KBOBABEL.COM (Bangka) — Semangat mengabdi tak kenal jeda. Baru saja pulang dari ajang Jambore Nasional (Jamnas) 2026, Amsyar—santri sekaligus Ketua OSIM MTs Bahrul Ulum Islamic Centre Sungailiat—langsung memanfaatkan waktu izin sehari untuk berbagi inspirasi di almamaternya, SD STKIP Muhammadiyah Bangka Belitung. Di sana, ia menggelar kegiatan bedah buku sekaligus menanamkan semangat literasi kepada adik-adik kelasnya. Jum’at (28/8/2026)

Kegiatan ini menjadi tugas perdana Amsyar di bulan pertamanya menjabat sebagai Runner Up 3 Duta Literasi Remaja Indonesia 2026. Tak hanya itu, di tahun yang sama ia juga menyabet gelar Duta Dongeng CBP BI Babel 2026. Dua buku karya pribadinya—Melodi Perjalanan Kecil dan KELEKA (KELak kEK ikAK)—menjadi fokus utama dalam sesi bedah karya tersebut.
Di hadapan para murid dan guru, Amsyar membagikan proses kreatif menulis serta motivasi berkarya. Sebagai alumni, ia mengaku merasa memiliki tanggung jawab moral untuk kembali dan berbagi ilmu serta pengalaman yang telah ia peroleh.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh Ramanda dan Bunda Guru, serta ustaz dan ustazah, baik di SD STKIP Muhammadiyah maupun di MTs Bahrul Ulum. Tak lupa, rasa terima kasih yang mendalam juga saya haturkan atas dorongan, doa, dan dukungan tanpa henti dari orang tua serta keluarga besar saya. Berkat fondasi dari keluarga dan didikan para guru, saya terus bisa belajar dan berkarya hingga di titik ini,” ujar Amsyar.
Perjalanan pendidikan Amsyar memang tak lepas dari lingkungan sekolah yang membentuk karakternya. Masa sekolah dasarnya ditempuh dengan sistem full day school, dan kini di tahun ketiga di MTs Bahrul Ulum, ia menimba ilmu di lingkungan pesantren berasrama—jauh dari orang tua, namun tetap kuat berkat dukungan dan bimbingan para pendidik.
“Hampir 60 hingga 70 persen waktu harian saya dari kecil hingga remaja dihabiskan di lingkungan sekolah. Meski jauh dari rumah, restu dan dukungan keluarga selalu menjadi penguat utama saya. Di sisi lain, Ramanda, Bunda Guru, ustaz, dan ustazah di sekolah dan pesantren bukan hanya mengajar materi pelajaran, tetapi betul-betul menjadi orang tua kedua yang membimbing serta membentuk kepribadian saya,” tambahnya.
Kunjungan singkat namun berkesan itu ditutup dengan sesi diskusi interaktif bersama para murid. Aksi nyata Amsyar—sebagai Ketua OSIM, anggota Pramuka aktif, penulis, serta pemegang dua gelar prestisius literasi—membuktikan bahwa kesibukan sebagai santri tidak membatasi semangat untuk terus berkarya dan kembali berbakti kepada almamater dan masyarakat. (*)














