KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Sebanyak 75 relawan Pasukan Anti Kebakaran Hutan dan Lahan (Pakar) resmi dikukuhkan di Markas Kodim 0413/Bangka, Jumat (18/9/2026). Para relawan tersebut berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Sabtu (19/9/2026)
Pengukuhan relawan Pakar menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan dan deteksi dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya menghadapi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga November mendatang.
Komandan Korem (Danrem) 045/Garuda Jaya, Brigjen TNI Nur Wahyudi, mengatakan keberadaan relawan memiliki peran penting dalam mendeteksi potensi karhutla sejak awal.
Menurutnya, penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada upaya pemadaman setelah kebakaran terjadi. Pencegahan dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
“Prinsipnya pencegahan itu lebih baik daripada penanggulangan. Relawan Pakar ini bertugas menginformasikan dan mendeteksi dini, jika ada titik api kecil atau ada aktivitas warga yang membakar lahan,” ujar Nur Wahyudi.
Ia menjelaskan, para relawan diharapkan dapat menjadi mata dan telinga di wilayah masing-masing. Apabila menemukan titik api atau aktivitas pembakaran lahan, relawan dapat melakukan langkah awal sesuai kemampuan dan kondisi di lapangan.
Namun, apabila situasi tidak dapat ditangani secara langsung, informasi tersebut harus segera diteruskan kepada aparat gabungan.
“Jika tidak bisa ditangani langsung oleh Pakar, informasi tersebut langsung diteruskan ke aparat gabungan baik TNI, Polri, Pemda, BPBD, maupun Basarnas,” katanya.
Pembentukan relawan Pakar dinilai menjadi langkah proaktif untuk menghadapi potensi peningkatan karhutla selama musim kemarau. Kondisi cuaca yang kering membuat lahan dan vegetasi lebih mudah terbakar sehingga api berpotensi menyebar dengan cepat.
Nur Wahyudi mengatakan, berdasarkan pemantauan, saat ini terdapat ratusan titik panas di wilayah Bangka Belitung. Kendati demikian, kondisi karhutla secara umum masih relatif terkendali dan berada pada level siaga dua.
Ia menyebut kebakaran yang terjadi sejauh ini umumnya masih berskala kecil dengan luas lahan terbakar berkisar antara 0,5 hingga 1,5 hektare.
Meski luasnya relatif kecil, kondisi tersebut tetap harus mendapatkan perhatian. Sebab, api yang tidak segera ditangani dapat meluas dan sulit dikendalikan, terutama ketika terjadi di kawasan dengan vegetasi kering.
“Meski demikian, sekecil apa pun api tetap berpotensi meluas jika dibiarkan tanpa penanganan cepat,” tegasnya.
Karena itu, keberadaan 75 relawan Pakar diharapkan mampu mempercepat penyampaian informasi apabila ditemukan potensi kebakaran di lapangan.
Selain mengandalkan kesiapsiagaan petugas dan relawan, masyarakat juga diminta berperan aktif dalam mencegah terjadinya karhutla. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar.
Danrem mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan metode pembakaran untuk membuka lahan karena berisiko menimbulkan kebakaran yang sulit dikendalikan.
“Buka lahan harus sesuai prosedur, jangan membuka lahan dengan cara dibakar karena sangat membahayakan,” ungkapnya.
Dengan penguatan relawan, koordinasi lintas instansi dan partisipasi masyarakat, upaya pencegahan karhutla di Bangka Belitung diharapkan dapat dilakukan sejak dini. Terlebih, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga November sehingga kewaspadaan terhadap potensi kebakaran perlu terus ditingkatkan. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)













