KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan kembali menjadi perhatian serius. Selain mengancam lingkungan dan kualitas udara di dalam negeri, asap akibat kebakaran berpotensi terbawa angin hingga ke wilayah negara tetangga, termasuk Malaysia. Jum’at (21/8/2026)
Dampak kabut asap bahkan mulai dirasakan di Sarawak. Pemerintah setempat mengambil langkah antisipasi dengan menutup sementara 108 sekolah di wilayah Serian setelah kualitas udara mencapai kategori sangat tidak sehat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan lokal. Ketika kebakaran terjadi dalam skala luas dan berlangsung dalam periode kemarau, asap yang dihasilkan dapat menyebar melewati batas wilayah hingga berpotensi berdampak terhadap masyarakat di negara lain.
108 Sekolah di Sarawak Ditutup
Dilansir Bernama, Kamis (20/8/2026), Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) menyatakan sebanyak 108 sekolah di wilayah Serian ditutup sementara akibat memburuknya kualitas udara.
Penutupan dilakukan setelah Indeks Pencemaran Udara (API) di sejumlah wilayah mencapai tingkat yang dinilai membahayakan kesehatan.
Sebagai alternatif pembelajaran, kegiatan belajar mengajar dilakukan dari rumah melalui Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR). Kebijakan tersebut diberlakukan untuk menjaga keselamatan siswa sekaligus memastikan proses pendidikan tetap berjalan.
JPBN Sarawak menjelaskan bahwa berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup apabila API mencapai angka 200.
Kategori API sendiri dibagi berdasarkan tingkat pencemaran. Nilai 0 hingga 50 menunjukkan kualitas udara baik, 51 hingga 100 berada pada kategori sedang, 101 hingga 200 masuk kategori tidak sehat, 201 hingga 300 sangat tidak sehat, sedangkan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.
Pada Kamis sore, sejumlah wilayah Sarawak tercatat mengalami kualitas udara yang sangat tidak sehat.
Dua wilayah mencatat API di atas 200, yakni Tebedu dengan angka 212 dan Serian sebesar 202.
Sementara itu, 11 wilayah lainnya berada dalam kategori tidak sehat. Wilayah tersebut meliputi Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas.
JPBN Sarawak menyebut kualitas udara di wilayah tersebut menunjukkan tren memburuk sejak awal Agustus.
Kelompok Rentan Diminta Waspada
Memburuknya kualitas udara membuat masyarakat di Sarawak diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika indeks pencemaran berada dalam kategori tidak sehat atau lebih buruk.
Kelompok rentan menjadi perhatian utama. Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung diminta membatasi paparan terhadap udara tercemar.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan dampak lanjutan dari karhutla yang terjadi di wilayah Kalimantan. Asap dari kebakaran dapat terbawa oleh kondisi atmosfer dan angin sehingga memengaruhi wilayah lain.
Karena itu, penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman titik api, tetapi juga pencegahan agar kebakaran tidak meluas dan menghasilkan kabut asap dalam jumlah besar.
1.487 Hotspot Terdeteksi di Kalimantan
Di Indonesia, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau perkembangan titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, berdasarkan pemantauan satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8/2026), terdapat 1.487 hotspot yang tersebar di wilayah Kalimantan.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni mencapai 767 titik.
Selanjutnya Kalimantan Barat tercatat memiliki 560 hotspot. Sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik.
Adapun Kalimantan Utara menjadi wilayah dengan jumlah hotspot paling sedikit, yakni tiga titik.
“Jumlah tersebut tersebar dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik,” kata Berton dalam keterangannya, Kamis (20/8/2026).
Data tersebut menjadi perhatian pemerintah karena Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau yang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Kesiapsiagaan Lintas Sektor Diperkuat
Mengantisipasi karhutla meluas, BNPB bersama pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan lintas sektor.
Pemantauan titik panas dilakukan untuk mengetahui perkembangan wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran. Selain itu, pemetaan daerah rawan dan deteksi dini terus dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan.
Pemerintah daerah juga diminta memastikan kesiapan personel, peralatan serta sarana dan prasarana pemadaman. Respons cepat diperlukan agar kebakaran yang muncul tidak berkembang menjadi kejadian yang lebih besar.
BNPB mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana selama musim kemarau, khususnya kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas pembakaran, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Jika menemukan kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkan kejadian tersebut kepada otoritas setempat agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Dampak Lintas Batas Jadi Peringatan
Penutupan 108 sekolah di Sarawak menjadi salah satu gambaran nyata bahwa dampak karhutla dapat meluas melewati batas wilayah Indonesia.
Situasi tersebut menjadi peringatan bahwa pengendalian kebakaran di Kalimantan membutuhkan penanganan cepat, terkoordinasi dan berkelanjutan.
Tingginya jumlah hotspot di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi perhatian khusus. Apabila titik panas berkembang menjadi kebakaran yang tidak terkendali, potensi munculnya kabut asap akan semakin besar.
Karena itu, upaya pencegahan menjadi kunci. Pemerintah, aparat, dunia usaha dan masyarakat perlu bersama-sama mencegah munculnya titik api, sekaligus memastikan setiap kebakaran yang terjadi dapat segera ditangani.
Karhutla bukan sekadar persoalan rusaknya hutan dan lahan. Dampaknya dapat menyentuh kesehatan masyarakat, pendidikan, aktivitas ekonomi hingga hubungan antarnegara ketika kabut asap melintasi batas wilayah.
Dengan kondisi tersebut, pengawasan hotspot selama musim kemarau menjadi semakin penting. Kecepatan deteksi dan respons terhadap kebakaran akan sangat menentukan apakah sebuah titik api dapat segera dipadamkan atau justru berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (Sumber : detiknews, Editor : KBO Babel)











