KBOBABEL.COM (BELITUNG TIMUR) — Objek wisata Situ Kolong Minyak di Kabupaten Belitung Timur yang baru beberapa bulan diresmikan kini menuai sorotan tajam. Fasilitas yang dibangun dengan anggaran hampir Rp50 miliar dari APBN melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) itu dilaporkan mengalami kerusakan di sejumlah titik dan bahkan terancam roboh. Rabu (1/4/2026)
Berdasarkan pantauan di lapangan, kondisi infrastruktur di kawasan wisata tersebut memprihatinkan. Sejumlah kerangka tiang penyangga bagian bawah terlihat pecah dan mulai miring. Selain itu, bagian dinding serta lintasan jogging track juga mengalami kerusakan serius, seperti tegel yang terlepas, pecah, hingga retakan panjang yang memanjang di beberapa sisi.
Kerusakan ini memicu kekhawatiran masyarakat, terutama terkait faktor keselamatan pengunjung. Mengingat kawasan ini sebelumnya dipromosikan sebagai destinasi wisata baru hasil revitalisasi lahan bekas tambang, kondisi tersebut dinilai jauh dari harapan.
Situ Kolong Minyak sendiri merupakan bagian dari proyek transformasi lahan eks tambang menjadi ruang publik yang ramah lingkungan. Dengan anggaran yang tergolong besar, masyarakat pun mempertanyakan kualitas material serta proses pengerjaan proyek tersebut.
Sejumlah warga menilai kerusakan yang terjadi dalam waktu singkat mengindikasikan adanya masalah dalam perencanaan maupun pelaksanaan pembangunan. Mereka juga menyoroti pentingnya pengawasan dari pihak terkait agar proyek bernilai miliaran rupiah ini tidak berujung pada pemborosan anggaran negara.
Kepala Dinas PUPR Belitung Timur, Idwan Fikri, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kerusakan di beberapa bagian. Namun, ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh faktor tanah yang masih labil, mengingat kawasan tersebut merupakan bekas tambang.
“Memang ada retakan pada pertemuan plat lantai dengan talut pengisi di bagian depan, hal ini dikarenakan kondisi tanah yang masih labil. Untuk lantai, sebagian batu andesitnya lepas dan pecah,” ujar Idwan.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut. Menurutnya, perbaikan dan pemeliharaan akan segera dilakukan guna mencegah kerusakan semakin parah.
“Insyaallah nanti akan ada pemeliharaan. Kami sudah berkoordinasi agar segera dilakukan penanganan,” tambahnya.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran masyarakat. Banyak pihak menilai bahwa faktor tanah labil seharusnya sudah menjadi pertimbangan sejak tahap perencanaan, sehingga konstruksi yang dibangun mampu menyesuaikan dengan kondisi lahan.
Sementara itu, Bupati Belitung Timur, Kamarudin Muten, hingga kini belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi terkini objek wisata tersebut maupun langkah yang akan diambil pemerintah daerah.
Masyarakat berharap adanya evaluasi menyeluruh terhadap proyek ini, termasuk terhadap kontraktor pelaksana dan pihak pengawas. Hal ini penting untuk memastikan bahwa penggunaan anggaran negara dilakukan secara transparan dan akuntabel.
Selain itu, muncul pula kekhawatiran adanya potensi penyimpangan dalam proyek tersebut. Warga meminta aparat terkait untuk melakukan penelusuran lebih lanjut apabila ditemukan indikasi pelanggaran, termasuk dugaan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur, terutama yang menggunakan dana publik dalam jumlah besar, harus dilakukan dengan perencanaan matang dan pengawasan ketat. Tanpa itu, proyek yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah justru berpotensi menjadi ancaman bagi keselamatan masyarakat.
Dengan kondisi yang ada, pemerintah diharapkan segera mengambil langkah cepat dan tepat agar Situ Kolong Minyak dapat kembali menjadi destinasi wisata yang aman, nyaman, dan layak dikunjungi. (Luise/KBO Babel)
















