KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Menjelang satu tahun masa kepemimpinan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, berbagai indikator makro ekonomi Provinsi Babel sepanjang 2025 menunjukkan tren yang positif. Data tersebut mengindikasikan adanya perbaikan signifikan di sejumlah sektor, mulai dari pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan, ketimpangan, hingga ketenagakerjaan. Jum’at (17/4/2026)
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Bangka Belitung, Sugeng Arianto, dalam siaran pers yang disampaikan Kamis (16/4/2026), mengungkapkan bahwa kinerja ekonomi Babel mengalami peningkatan yang cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi kumulatif (c-to-c) Babel pada 2025 tercatat sebesar 4,09 persen, meningkat signifikan dibandingkan 2024 yang hanya mencapai 0,77 persen. Peningkatan ini dinilai sebagai sinyal pemulihan ekonomi yang kuat, sekaligus menunjukkan adanya pergerakan sektor riil yang lebih aktif.
Sugeng menjelaskan bahwa salah satu faktor utama pendorong pertumbuhan tersebut adalah meningkatnya aktivitas di sektor pertambangan. Kenaikan aktivitas ini berdampak langsung terhadap peningkatan pendapatan masyarakat, yang pada akhirnya turut mendorong konsumsi rumah tangga sebagai salah satu komponen utama pertumbuhan ekonomi.
“Peningkatan aktivitas pertambangan memberikan efek berganda, tidak hanya pada pendapatan masyarakat, tetapi juga pada penguatan daya beli dan konsumsi rumah tangga,” ujarnya.
Selain pertumbuhan ekonomi, indikator kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Tingkat kemiskinan di Babel tercatat mengalami penurunan secara konsisten sepanjang 2025. Pada September 2024, angka kemiskinan berada di level 5,08 persen, kemudian turun menjadi 5,00 persen pada Maret 2025, dan kembali menurun menjadi 4,77 persen pada September 2025.
Penurunan angka kemiskinan ini tidak terlepas dari berbagai faktor yang saling mendukung. Sugeng menyebut bahwa kondisi ekonomi makro yang stabil, kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP), serta inflasi yang relatif terkendali menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Selain itu, intervensi pemerintah melalui program perlindungan sosial juga berkontribusi signifikan. Peningkatan belanja bantuan sosial serta implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai mampu menjaga konsumsi masyarakat, khususnya kelompok rentan, sehingga membantu menekan angka kemiskinan.
Di sisi lain, pemerataan ekonomi di Babel juga menunjukkan perbaikan. Hal ini tercermin dari penurunan Indeks Gini Ratio yang mengukur tingkat ketimpangan pendapatan. Pada September 2024, Gini Ratio tercatat sebesar 0,235, kemudian turun menjadi 0,222 pada Maret 2025 dan kembali menurun menjadi 0,214 pada September 2025.
“Penurunan ini menunjukkan bahwa distribusi pengeluaran masyarakat semakin merata, khususnya pada kelompok 40 persen terbawah. Artinya, hasil pembangunan mulai dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” jelas Sugeng.
Ia menambahkan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi, terutama di sektor pertambangan, serta program perlindungan sosial turut memperluas akses kelompok berpendapatan rendah terhadap sumber daya ekonomi. Hal ini menjadi faktor penting dalam menurunkan tingkat ketimpangan secara bertahap.
Dari sisi ketenagakerjaan, kondisi di Babel juga mengalami perbaikan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat menurun dari 4,63 persen pada Agustus 2024 menjadi 4,45 persen pada Agustus 2025. Penurunan ini mencerminkan meningkatnya penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor.
Salah satu program yang berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang melibatkan tenaga kerja lokal dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan pengangkatan dan pelantikan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di berbagai sektor, termasuk tenaga teknis, tenaga kesehatan, dan guru.
Langkah tersebut dinilai mampu memperluas kesempatan kerja formal sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah.
Secara keseluruhan, capaian indikator makro ekonomi Babel sepanjang 2025 menunjukkan bahwa pertumbuhan yang terjadi tidak hanya bersifat kuantitatif, tetapi juga semakin inklusif. Artinya, pertumbuhan tersebut tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi juga mulai dirasakan oleh masyarakat secara lebih merata.
Meski demikian, sejumlah tantangan tetap perlu menjadi perhatian ke depan, terutama dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi dan memastikan stabilitas sektor-sektor utama. Diversifikasi ekonomi juga menjadi salah satu agenda penting agar ketergantungan terhadap sektor tertentu, seperti pertambangan, dapat dikurangi secara bertahap.
Dengan capaian yang telah diraih, masa satu tahun kepemimpinan Gubernur Hidayat Arsani menjadi momentum evaluasi sekaligus pijakan untuk memperkuat kebijakan pembangunan ke depan. Pemerintah Provinsi Babel diharapkan dapat terus menjaga tren positif ini, sekaligus meningkatkan kualitas pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. (Mung Harsanto/KBO Babel)











