KBOBABEL.COM (BANGKA) — Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Pulau Bangka sejak awal pekan mendorong Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Hidayat Arsani, turun tangan langsung. Kelangkaan Pertalite dan Pertamax yang terjadi hampir di seluruh SPBU di Bangka menyebabkan antrean panjang, aktivitas masyarakat tersendat, hingga muncul keresahan luas karena pasokan tidak kunjung stabil. Selasa (18/11/2025)
Sejak tiga hari terakhir, antrean kendaraan mengular sejak subuh di berbagai wilayah seperti Pangkalpinang, Sungailiat, Bangka Tengah, dan Bangka Selatan. Banyak SPBU terpaksa menutup layanan lebih cepat karena stok cepat habis, sementara warga yang membutuhkan BBM terpaksa memburu penjual eceran dengan harga lebih tinggi. Situasi tersebut diperparah dengan hilangnya Pertamax hampir selama satu minggu, membuat banyak pengendara hanya mengandalkan Pertalite.
Menanggapi situasi darurat ini, Gubernur Hidayat Arsani bergerak cepat dengan menghubungi Pimpinan Pertamina Patra Niaga, Fery, untuk meminta penjelasan sekaligus memastikan penyelesaian krisis dilakukan tanpa penundaan.
Dalam percakapan tersebut, Fery menjelaskan bahwa terhambatnya distribusi disebabkan oleh cuaca buruk yang menghambat perjalanan kapal tanker menuju Bangka. Namun ia menegaskan bahwa kendala tersebut sudah teratasi.
“Kemarin memang ada kendala pengiriman, tetapi kapal sudah datang. Insyaallah hari Senin semua penyaluran kembali normal, Pak,” jelas Fery kepada Gubernur.
Meski begitu, situasi di lapangan menunjukkan kondisi berbeda. Pantauan terbaru pada Selasa pagi di Sungailiat memperlihatkan antrean panjang masih terjadi. Para pengendara terpaksa datang sejak dini hari karena khawatir stok kembali habis sebelum mereka mendapatkan giliran.
Keluhan Masyarakat: Pertamax Hilang, Pembelian Dibatasi
Salah satu keluhan terbesar masyarakat adalah hilangnya Pertamax dalam beberapa hari terakhir. Pengendara yang terbiasa menggunakan BBM beroktan tinggi merasa sangat dirugikan karena hanya bisa membeli Pertalite dengan jumlah terbatas, terutama jika tidak memiliki barcode MyPertamina.
Di beberapa SPBU, pembelian tanpa barcode dibatasi maksimal 5 liter per kendaraan. Hal ini membuat banyak pengendara rela mengantre berjam-jam, namun tetap tidak mendapatkan BBM sesuai kebutuhan.
“Kami pengguna Pertamax benar-benar kesulitan. Pertamax hilang, Pertalite pun antre berjam-jam, tapi kalau tidak punya barcode cuma boleh beli 5 liter. Ini sangat menyusahkan,” keluh seorang warga Sungailiat.
Dampak krisis ini sangat terasa terutama bagi pengemudi ojek, sopir travel, dan pedagang keliling yang aktivitas harian mereka bergantung pada kendaraan bermotor. Banyak yang kehilangan waktu produktif karena harus mengantre panjang hanya untuk mendapatkan sedikit BBM.
Gubernur Minta Distribusi Dipercepat dan Diawasi Ketat
Melihat situasi yang semakin pelik, Gubernur Hidayat Arsani menegaskan bahwa Pertamina harus segera memastikan pasokan BBM kembali stabil. Ia menilai pemerintah wajib memberikan kepastian kepada masyarakat agar aktivitas ekonomi dan mobilitas warga tidak terus terganggu.
“Pemerintah harus memberikan kepastian kepada masyarakat. Kita minta stok dipulihkan secepatnya dan distribusi diawasi secara ketat,” tegas Hidayat.
Ia juga meminta Pertamina berkomitmen melakukan pengawasan distribusi agar tidak terjadi penyelewengan maupun ketidakseimbangan penyaluran antardaerah. Selain itu, pemerintah daerah akan terus memonitor perkembangan setiap hari guna memastikan SPBU tidak mengalami kekosongan berulang.
Pasokan Mulai Masuk, Namun Antrean Masih Panjang
Pertamina Patra Niaga sebelumnya menyebutkan bahwa pasokan BBM mulai masuk kembali pada 18 November 2025 dan diperkirakan normal kembali pada awal pekan. Namun laporan dari lapangan menunjukkan bahwa masyarakat belum merasakan pemulihan tersebut secara signifikan.
Di Sungailiat, SPBU masih dipadati kendaraan sejak pukul 05.00 WIB. Banyak warga yang khawatir stok habis sebelum giliran mereka, sehingga memilih datang lebih awal. Beberapa sopir bahkan mengaku telah mengantre dua hingga tiga kali sehari karena kebutuhan BBM yang tidak terpenuhi.
“Biasanya sekali mengantre dapat penuh. Sekarang setengah saja belum tentu,” ujar seorang pengemudi travel yang ditemui di lokasi.
Harapan Warga: Distribusi Benar-Benar Stabil
Warga berharap situasi dapat kembali normal dalam beberapa hari ke depan. Mereka juga meminta Pertamina dan pemerintah daerah bekerja sama lebih efektif untuk mencegah krisis serupa terulang di masa mendatang. Ketersediaan BBM menjadi faktor vital bagi pergerakan ekonomi masyarakat di Bangka, sehingga gangguan kecil sekalipun dapat berdampak luas.
“Yang penting stabil dulu. Kami tidak mau tiap hari begini,” ujar warga lainnya.
Pemerintah provinsi memastikan akan terus berkoordinasi dengan Pertamina hingga pasokan benar-benar pulih. Sementara masyarakat menunggu kepastian, antrean panjang di SPBU tetap menjadi pemandangan yang belum hilang dari Sungailiat hingga hari ini. (Sumber : Bangka Update, Editor : KBO Babel)









