Wamenkes Ungkap Kasus TBC di Babel Tinggi, Skrining dan Terapi Pencegahan Diperkuat

Babel dan Jakarta Jadi Proyek Percontohan Penanggulangan TBC, Wamenkes Soroti Penularan di Keluarga

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan bahwa Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dan DKI Jakarta menjadi dua wilayah yang mendapat perhatian khusus dalam penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia. Kamis (1/101/2026)

Dante menyebut, jika dilihat berdasarkan densitas atau kepadatan penduduk, Bangka Belitung berada di posisi pertama, disusul DKI Jakarta. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah karena TBC merupakan penyakit menular yang dapat menyebar melalui udara.

banner 336x280

“Jadi jumlah kasus TBC terbanyak itu, kalau lihat dari densitas penduduknya di Indonesia, nomor satu itu di Bangka Belitung. Pertama nomor satu di Bangka Belitung. Kemudian nomor dua di DKI Jakarta, justru di kota besar,” kata Dante di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Menurut Dante, karakteristik kedua daerah tersebut berbeda. Bangka Belitung lebih banyak memiliki karakter wilayah rural, sedangkan Jakarta merupakan wilayah urban dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Namun, perbedaan karakter wilayah tersebut tidak membuat salah satunya terbebas dari risiko penularan TBC.

“Jadi daerah rural dan urban itu nggak akan pilih-pilih yang namanya kena TBC itu ya kalau sudah kena TBC saja,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah akan menjadikan Bangka Belitung dan DKI Jakarta sebagai salah satu lokasi percontohan dalam penguatan program penanggulangan TBC. Pemerintah akan mengintegrasikan upaya penemuan kasus, pengobatan serta pencegahan penularan di kedua wilayah tersebut.

Babel dan Jakarta Jadi Lokasi Percontohan

Dante mengatakan kedua provinsi tersebut akan menjadi wilayah prioritas dalam pengendalian TBC. Langkah itu diharapkan dapat memperkuat strategi pemerintah dalam menemukan kasus secara lebih cepat sekaligus memutus rantai penularan.

“Itu dua provinsi utama yang kita jadikan prioritas dan kita jadikan salah satu proyek percontohan di Bangka Belitung dan di DKI Jakarta,” ungkapnya.

Penanganan TBC sendiri tidak hanya diarahkan kepada pasien yang sudah terdiagnosis. Pemerintah juga menekankan pentingnya pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan penderita.

Dante menjelaskan, anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan pasien TBC perlu mendapatkan perhatian melalui Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Upaya tersebut ditujukan untuk mencegah orang yang sudah terpapar bakteri TBC berkembang menjadi penderita TBC aktif.

“Jadi kalau orang yang tinggal satu rumah, itu juga harus diobati. Ada lima orang, lima orang diobati,” jelasnya.

Pendekatan tersebut, kata Dante, penting karena TBC dapat menular melalui udara ketika penderita batuk atau bersin. Mobilitas masyarakat di ruang publik juga menjadi salah satu alasan mengapa penemuan kasus dan pencegahan harus dilakukan secara aktif.

“Karena ini penyakit menular, batuk saja di MRT, di LRT, atau batuk di bis saja itu bisa menularkan ke seluruh penumpang yang ada di bis tersebut. Nah ini makanya tadi perlu terapi pencegahan TBC,” tuturnya.

Indonesia Masih Peringkat Kedua Dunia

Dante juga mengungkapkan bahwa persoalan TBC di Indonesia masih menjadi tantangan besar. Secara global, Indonesia disebut berada di posisi kedua jumlah kasus TBC setelah India.

“Berita tidak baiknya adalah bahwa kita sekarang nomor dua di seluruh dunia setelah India, angka tuberkulosisnya,” ujar Dante.

Kementerian Kesehatan sebelumnya juga menyebut Indonesia sebagai negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi kedua di dunia setelah India. Pemerintah terus mendorong penemuan kasus secara aktif dan memastikan pasien yang telah teridentifikasi memperoleh pengobatan sampai tuntas.

Dalam keterangan terbarunya, Dante menyebut estimasi kasus TBC yang diidentifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengalami penurunan dalam kurun waktu satu tahun. Angka estimasi tersebut disebut turun dari sekitar 1.090.000 menjadi 1.080.000 kasus.

Menurut dia, penurunan tersebut tidak terlepas dari kegiatan identifikasi dan pengobatan yang dilakukan secara masif di berbagai provinsi.

“Dan kelihatan setelah kita melakukan TPT dalam waktu satu tahun, kita turunkan estimasi tuberkulosis yang diidentifikasi oleh WHO dari tadinya 1.090.000 menjadi 1.080.000,” tuturnya.

Skrining Jadi Kunci

Dante menekankan bahwa skrining atau pemeriksaan menjadi salah satu bagian penting dalam pengendalian TBC. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien dapat memperoleh pengobatan dan langkah pencegahan dapat dilakukan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat.

Kementerian Kesehatan selama ini juga mendorong penemuan kasus secara aktif melalui berbagai layanan kesehatan. Program pemeriksaan kesehatan gratis dan kegiatan active case finding menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat identifikasi penderita TBC.

Selain skrining, pemerintah juga melakukan penguatan pengobatan. Dante mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai penelitian untuk menghadirkan regimen pengobatan yang lebih singkat dibandingkan pengobatan TBC konvensional.

“Yang tadinya 6 sampai 9 bulan. 6 sampai 9 bulan kan bosan orang minum obat banyak begitu, banyak bisa sampai 9 tablet satu hari. Sekarang 1 bulan saja,” bebernya.

Meski demikian, pelaksanaan pengobatan tetap harus mengikuti ketentuan medis dan pengawasan tenaga kesehatan.

Desa dan Kelurahan Didorong Aktif

Upaya pengendalian TBC juga diarahkan hingga tingkat desa dan kelurahan melalui pemberdayaan masyarakat. Pemerintah mengembangkan konsep desa dan kelurahan siaga TBC atau Siaga TB.

Program tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai gejala, risiko penularan, pentingnya pemeriksaan serta kepatuhan menjalani pengobatan.

Kemenkes sebelumnya juga menekankan pentingnya peran kader TBC dalam menemukan kontak erat pasien dan mengarahkan orang yang berisiko untuk mendapatkan pemeriksaan maupun pengobatan.

Dante menambahkan, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap perkembangan penanggulangan TBC.

“Monitoring bersama antara pemerintah pusat dan daerah setiap minggu. Kita melakukan setiap minggu evaluasi, ada Pak Dirjen di sini, Pak Dirjen P2P yang melakukan evaluasi setiap minggu angka tuberkulosis ini dengan pemerintah daerah,” imbuhnya.

Dengan ditetapkannya Bangka Belitung dan DKI Jakarta sebagai wilayah prioritas sekaligus salah satu lokasi percontohan, pemerintah akan menguji penguatan berbagai strategi penanggulangan TBC mulai dari skrining, investigasi kontak, terapi pencegahan, pengobatan hingga pemberdayaan masyarakat.

Bagi Bangka Belitung, perhatian tersebut menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah daerah, fasilitas kesehatan dan masyarakat dalam menemukan kasus lebih awal serta mencegah penularan TBC di lingkungan keluarga maupun komunitas. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *