KBOBABEL.COM (Pangkalpinang) — Suasana hangat dan penuh antusiasme mewarnai diskusi publik antara bakal calon Wali Kota Pangkalpinang, Adhy Sarphio, dan para mahasiswa dari berbagai kampus di Bangka Belitung. Dalam forum bertajuk “Ngobrol Bareng Calon Pemimpin” yang digelar di Cafe ‘Pasti’, Girimaya Pangkalpinang, Adhy Sarphio menjawab berbagai pertanyaan kritis seputar isu-isu krusial kota: banjir, pengelolaan sampah, kelemahan regulasi, serta perlindungan perempuan dari kekerasan seksual, pada Selasa malam (13/5/2025). Kamis (15/5/2025)
Cafe ‘Pasti’ yang menyatu dengan Kantor DPW Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Pangkalpinang, menjadi lokasi pertemuan pasangan bakal calon (balon) walikota Pangkalpinang, Adhy Sarphio dan Aldi Taher, menjawab soal banjir yang makin sering merendam kawasan permukiman. Adhy menegaskan perlunya perbaikan total pada sistem drainase kota.
“Banjir ini bukan semata soal cuaca, tapi soal tata ruang yang tidak dipatuhi. Kalau saya diberi amanah, kita akan mulai dari audit besar-besaran atas semua izin pembangunan,” tegasnya.
Isu sampah juga mendapat sorotan tajam dari mahasiswa, yang menilai bahwa program kebersihan kota saat ini hanya bersifat seremonial. Adhy mengakui hal tersebut dan menjanjikan sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas serta insentif untuk warga yang aktif dalam pemilahan dan daur ulang.
“Teknologi pengelolaan sampah modern bukan pilihan, tapi keharusan. Kita bisa belajar dari daerah lain yang sudah berhasil mengubah sampah menjadi sumber daya,” ujarnya.
Terkait lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang saat ini dinilai tidak lagi layak dan menimbulkan dampak lingkungan bagi warga sekitar, Adhy menyatakan akan menyiapkan rencana relokasi TPA ke kawasan terpadu yang jauh dari permukiman, dengan standar pengelolaan ramah lingkungan.
“Relokasi TPA akan dibarengi dengan sistem pemrosesan lanjutan seperti landfill sanitary dan fasilitas daur ulang di lokasi baru. Ini bukan hanya soal memindahkan tempat, tapi memperbaiki seluruh sistemnya,” tegasnya.
Dalam segmen regulasi, beberapa mahasiswa mempertanyakan lemahnya penegakan aturan di tingkat lokal. Adhy menjawab bahwa penataan birokrasi dan keberanian untuk bersikap tegas akan menjadi prioritas.
“Peraturan tanpa keberanian menegakkan, hanyalah formalitas. Pangkalpinang butuh pemimpin yang bisa ambil sikap, bukan hanya bikin wacana,” ungkapnya.
Sorotan paling emosional datang ketika seorang mahasiswi bernama Maura, mengangkat isu kekerasan seksual terhadap perempuan yang makin mengkhawatirkan.
Dengan nada serius, Adhy menyatakan komitmennya untuk memperkuat layanan perlindungan perempuan dan anak serta yang menjadi korban. Kekuatan keimanan dalam beragama merupakan pondasi dasar agar seseorang bisa terhindar dari segala bentuk kemaksiatan. Termasuk berdayakan kembali yang namanya remaja masjid atau kegiatan yang memperkuat keimanan untuk agama yang lain dengan membentuk komunitas remaja di rumah ibadah, dan kerja sama dengan lembaga hukum serta organisasi perempuan.
“Kita lahir dari rahim seorang perempuan, yaitu Ibu kita. Sudah selayaknya sebagai manusia yang beriman kita harus memberikan perlindungan kepada mereka yang telah susah payah membesarkan dan mendidik kita sampai sekarang,” tutur Adhy.
“Kita tidak bisa lagi membiarkan kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak yang semakin hari semakin mengkhawatirkan,” lanjutnya.
“Pemerintah harus hadir secara nyata dan melindungi agar tidak akan pernah terjadi lagi kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak di Bumi Serumpun Sebalai, terkhusus Kota Pangkalpinang,” tegas Adhy.
Para mahasiswa menyatakan apresiasi atas keterbukaan Adhy Sarphio dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan tajam mereka, seraya berharap agar janji-janji yang disampaikan benar-benar diwujudkan jika terpilih nanti. (Red/*)