KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — PT TIMAH Tbk terus memperkuat komitmennya dalam pemulihan lingkungan pesisir melalui program reklamasi laut. Sepanjang tahun 2025, perusahaan telah menenggelamkan sebanyak 1.920 unit artificial reef di berbagai perairan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai bagian dari upaya membentuk kembali habitat biota laut dan menjaga keseimbangan ekosistem. Kamis (12/2/2026)
Program reklamasi laut ini menjadi salah satu langkah strategis perusahaan dalam mengembalikan fungsi ekologis perairan pascatambang. Artificial reef atau terumbu buatan tersebut dirancang menyerupai kubah atau tudung saji dan ditempatkan di dasar laut untuk menjadi habitat baru bagi berbagai organisme laut.
Sebanyak 11 lokasi perairan menjadi titik penenggelaman artificial reef, yakni Perairan Rambak, Rebo, Tuing, Pulau Lampu, Tanjung Melala, Malang Gantang, Tanjung Ular, Karang Aji, Pulau Pelepas, Pulau Panjang, serta Perairan Kubu. Lokasi-lokasi tersebut tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, dan Bangka Selatan.
Dosen Ilmu Kelautan Universitas Bangka Belitung, Indra Ambalika Syari, menjelaskan bahwa keberadaan artificial reef telah menunjukkan dampak ekologis yang positif. Area yang sebelumnya didominasi hamparan pasir kini mulai berkembang menjadi ekosistem baru yang dihuni beragam biota laut.
“Di lokasi artificial reef sudah banyak biota laut yang bermain, berkumpul, mencari makan, melakukan pemijahan (spawning), menempelkan telur, hingga proses pembesaran. Dari sisi ekologi, artificial reef ini memang ditujukan untuk membentuk habitat baru bagi biota laut di dasar perairan,” ujar Indra, Senin (10/2/2026).
Menurutnya, proses kolonisasi alami oleh organisme laut seperti alga, teritip, karang lunak, hingga ikan-ikan karang menunjukkan bahwa struktur tersebut berfungsi efektif sebagai rumah baru bagi ekosistem bawah laut. Dalam jangka panjang, kondisi ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan lingkungan perairan.
Tak hanya memberikan dampak ekologis, program reklamasi laut ini juga melibatkan masyarakat lokal. Pembuatan rangka artificial reef dilakukan dengan memberdayakan tenaga kerja setempat. Proses distribusi hingga penenggelaman juga memanfaatkan perahu dan nelayan lokal.
“Secara langsung program ini memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, habitat baru yang terbentuk juga menjadi fishing ground baru bagi nelayan,” jelas Indra.
Berdasarkan hasil monitoring di lapangan, pengukuran biomassa ikan konsumsi di titik-titik artificial reef menunjukkan hasil signifikan. Biomassa ikan yang lazim dikonsumsi masyarakat tercatat lebih dari 600 kilogram per hektare di lokasi baru tersebut. Angka ini mengindikasikan peningkatan produktivitas perairan sekaligus peluang ekonomi bagi nelayan pesisir.
Artificial reef bekerja dengan menyediakan struktur keras di dasar laut yang menjadi tempat menempel organisme awal. Seiring waktu, struktur tersebut berkembang menjadi ekosistem kompleks yang mendukung rantai makanan laut. Keberadaan ikan-ikan kecil akan menarik predator alami, sehingga menciptakan keseimbangan baru dalam perairan.
Indra menegaskan, reklamasi laut yang dilakukan PT TIMAH Tbk merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan atas aktivitas penambangan laut yang dilakukan sebelumnya. Ia menilai langkah ini penting sebagai bagian dari prinsip keberlanjutan industri pertambangan.
Namun demikian, ia mengingatkan agar program tersebut terus dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitasnya dalam jangka panjang. Evaluasi dapat mencakup pemantauan kualitas air, perkembangan biota, serta dampak sosial ekonomi terhadap masyarakat pesisir.
“Program ini seharusnya menjadi pemantik dan role model bagi perusahaan-perusahaan lain, khususnya industri pertambangan timah, agar turut bertanggung jawab terhadap dampak lingkungan laut,” katanya.
Melalui program reklamasi laut dan penenggelaman artificial reef ini, PT TIMAH Tbk menegaskan komitmennya dalam menerapkan prinsip pertambangan berkelanjutan. Upaya tersebut diharapkan tidak hanya memulihkan kondisi ekologis perairan Bangka Belitung, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup dari sumber daya laut.
(Sumber: PT Timah Tbk, Editor: KBO Babel)













