KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Bangka Belitung sedang berdiri di persimpangan yang tidak bisa lagi dijawab dengan cara-cara lama. Di satu sisi, timah masih menjadi penopang utama ekonomi daerah. Berdasarkan data BPS Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Januari-Februari 2026, nilai ekspor timah Bangka Belitung mencapai US$281,77 juta, jauh melampaui ekspor nontimah yang sebesar US$74,74 juta. Data ini menegaskan bahwa timah masih memberi napas kuat bagi perekonomian Babel hari ini. Sementara itu, data kunjungan pariwisata memperlihatkan kenyataan yang perlu dibaca dengan jujur. Pada Februari 2026, perjalanan wisatawan nusantara tujuan Bangka Belitung tercatat 360,81 ribu perjalanan, turun 6,65 persen dibanding Januari 2026 yang mencapai 386,53 ribu perjalanan. Tingkat hunian hotel bintang masih berada di kisaran 25-26 persen menunjukkan bahwa sektor pariwisata Babel belum sepenuhnya mampu menghasilkan kontribusi ekonomi yang signifikan.
Kondisi itu semestinya menyadarkan kita bahwa Bangka Belitung tidak bisa terus-menerus merasa aman hanya karena timah masih mengalir. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Bangka Belitung tahun 2025 tumbuh 4,09 persen, meningkat dibanding 2024 yang hanya 0,77 persen. Dari sisi produksi, sumber pertumbuhan terbesar berasal dari industri pengolahan, sedangkan dari sisi pengeluaran berasal dari ekspor barang dan jasa. Tetapi Bank Indonesia pada saat yang sama mencatat bahwa pada triwulan IV 2025, sumber pertumbuhan tertinggi mulai bergeser ke pertanian, kehutanan, perikanan, serta perdagangan besar dan eceran, dengan konsumsi rumah tangga dan investasi yang tetap kuat. Ini memberi pesan yang jelas: Babel sebenarnya sudah memiliki sinyal untuk bergerak ke struktur ekonomi yang lebih seimbang dan lebih tahan lama.
Di titik inilah pembangunan pariwisata berkelanjutan harus ditempatkan sebagai arah strategis, bukan sekadar agenda pelengkap. UN Tourism (2005) menegaskan bahwa pariwisata berkelanjutan harus menyeimbangkan dimensi ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan, menjaga sumber daya alam, menghormati komunitas lokal, serta memastikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat tuan rumah. United Nations DESA juga menempatkan pariwisata berkelanjutan sebagai instrumen penting penciptaan kerja, penguatan budaya lokal, dan peningkatan manfaat ekonomi bagi wilayah kepulauan dan pesisir, sebagaimana tercermin dalam target SDG 8.9, 12.b, dan 14.7. Dalam konteks Bangka Belitung, definisi ini sangat relevan: kita hidup dari pesisir, pulau-pulau kecil, bentang granit, kawasan mangrove, dan warisan geologi yang bernilai tinggi.
Sayangnya, selama ini pembangunan pariwisata Babel masih terlalu sering dipahami sebatas promosi destinasi, festival, atau angka kunjungan. Padahal, pariwisata yang sehat tidak hanya diukur dari berapa banyak orang datang, tetapi juga dari berapa lama mereka tinggal, seberapa besar belanja mereka mengalir ke ekonomi lokal, seberapa kuat masyarakat ikut terlibat, dan seberapa baik kualitas lingkungan tetap terjaga.
Salah satu contoh dari upaya branding pariwisata yang pernah cukup menggemparkan Babel adalah event Toboali City on Fire (TCOF) yang terdiri dari festival budaya, kuliner, komunitas kreatif dan berbagai macam kompetisi yang melibatkan khalayak ramai. Kegiatan ini berlangsung sampai 4 musim pada periode 2016-2019 yang mampu menarik wisatawan domestik hingga mancanegara kala itu. Bahkan TCOF sempat masuk dalam Kalender Event Pariwisata Nasional Kementerian Pariwisata. TCOF menjadi bagian dari upaya Bangka Selatan untuk membangun identitas destinasi berbasis budaya lokal dan kreativitas masyarakat. Hal ini juga sejalan dalam membentuk citra daerah dan promosi pariwisata daerah yang diibaratkan pada sebuah nyala api yang membakar semangat masyarakat Bangka Selatan.

Namun, keberlanjutan event ini tidak bertahan lama karena seiring dengan pergantian kepala daerah yang secara langsung juga diikuti dengan perubahan arah kebijakan dan prioritas pembangunan daerah. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata di Babel masih bergantung pada kepemimpinan politik jangka pendek dan belum sepenuhnya terstruktur dalam sistem pembangunan daerah.
