bangunan yang identik dengan sejarah kolonial Belanda tersebut dibangun pada 1862. Keberadaannya tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan sejarah Bangka Belitung, tetapi juga berperan sebagai fasilitas navigasi untuk membantu kapal-kapal yang melintasi perairan antara Pulau Bangka dan Sumatera.
Lokasi Tanjung Kalian dipilih karena memiliki posisi geografis yang strategis. Kawasan tersebut berada di bagian barat Pulau Bangka dan menghadap langsung ke Kuala Sungsang. Posisi ini membuat mercusuar mudah terlihat dari berbagai arah, khususnya oleh kapal yang melintas di Selat Bangka.
Namun, sejarah Menara Suar Tanjung Kalian ternyata lebih panjang dari tahun pembangunannya yang tercatat pada 1862. Sebelum tahun tersebut, telah berdiri sebuah menara yang menggunakan kerangka besi. Bentuk awalnya lebih sederhana dan tidak setinggi bangunan yang dapat dilihat hingga saat ini.
Pada 1862, Banka Tin Winning (BTW), perusahaan pertambangan timah milik Belanda, melakukan pembangunan kembali dengan mengganti kerangka besi tersebut menjadi bangunan yang lebih tinggi, kokoh dan permanen.
Pembangunan tersebut menggunakan rancangan arsitek asal Inggris yang hingga kini tidak diketahui namanya. Setelah dibangun kembali, menara suar memiliki bentuk silinder atau lingkaran yang semakin mengecil ke arah atas.
Ciri khas lainnya terlihat pada bagian dinding bawah yang dilengkapi jendela berdaun ganda. Struktur tersebut menjadi bagian dari karakter bangunan bersejarah yang masih dapat dilihat hingga sekarang.
Menara Suar Tanjung Kalian memiliki ketinggian sekitar 56 meter. Untuk mencapai bagian puncak, pengunjung maupun petugas harus melewati sebanyak 199 anak tangga.
Rinciannya terdiri atas 162 anak tangga batu, 28 anak tangga kayu dan sembilan anak tangga besi.
Ketinggian menara tersebut membuatnya mampu memberikan jangkauan pandangan yang luas ke wilayah perairan di sekitarnya. Sejak awal keberadaannya, fungsi utama menara suar adalah membantu navigasi kapal yang melintasi Selat Bangka.
Cahaya dari mercusuar menjadi salah satu penanda bagi kapal, khususnya pada malam hari. Keberadaan fasilitas navigasi tersebut membantu kapal mengenali jalur pelayaran dan menghindari potensi bahaya di perairan, termasuk kawasan yang memiliki karang.
Penanggung Jawab Menara Suar Tanjung Kalian, Sudarman, mengatakan fasilitas tersebut hingga kini masih beroperasi dan memiliki peran penting bagi kapal yang keluar maupun masuk melalui Selat Bangka.
“Iya menara suar ini masih terus difungsikan, malah sangat penting bagi panduan kapal-kapal yang melintas di Selat Bangka ini pada malam hari, gak boleh rusaklah,” ujar Sudarman.
Menurutnya, lampu mercusuar dinyalakan pada malam hari dengan pancaran cahaya yang dapat mencapai radius sekitar 25 mil.
“Pancaran sinar lampunya mencapai radius 25 mil dan berputar ulang tiap 10 detik dengan periode terang 0,2 terang dan 4,8 gelap, jadi dapat memandu kapal yang keluar masuk Selat Bangka,” katanya.
Operasional menara suar tersebut juga masih mendapat perhatian dari Kementerian Perhubungan. Sebanyak lima orang petugas secara bergantian menjaga dan memastikan fasilitas navigasi tersebut tetap berfungsi.
Para petugas menjalankan tugas secara bergantian setiap tiga bulan. Menara Suar Tanjung Kalian sendiri tercatat dalam Daftar Suar Indonesia (DSI) dengan nomor 1550.
Selain memiliki fungsi navigasi, bangunan ini juga mempunyai nilai sejarah dan budaya yang penting. Kawasan Menara Suar Tanjung Kalian dilindungi melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
Bangunan tersebut juga telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui Keputusan Bupati Bangka Barat Nomor 188.45/585/2.16.1.1/2018 tentang Penetapan Bangunan Mercusuar Tanjung Kalian sebagai Bangunan Cagar Budaya.
Dengan status tersebut, keberadaan Menara Suar Tanjung Kalian bukan sekadar fasilitas navigasi, tetapi juga menjadi bagian dari aset sejarah yang perlu dijaga kelestariannya.
Di Bangka Barat sendiri terdapat 24 bangunan yang tercatat sebagai bangunan cagar budaya. Menara Suar Tanjung Kalian menjadi salah satu di antaranya dan telah lama menjadi tujuan wisata bagi masyarakat maupun wisatawan yang berkunjung ke Mentok.
Daya tariknya tidak hanya terletak pada usia bangunan, tetapi juga pada nilai sejarah dan posisi kawasan yang menghadap langsung ke Selat Bangka. Dari kawasan tersebut, pengunjung dapat melihat bentang laut sekaligus mengenal bagian dari sejarah perkembangan pelayaran dan pertambangan timah di Bangka.
Keberadaan Menara Suar Tanjung Kalian juga memperlihatkan bagaimana peninggalan masa lalu masih memiliki fungsi hingga saat ini. Bangunan yang lahir pada masa kolonial tersebut tetap digunakan sebagai sarana navigasi, sekaligus menjadi pengingat perjalanan panjang sejarah Bangka Belitung.
Lebih dari 160 tahun sejak pembangunan kembali pada 1862, Menara Suar Tanjung Kalian masih berdiri kokoh. Fungsinya sebagai penuntun kapal dan statusnya sebagai cagar budaya menjadikan bangunan ini memiliki dua peran sekaligus: menjaga keselamatan pelayaran di Selat Bangka dan menyimpan jejak sejarah yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya. (Sumber : Babel Zone, Editor : KBO Babel)

















