KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) – Tradisi Nganggung Durian yang digelar masyarakat Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, kembali menjadi magnet bagi wisatawan. Tidak hanya dipadati masyarakat setempat, kegiatan yang berlangsung di Masjid Miftahul Jannah pada Jumat (10/7/2026) itu juga menarik perhatian pengunjung dari luar Pulau Bangka yang ingin menyaksikan secara langsung salah satu warisan budaya khas Bangka Belitung. Sabtu (11/7/2026)
Tradisi yang telah berlangsung turun-temurun tersebut merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen durian dari kawasan kelekak, yaitu kebun tradisional yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu kekayaan alam masyarakat Bangka.
Sejak pagi hari, masyarakat mulai berdatangan ke Masjid Miftahul Jannah dengan membawa durian serta berbagai buah-buahan lokal. Ribuan buah disusun rapi di dalam area masjid sehingga menciptakan pemandangan yang unik dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Usai pelaksanaan Salat Jumat, seluruh durian dan buah-buahan tersebut didoakan bersama sebelum kemudian dinikmati secara bersama-sama oleh masyarakat, tamu undangan, serta wisatawan yang hadir.
Suasana penuh keakraban dan kebersamaan begitu terasa ketika warga saling berbagi buah hasil panen tanpa membedakan asal-usul maupun status sosial.
Aroma khas durian yang memenuhi ruangan berpadu dengan canda tawa masyarakat menciptakan pengalaman budaya yang tidak mudah ditemukan di daerah lain.
Salah seorang wisatawan asal Tangerang, Enka, mengaku sangat terkesan setelah menyaksikan langsung tradisi tersebut.
Ia mengatakan kedatangannya ke Bangka Belitung merupakan undangan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparbudkepora) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk melihat secara langsung berbagai potensi wisata dan budaya yang dimiliki daerah itu.
Menurutnya, Tradisi Nganggung Durian merupakan perpaduan antara budaya, nilai religius, serta semangat kebersamaan masyarakat yang masih terjaga hingga saat ini.
“Saya baru pertama kali melihat tradisi seperti ini. Sangat luar biasa karena sudah berlangsung bertahun-tahun dan tetap dilestarikan oleh masyarakat,” ujarnya.
Ia mengaku kagum melihat antusiasme masyarakat Desa Pelangas yang secara sukarela bergotong royong menyukseskan kegiatan tahunan tersebut.
Bagi Enka, Nganggung Durian bukan hanya sekadar kegiatan menikmati buah bersama, tetapi menjadi simbol kuatnya nilai persaudaraan dan solidaritas masyarakat Bangka Barat.
Selain terkesan dengan budayanya, Enka juga memberikan apresiasi terhadap kualitas durian lokal yang disajikan dalam acara tersebut.
Menurutnya, cita rasa durian Bangka memiliki kualitas yang sangat baik dan mampu bersaing dengan durian premium yang selama ini dikenal masyarakat luas.
“Duriannya enak banget, manis, legit. Menurut saya kualitasnya sangat bagus dan layak dipasarkan lebih luas. Bahkan tidak kalah enak dengan durian premium dari luar daerah,” ungkapnya.
Ia berharap durian khas Bangka dapat semakin dikenal masyarakat Indonesia melalui promosi yang lebih luas, baik melalui kegiatan budaya maupun sektor pariwisata.
Enka bahkan berjanji akan menceritakan pengalaman positifnya selama berada di Bangka Belitung kepada keluarga maupun rekan-rekannya agar tertarik datang berkunjung.
“Nanti pasti akan saya ceritakan ke teman-teman. Harus datang ke Bangka karena duriannya berkualitas dan budayanya juga sangat menarik,” katanya.
Tidak hanya wisatawan luar daerah, masyarakat Bangka Barat sendiri juga selalu menantikan pelaksanaan Tradisi Nganggung Durian setiap tahunnya.
Salah seorang warga Kecamatan Jebus, Erisanty, mengatakan dirinya hampir tidak pernah melewatkan kegiatan tersebut.
Menurutnya, selain menjadi momentum menikmati hasil panen durian bersama-sama, tradisi itu juga menjadi sarana mempererat hubungan antarmasyarakat.
“Suasananya sangat meriah. Selain bisa menikmati durian bersama, kami juga bisa berkumpul dengan keluarga dan masyarakat dari berbagai daerah,” ujarnya.
Tradisi Nganggung Durian juga dinilai mampu mempererat silaturahmi lintas desa karena masyarakat dari berbagai wilayah datang membawa hasil panen terbaik mereka untuk dinikmati secara bersama.
Selain memiliki nilai budaya, kegiatan tersebut juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pelaksanaan tradisi setiap tahun mampu menarik kunjungan wisatawan yang kemudian turut menggerakkan sektor usaha kecil seperti pedagang makanan, minuman, buah-buahan, hingga produk UMKM lokal.
Dengan meningkatnya jumlah pengunjung, masyarakat berharap Tradisi Nganggung Durian dapat terus dipromosikan sebagai salah satu agenda wisata budaya unggulan Bangka Belitung.
Sebagai warisan budaya masyarakat Desa Pelangas, Tradisi Nganggung Durian bukan sekadar perayaan musim panen, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diperoleh melalui hasil kebun kelekak.
Tradisi ini mengajarkan pentingnya kebersamaan, gotong royong, serta semangat berbagi kepada sesama.
Di tengah perkembangan zaman, masyarakat Desa Pelangas terus berupaya mempertahankan tradisi tersebut agar tetap dikenal oleh generasi muda sekaligus menjadi identitas budaya Bangka Belitung.
Melalui penyelenggaraan yang konsisten setiap tahun, Nganggung Durian diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat lokal, tetapi juga mampu berkembang sebagai destinasi wisata budaya yang menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Dengan perpaduan kekayaan tradisi, keramahan masyarakat, dan kualitas durian lokal yang mendapat apresiasi dari para pengunjung, Desa Pelangas memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat wisata budaya dan kuliner durian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. (Sumber : wowbabel.com, Editor : KBO Babel)











