Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Bangka Barat » Baidi Tegas: Aktivitas Tambang Ilegal Bukan Pembangunan, Tapi Perusakan Tempilang Yang Terorganisir

Baidi Tegas: Aktivitas Tambang Ilegal Bukan Pembangunan, Tapi Perusakan Tempilang Yang Terorganisir

  • account_circle sri rezeki
  • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
  • visibility 6
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Advertisements

KBOBABEL.COM (TEMPILANG, BANGKA BARAT) — Di sebuah garis pantai yang dulu dikenal karena keindahan dan suara pengunjung wisata, kini suara yang paling dominan bukan lagi ombak, melainkan deru mesin. Di Pantai Pasir Kuning, laut seperti sedang dipaksa berbicara dalam bahasa yang bukan miliknya: bising, tergesa, dan penuh kepentingan. Sabtu (18/4/2026)

Selasa (14/04/2026), sidak pemerintah daerah datang seperti adegan yang berulang dalam drama panjang pengelolaan sumber daya di pesisir. Ada Wakil Bupati, ada Forkopimda, ada aparat. Namun di antara semua itu, satu suara yang paling jujur justru datang dari mereka yang selama ini jarang diberi panggung: nelayan.

Baidi, Koordinator Nelayan Desa Air Lintang dan Desa Benteng Kota, tidak membawa data statistik, tidak pula grafik kerusakan lingkungan. Ia hanya membawa sesuatu yang lebih sulit diperdebatkan yaitu pengalaman hidup.

“Kami sudah sepakat sejak awal, wilayah Air Lintang tidak boleh ada aktivitas tambang, termasuk transportasinya. Tapi sekarang, justru semakin ramai,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan satu ironi besar kesepakatan dibuat untuk dilanggar secara perlahan, bukan secara frontal. Seolah-olah hukum di pesisir bekerja seperti air laut mengikuti arus, bukan menetapkan arah.

Secara geografis, laut tidak pernah benar-benar berkurang. Namun bagi nelayan Tempilang, ruang tangkap mereka menyusut setiap hari. Bukan karena garis pantai mundur, melainkan karena ruang itu direbut oleh aktivitas yang tidak pernah mereka undang.

Speedboat melintas cepat, membawa hasil tambang yang tidak pernah mereka nikmati. Perahu-perahu kecil yang disebut sepit bergerak seperti urat nadi ekonomi baru. Ekonomi yang tidak menyertakan nelayan sebagai bagian darinya. Di pesisir, kem-kem berdiri seperti penanda bahwa wilayah ini telah berubah fungsi dari ruang hidup menjadi ruang produksi.

Baidi tidak berbicara tentang konflik ruang dalam istilah akademik. Ia menunjukkannya lewat jaring yang rusak.

“Jaring kepiting kami sering kena. Jaring tebak juga terganggu. Mereka lewat begitu saja,” katanya.

Di balik kerusakan itu, ada hitungan yang tidak pernah masuk dalam laporan resmi telah berapa hari nelayan tidak bisa melaut, berapa rupiah yang hilang dan berapa keluarga yang harus berutang untuk bertahan.

Dalam narasi besar pembangunan, tambang sering diposisikan sebagai mesin ekonomi. Ia menciptakan perputaran uang, membuka lapangan kerja dan setidaknya di atas kertas mendorong pertumbuhan.

Namun di Tempilang, pertumbuhan itu tampak seperti janji yang salah alamat.

Nelayan menanggung risiko tanpa pernah benar-benar menikmati hasil. Mereka menghadapi laut yang semakin keruh, jalur tangkap yang semakin sempit dan ancaman keselamatan yang semakin nyata. Sementara itu, keuntungan bergerak ke arah yang tidak kasat mata untuk keluar dari kampung, mengikuti arus distribusi yang lebih besar.

“Kalau memang harus ada tambang, arahkan ke satu pintu di Benteng Kota. Itu sudah disepakati,” tegas Baidi.

Permintaan itu bukan bentuk penolakan total. Ia sebagai upaya terakhir untuk mempertahankan keseimbangan yang sudah lama retak. Namun seperti banyak hal di pesisir, keseimbangan itu tampaknya kalah cepat dibanding laju mesin tambang.

Pantai Pasir Kuning pernah dibayangkan sebagai alternatif masa depan. Ketika laut tidak lagi cukup memberi, pariwisata diharapkan menjadi jalan keluar. Namun harapan itu kini seperti ditanam di tanah yang salah.

Bagaimana mungkin wisata tumbuh di tengah kebisingan industri?

Kem-kem tambang berdiri di garis pantai. Air laut berubah warna. Lalu lintas kapal menciptakan suasana yang lebih dekat dengan kawasan kerja daripada tempat rekreasi.

“Siapa yang mau datang kalau pantainya seperti ini?” tanya Baidi.

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban. Ia sudah cukup menjadi kritik.

Sidak hari itu mungkin menghasilkan catatan. Mungkin juga rekomendasi. Namun bagi nelayan, pengalaman mengajarkan bahwa antara catatan dan perubahan, ada jarak yang sering kali tidak terjembatani.

Pemerintah datang, melihat, lalu pergi. Aktivitas tambang berhenti sejenak, lalu kembali berjalan. Siklus ini berulang, seperti ombak. Bedanya, ombak membawa kehidupan, sementara siklus ini justru mengikisnya.

“Harapan kami jelas, tidak ada lagi aktivitas tambang di wilayah kami,” ujar Baidi.

Nada suaranya datar, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia tidak lagi berbicara dengan kemarahan, melainkan dengan kelelahan yang telah lama dipendam.

Di tengah narasi besar tentang pembangunan, nelayan sering diposisikan sebagai kelompok yang harus beradaptasi. Mereka diminta untuk berubah, untuk mencari alternatif, untuk tidak bergantung pada laut.

Namun yang jarang ditanyakan mengapa mereka yang harus berubah, sementara kerusakan justru datang dari luar?

Baidi, dengan segala keterbatasannya, sedang menjaga sesuatu yang lebih besar dari sekadar mata pencaharian. Ia menjaga batas. Batas antara laut yang masih bisa memberi dan laut yang hanya akan meninggalkan jejak kerusakan.

Di Pantai Pasir Kuning, batas itu kini semakin kabur.

Jika suatu hari nanti laut benar-benar kehilangan suaranya, mungkin yang tersisa hanyalah cerita tentang bagaimana nelayan sudah berteriak sejak lama, tetapi tidak pernah benar-benar didengar.

  • Penulis: sri rezeki

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perempuan 38 Tahun Tewas Mengapung di Sungai Belitung Timur, Diduga Kejang Akibat Epilepsi

    Perempuan 38 Tahun Tewas Mengapung di Sungai Belitung Timur, Diduga Kejang Akibat Epilepsi

    • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
    • account_circle putri utami
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (Belitung Timur) – Seorang perempuan berusia 38 tahun, Zaidah, ditemukan meninggal dunia di aliran sungai kecil (aik arongan) di Dusun Lalang, Desa Mentawak, Kecamatan Kelapa Kampit, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Jumat (24/10/2025) pagi. Kejadian tersebut diduga akibat korban mengalami kejang saat berada di tepi sungai, sehingga terjatuh dan tenggelam. Sabtu […]

  • Pelarian Berakhir! Hasan Basri, Terduga Pembunuh Wartawan Babel, Ditangkap di Sumsel

    Pelarian Berakhir! Hasan Basri, Terduga Pembunuh Wartawan Babel, Ditangkap di Sumsel

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle kbobabelgroup@gmail.com
    • visibility 9
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Pelarian Hasan Basri, terduga dalang pembunuhan sadis terhadap wartawan sekaligus pemilik media online Okeyboz.com, Adityawarman, akhirnya berakhir. Tersangka berhasil dibekuk tim gabungan dari jajaran Polda Kepulauan Bangka Belitung bersama Polda Sumatera Selatan pada Senin (11/8/2025). Hasan Basri sebelumnya dikenal sebagai pekerja yang sehari-hari mengurus kebun milik korban di Kelurahan Air Kepala […]

  • Kabinet Merah Putih Bertambah, Prabowo Resmi Angkat 5 Pejabat Baru

    Kabinet Merah Putih Bertambah, Prabowo Resmi Angkat 5 Pejabat Baru

    • calendar_month Kamis, 18 Sep 2025
    • account_circle sri rezeki
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (JAKARTA) — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi melantik dua menteri dan tiga wakil menteri baru untuk mengisi posisi strategis di Kabinet Merah Putih sisa masa jabatan 2024–2029. Pelantikan tersebut berlangsung khidmat di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (17/9/2025). Kamis (18/9/2025) Prosesi pelantikan ini digelar berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/P […]

  • DPD KNPI Bangka Kecam Ucapan Kasar Wakil Ketua PN Sungailiat Saat Persidangan

    DPD KNPI Bangka Kecam Ucapan Kasar Wakil Ketua PN Sungailiat Saat Persidangan

    • calendar_month Rabu, 24 Sep 2025
    • account_circle sri rezeki
    • visibility 6
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (Bangka) – Suasana persidangan perkara kecelakaan lalu lintas dengan terdakwa Lp di ruang 3 Pengadilan Negeri (PN) Sungailiat, Selasa (23/9/2025) sore, mendadak tegang. Hal itu dipicu dugaan sikap arogan Ketua Majelis Hakim PH, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PN Sungailiat, lantaran mengucapkan kata-kata tidak pantas di hadapan peserta sidang. Rabu (24/9/2025). Kronologi […]

  • PLTN Tak Bisa Ditunda Lagi, Pemerintah Targetkan Bangka Belitung dan Kalbar Jadi Lokasi Reaktor Nuklir Pertama Indonesia

    PLTN Tak Bisa Ditunda Lagi, Pemerintah Targetkan Bangka Belitung dan Kalbar Jadi Lokasi Reaktor Nuklir Pertama Indonesia

    • calendar_month Selasa, 23 Jun 2026
    • account_circle sri rezeki
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (Jakarta) – Setelah lebih dari enam dekade menjadi bagian dari cita-cita pembangunan nasional, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) kini semakin mendekati tahap realisasi. Berbagai regulasi telah diterbitkan, target pembangunan telah ditetapkan dalam dokumen resmi negara, dan dukungan dari pemerintah, regulator, operator ketenagalistrikan, hingga legislatif terus menguat. Di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat […]

  • Mahasiswi UBB Tewas di Jalan Selindung, Sopir Avanza Kabur Tanpa Jejak

    Mahasiswi UBB Tewas di Jalan Selindung, Sopir Avanza Kabur Tanpa Jejak

    • calendar_month Selasa, 24 Jun 2025
    • account_circle putri utami
    • visibility 4
    • 0Komentar

    Advertisements KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Sebuah kecelakaan lalu lintas beruntun yang melibatkan dua mobil dan satu sepeda motor terjadi di Jalan Raya Pangkalpinang-Sungailiat, tepatnya di depan Indomart Selindung, Kelurahan Selindung Baru, Kecamatan Gabek, Kota Pangkalpinang, Senin (23/6/2025) sekitar pukul 17.25 WIB. Kecelakaan ini menewaskan seorang mahasiswi Universitas Bangka Belitung (UBB), Dhaffa Nabila Sukanda (22), yang merupakan […]

expand_less