Toboali sendiri mempunyai banyak potensi pariwisata yang dapat diangkat dan dikemas dengan baik, kota ini dikenal dengan julukan Kota Belacan atau terasi tetapi kegiatan pengolahannya belum banyak dikembangkan menjadi atraksi wisata berbasis budaya dan ekonomi kreatif. Apabila kegiatan wisata ini dikembangkan dan dikelola dengan baik dan serius, potensi tersebut tidak hanya memperkuat identitas daerah, tetapi juga dapat memperpanjang waktu tinggal wisatawan serta meningkatkan dampak perekonomian bagi masyarakat lokal.
Apabila pemerintah memang mulai serius menggarap pariwisata berkelanjutan, acara seperti TCOF ini seharusnya dapat dilanjutkan tiap tahunnya dengan mengusung beragam kekayaan budaya dan potensi lokal daerah karena Toboali yang merupakan daerah paling Selatan di pulau Bangka memiliki banyak sekali potensi wisata yang dapat dikembangkan. Selain promosi destinasi, Pemerintah Kepulauan Bangka Belitung juga harus mulai berani untuk mengemas atraksi wisata daerah menjadi pengalaman wisata yang mampu menarik wisatawan agar pariwisata berkelanjutan ini dapat diterapkan dengan baik dan menjadi jalan keluar ekonomi selain sektor pertambangan.
Pengembangan pariwisata berkelanjutan tidak hanya dihadapkan pada promosi dan konsistensi kebijakan, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas lingkungan sebagai modal utama destinasi wisata. Masalah ini menjadi semakin penting jika dikaitkan dengan kualitas ruang hidup kita. Penelitian Erwana, Dewi, dan Rahardyan (2016) menunjukkan bahwa penambangan timah inkonvensional di Bangka Barat memang memberi dampak positif terhadap ekonomi, tetapi pada saat yang sama menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kondisi sosial masyarakat. Temuan ini penting, sebab lingkungan yang rusak bukan hanya soal ekologis, melainkan juga ancaman langsung bagi masa depan pariwisata. Pantai yang tercemar, kolong yang tidak tertata, kawasan pesisir yang penuh tekanan, dan bentang alam yang kehilangan kualitas akan membuat Babel kehilangan modal utamanya sebagai destinasi.
Lebih jauh lagi, penelitian Listiawati, Wibowo, dan Rosyid (2024) tentang pembangunan berkelanjutan berbasis komoditas timah di Bangka Belitung menunjukkan bahwa kontribusi sektor pertambangan terhadap Indeks Pembangunan Berkelanjutan justru paling kecil sekitar 0,17 satuan, jauh di bawah pengaruh Indeks Pembangunan Manusia sebesar 5,9 satuan dan faktor lingkungan sebesar 0,48 satuan. Temuan ini seharusnya menjadi alarm penting bagi arah pembangunan daerah. Masa depan Babel tidak cukup dijaga dengan tingginya ekspor timah, tetapi ditentukan oleh kualitas manusianya dan kualitas lingkungannya. Dan justru di titik itulah pariwisata berkelanjutan menjadi semakin relevan.
Karena itu, mendamaikan timah dan pariwisata harus dimulai dengan cara pandang baru: bekas tambang tidak boleh terus-menerus dibaca sebagai beban, tetapi harus diubah menjadi aset ekonomi baru. Penelitian Meyana, Sudadi, dan Tjahjono (2015) di Kabupaten Bangka menunjukkan bahwa strategi prioritas pengembangan kawasan bekas tambang justru adalah mengembangkan mining tourism sebagai citra destinasi, disusul peningkatan sarana-prasarana umum dan koordinasi lintas-stakeholder. Penelitian itu juga menemukan bahwa areal bekas tambang paling potensial dikembangkan menjadi wisata alam, desa wisata, dan eduwisata. Ini berarti Babel sesungguhnya sudah memiliki arah yang cukup jelas: membangun masa depan dari proses pemulihan kawasan, bukan terus bertahan pada pola eksploitasi.
Contoh nyatanya juga sudah ada di daerah kita sendiri. Penelitian Aryanto dkk. (2022) tentang Open Pit Nam Salu di Belitung Timur menunjukkan bahwa kawasan pascatambang dapat dikembangkan menjadi geowisata berbasis edukasi, konservasi, dan pemberdayaan komunitas. Hal yang sama terlihat dalam penelitian Iswanto dan Feriyanti (2023) tentang Kampung Reklamasi Selingsing, di mana lahan bekas tambang dapat diubah menjadi agro-edu tourism melalui kolaborasi BUMDes dan PT Timah. Dua contoh ini memperlihatkan bahwa Babel bukan tidak mampu; tantangannya terletak pada konsistensi kebijakan, kualitas SDM lokal, penguatan amenitas, dan keberanian menjadikan model baik semacam ini sebagai arus utama pembangunan daerah.
Belitung bahkan telah memiliki panggung internasional melalui Belitong UNESCO Global Geopark. UNESCO menegaskan bahwa Belitong UGG memiliki nilai penting karena bentang granitnya, ekosistem mangrove, 241 pulau di sekitarnya, serta situs Nam Salu Open Pit yang merupakan salah satu lokasi geologi timah paling signifikan di Asia Tenggara. Menjelang revalidasi 2026, Bappeda Provinsi Bangka Belitung menegaskan perlunya rencana aksi konkret lintas sektor, mulai dari perbaikan komunikasi, integrasi warisan alam dan budaya, mitigasi bencana, pembangunan berkelanjutan, pusat informasi, panel edukasi, hingga fasilitas penunjang di geosite. Pemerintah Kabupaten Belitung juga menyatakan bahwa status geopark bukan sekadar simbol pariwisata, tetapi investasi reputasi dan branding global yang harus dijaga melalui kesatuan kebijakan lintas wilayah.
Itulah sebabnya, pembangunan pariwisata berkelanjutan di Bangka Belitung tidak bisa lagi dikerjakan setengah hati. Ia harus hadir dalam tata ruang, dalam reklamasi pascatambang, dalam penguatan desa wisata, dalam pembinaan UMKM, dalam promosi yang terintegrasi, dan dalam kebijakan yang memastikan manfaat ekonomi benar-benar tinggal di daerah. Pariwisata tidak boleh dibiarkan hidup di pinggir meja kebijakan, sementara perhatian utama tetap tersedot pada komoditas yang sewaktu-waktu dapat menurun atau habis. Justru karena timah masih penting hari ini, maka ini adalah saat yang tepat untuk menyiapkan sektor yang bisa menopang Babel lebih lama dan lebih bermartabat.
Pada akhirnya, Bangka Belitung tidak sedang memilih antara timah atau pariwisata. Yang sedang dipertaruhkan adalah cara kita memandang masa depan daerah ini. Jika pembangunan terus bertumpu pada apa yang digali, maka kita hanya sedang memperpanjang usia ketergantungan. Tetapi jika pembangunan mulai bertumpu pada apa yang dijaga – alam, budaya, masyarakat, dan kualitas destinasi – maka Bangka Belitung sedang menulis babak baru yang lebih bermartabat. Timah mungkin masih penting hari ini, tetapi pariwisata berkelanjutan adalah jawaban untuk esok. Dan sejarah selalu berpihak pada daerah yang berani menyiapkan masa depannya, bukan sekadar menghabiskan warisannya.
Rujukan
- Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Perkembangan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Januari 2026 dan Februari 2026.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Perjalanan Wisatawan Nusantara Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Januari 2026 dan Februari 2026.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Ekspor Timah dan Nontimah Kepulauan Bangka Belitung Berdasarkan HS 2022, 2026.
- Badan Pusat Statistik Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Berita Resmi Statistik Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2025.
- Bank Indonesia. Laporan Perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, 2025/2026.
- UN Tourism. Making Tourism More Sustainable: A Guide for Policy Makers, 2005.
- United Nations DESA. Sustainable Tourism and the SDGs.
- Erwana, F., Dewi, K., dan Rahardyan, B. 2016. Kajian Dampak Penambangan Timah Inkonvensional terhadap Lingkungan dan Sosial Ekonomi Masyarakat.
- Listiawati, S.W., Wibowo, A.P., dan Rosyid, F.A. 2024. Analisis Sustainable Development Berbasis Komoditas Timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Menggunakan Pendekatan Data Panel.
- Meyana, L., Sudadi, U., dan Tjahjono, B. 2015. Arahan dan Strategi Pengembangan Areal Bekas Tambang Timah sebagai Kawasan Pariwisata di Kabupaten Bangka.
- Aryanto, P. dkk. 2022. Geowisata dan Potensi Penguatan Komunitas pada Wisata Pascatambang Open Pit Nam Salu di Belitung Timur.
- Iswanto, D. dan Feriyanti, Y.G. 2023. Pengembangan Potensi Pariwisata pada Lahan Bekas Tambang Berbasis Komunikasi Pembangunan Berkelanjutan.
- Rasyim, Eko Septianto. Gubernur : Toboali City on Fire Adalah Identitas Bangka Selatan. Antara News.
(Oleh : Mitha Carlina, M Agus Abdul Majid, Muhammad Amir Kurniawan, Mohammad Rafli – Mahasiswa Magister Manajemen FEB UBB)














