Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno Dorong PLTN 2032, Sebut Nuklir Opsi Bersih dan Andal

Nuklir Dinilai Strategis untuk Ketahanan Energi dan Target Net Zero

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (Jakarta) – Energi nuklir kembali menjadi topik hangat di kalangan pembuat kebijakan Indonesia. Pemerintah menargetkan PLTN pertama beroperasi pada 2032 di Bangka Belitung, diikuti PLTN kedua di Kalimantan Barat pada 2033, masing-masing dengan kapasitas 250 MW. Senin (2/3/2026)

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi PAN, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa pengembangan energi nuklir memiliki nilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pernyataan ini disampaikannya dalam Kick-off Forum Nuclear Energy Awareness for Indonesia’s Low-Carbon Future yang digelar oleh PLN bekerja sama dengan Tony Blair Institute for Global Change dan Ecanid, Rabu (11/2).

banner 336x280

“Seluruh kebijakan energi nasional harus memastikan Indonesia mampu memenuhi kebutuhan energinya, baik dari sumber dalam negeri maupun impor, sambil tetap berkomitmen pada dekarbonisasi menuju net zero emission pada 2060 atau lebih cepat,” tegas Eddy.

Ia menyoroti paradoks energi Indonesia: kaya sumber daya, namun masih menghadapi tantangan ketergantungan dan kerentanan pasokan. Oleh karena itu, transisi energi harus mempertimbangkan ketersediaan, keterjangkauan, teknologi, keberlanjutan, dan keandalan.

Energi nuklir dipandang sebagai sumber bersih dan andal untuk mencapai ketahanan energi. Namun, Eddy mengingatkan bahwa pembangunan PLTN memerlukan perencanaan matang dan regulasi ketat, termasuk pengelolaan limbah radioaktif, pembiayaan besar, kesiapan teknologi, serta standar keselamatan tinggi.

“Faktor geopolitik juga krusial. Dinamika perdagangan global, termasuk hubungan dengan Amerika Serikat, dapat memengaruhi pilihan teknologi dan mitra pembangunan PLTN. Indonesia harus cermat untuk menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional,” lanjutnya.

Berbagai negara kini mengadopsi reaktor generasi baru dengan sistem keselamatan pasif dan pendekatan modular, yang memungkinkan produksi komponen standar sebelum dirakit sehingga meningkatkan kualitas dan efisiensi. Di Indonesia, PT Thorcon Power Indonesia diketahui menjadi perusahaan swasta yang mengusulkan reaktor modular berbasis teknologi molten salt reactor (MSR). Reaktor Thorcon diklaim mampu menghasilkan daya 2 x250 MW dan beroperasi pada temperatur tinggi serta tekanan rendah, membuatnya jauh lebih aman dibandingkan PLTN konvensional.
Eddy menutup dengan mengingatkan bahwa pertumbuhan kebutuhan listrik nasional melampaui pertumbuhan energi primer.

“Kita harus memulai diskursus dan perencanaan yang baik untuk memahami kebutuhan, kemampuan, dan peluang membangun kapasitas nuklir. Dengan perencanaan matang, regulasi ketat, dan teknologi tepat, ketahanan energi dan iklim Indonesia dapat tercapai sambil menciptakan pertumbuhan energi berkualitas,” ujarnya.

Dengan target awal 500 MWe dan proyeksi 7 GWe pada 2040, energi nuklir kini semakin masuk dalam perencanaan strategis nasional sebagai opsi bersih dan andal untuk masa depan energi Indonesia. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *