KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Fenomena pengemis berkostum badut yang semakin marak di berbagai titik keramaian di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, memicu keresahan masyarakat. Kostum badut yang selama ini identik dengan hiburan anak-anak kini berubah menjadi sarana mengemis, bahkan melibatkan anak di bawah umur. Pemandangan ini kerap dijumpai mulai dari persimpangan lampu merah hingga kawasan pusat kuliner pada malam hari. Sabtu (22/11/2025)
Sulaiman (40), warga Selindung, mengaku prihatin sekaligus resah dengan fenomena tersebut. Ia menyebut keberadaan para badut ini semakin menjamur dalam beberapa minggu terakhir.
“Antara kasihan dan meresahkan. Dari simpang pasar sampai ke pinggiran kota ada yang keliling pakai kostum badut,” kata Sulaiman kepada awak media Jumat (21/11/2025).
Menurutnya, banyak pengemis yang sengaja membawa anak kecil untuk memancing simpati pengguna jalan maupun pengunjung tempat makan. Cara tersebut, kata Sulaiman, tidak hanya membahayakan keselamatan anak tetapi juga melanggar aturan perlindungan anak.
“Kita kan punya hukum perlindungan anak, itu yang mengemis bagaimana statusnya. Jangan ada pembiaran,” tegasnya.
Sulaiman juga menyayangkan perubahan makna dari sosok badut itu sendiri. “Ikon badut itu harusnya menghibur, sekarang malah jadi lambang kesedihan,” ujarnya.
Pantauan awak media di sejumlah titik menunjukkan para pengemis ini bekerja berkelompok. Umumnya, orang dewasa mengenakan kostum badut sambil menari atau memainkan alat musik sederhana, sedangkan anak yang dibawa ikut berkeliling membawa keranjang kecil untuk menampung uang dari warga. Aktivitas mereka berlangsung dari siang hingga malam hari.
Fenomena ini paling sering terlihat di persimpangan lampu merah, kawasan Jalan Jenderal Sudirman, area Alun-Alun Taman Merdeka, dan sejumlah warung kopi yang ramai pengunjung. Ketika lampu merah menyala, badut-badut ini beraksi mendekati pengendara. Pada malam hari, kelompok ini menyasar pusat-pusat kuliner dan kawasan perbelanjaan.
Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Dinas Sosial Kota Pangkalpinang, Khotaman Barka, membenarkan meningkatnya kasus pengemis berkedok badut, termasuk yang melibatkan anak-anak. “
Memang benar ada fenomena pengemis dengan berbagai macam cara,” ujar Barka.
Ia mengungkapkan bahwa Satpol PP bersama Dinas Sosial secara rutin melakukan kegiatan penertiban untuk menekan aktivitas pengemis ini. Namun upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil karena para pengemis kembali beraktivitas beberapa hari setelah ditertibkan. “
Penertiban gabungan rutin dilakukan, namun mereka muncul lagi. Butuh partisipasi aktif masyarakat untuk tidak memberi dalam bentuk apa pun,” katanya.
Menurut Barka, Pemerintah Kota Pangkalpinang telah memiliki Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur larangan memberi dan meminta-minta di kawasan publik.
“Pemkot sudah punya perda, ada denda dan sanksi bagi pemberi maupun penerimanya,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan patroli dan penindakan, terutama terhadap orang tua yang membawa anak untuk ikut mengemis.
“Patroli dan penindakan akan terus dilakukan terutama bagi para orang tua yang sengaja membawa anaknya,” ujar Barka.
Dinas Sosial juga melakukan pendataan terhadap para pengemis, baik yang merupakan warga Pangkalpinang maupun dari luar daerah. Sejauh ini, sebagian besar pengemis kostum badut berasal dari dalam kota, namun ada pula yang datang dari kabupaten lain dengan tujuan memanfaatkan keramaian ibu kota provinsi.
Selain melakukan penertiban, Pemkot juga mulai menyiapkan langkah pendekatan sosial untuk memberikan pembinaan kepada para pengemis. Mereka yang tercatat sebagai warga kurang mampu akan diarahkan mengikuti program bantuan sosial, pelatihan keterampilan, atau usaha mikro agar tidak kembali mengemis. Sementara bagi anak-anak yang terlibat, Dinsos akan berkoordinasi dengan DP3A untuk memberikan pendampingan khusus.
Fenomena pengemis berkostum badut ini dianggap berbahaya tidak hanya karena eksploitasi anak, tetapi juga karena aktivitas mereka yang sering berada di jalan raya dapat membahayakan keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan. Pemerintah daerah berharap masyarakat tidak lagi memberikan uang kepada pengemis sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penertiban.
Sulaiman dan warga lainnya mendesak pemerintah untuk lebih tegas. “Kalau dibiarkan terus, takutnya nanti jadi hal biasa dan makin banyak anak ikut mengemis,” ujarnya.
Ke depan, Pemkot Pangkalpinang menargetkan peningkatan koordinasi lintas instansi untuk menekan praktik eksploitasi anak dalam kegiatan mengemis, serta memperkuat sosialisasi kepada masyarakat agar turut mendukung upaya pemerintah menciptakan kota yang tertib, aman, dan ramah anak. (Sumber : Kompas.com, Editor : KBO Babel)

















