KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang terus memperkuat komitmen di sektor kesehatan dengan menggandeng Asosiasi Dinas Kesehatan Seluruh Indonesia dalam upaya meningkatkan sistem penanggulangan penyakit menular secara berkelanjutan. Selasa (7/4/2026)
Langkah ini sejalan dengan program Resilient and Sustainable System for Health (RSSH) yang difokuskan pada penanganan penyakit AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (ATM), yang saat ini menjadi prioritas nasional. Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari strategi besar Pemkot dalam menciptakan sistem kesehatan yang tangguh dan responsif terhadap berbagai tantangan.
Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, menegaskan bahwa penguatan program kesehatan menjadi salah satu fokus utama pemerintah daerah, khususnya dalam periode 2025–2026. Ia menyampaikan bahwa Pemkot Pangkalpinang telah menunjukkan komitmen nyata melalui berbagai capaian di bidang kesehatan, termasuk penghargaan yang diterima pada akhir tahun 2025.
“Pada akhir tahun 2025, Pemkot Pangkalpinang menerima penghargaan dari ADINKES atas keberhasilan dalam bidang eliminasi penyakit menular,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).
Menurut Dessy, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja sama lintas sektor serta konsistensi pemerintah daerah dalam menjalankan program kesehatan berbasis masyarakat. Namun demikian, tantangan ke depan dinilai masih cukup besar, terutama dengan meningkatnya tren kasus penyakit menular di daerah.
Ia mengungkapkan bahwa kasus penyakit ATM di Pangkalpinang menunjukkan kecenderungan peningkatan setiap tahunnya. Kondisi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah, sehingga diperlukan langkah-langkah strategis yang lebih terintegrasi dalam upaya pencegahan dan pengendalian.
“Untuk itu kita harus bersama melakukan upaya mendukung program prioritas ini dalam pencegahan dan pengendalian penyakit ATM. Karena tiap tahun tren penyakit ini semakin meningkat,” katanya.
Selain fokus pada penanggulangan penyakit menular, Pemkot Pangkalpinang juga terus memperkuat program kesehatan lainnya, seperti peningkatan Capaian Kinerja Gizi (CKG) tahun 2026 serta percepatan penurunan angka stunting. Upaya ini dilakukan guna memastikan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu dan anak.
Di sisi lain, capaian Universal Health Coverage (UHC) di Pangkalpinang juga menjadi indikator positif dalam pelayanan kesehatan. Hingga Maret 2026, tingkat UHC di kota ini telah mencapai 99,86 persen, yang menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakat telah memiliki akses terhadap layanan kesehatan.
Capaian tersebut dinilai sebagai fondasi penting dalam mendukung keberhasilan program-program kesehatan lainnya, termasuk penanggulangan penyakit menular. Dengan cakupan layanan yang luas, masyarakat diharapkan dapat lebih mudah mengakses pemeriksaan, pengobatan, serta layanan pencegahan.
Program RSSH sendiri dirancang untuk membangun sistem kesehatan yang tidak hanya kuat dalam menghadapi kondisi saat ini, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap berbagai potensi ancaman kesehatan di masa depan. Pendekatan ini mencakup penguatan sumber daya manusia, sistem layanan, hingga dukungan kebijakan yang berkelanjutan.
Pemkot Pangkalpinang menilai bahwa keberhasilan program ini tidak dapat dicapai tanpa dukungan seluruh elemen masyarakat. Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci dalam memutus rantai penyebaran penyakit menular.
“Kalau memang kita tidak peduli, siapa lagi yang akan melindungi anak cucu kita dalam pengendalian penyakit ATM ini,” pungkas Dessy.
Melalui sinergi antara pemerintah daerah, organisasi kesehatan, dan masyarakat, Pemkot Pangkalpinang optimistis dapat menekan angka kasus penyakit menular serta mewujudkan sistem kesehatan yang lebih tangguh dan berkelanjutan di masa mendatang. (Sandy Batman/KBO Babel)











