KBOBABEL.COM (YOGYAKARTA) – Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menegaskan bahwa Indonesia harus mulai mempersiapkan diri secara serius jika ingin menjadikan energi nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional di masa depan. Kamis (23/4/2026)
Pernyataan tersebut disampaikan saat dirinya menjadi pembicara utama dalam UGM Nuclear Readiness Forum 2026 yang digelar di Universitas Gadjah Mada, Selasa (22/4/2026). Forum ini menjadi ruang diskusi strategis yang membahas kesiapan Indonesia menghadapi dinamika transisi energi global sekaligus peluang pemanfaatan nuklir sebagai sumber energi alternatif.
Dalam paparannya, Bambang menekankan bahwa tantangan energi nasional ke depan akan semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi, ekspansi industri, serta peningkatan konsumsi listrik masyarakat dipastikan akan mendorong lonjakan kebutuhan energi secara signifikan.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia dinilai tidak bisa hanya bergantung pada sumber energi konvensional. Diperlukan keberanian untuk membuka ruang terhadap berbagai opsi energi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan mampu menjawab kebutuhan jangka panjang.
“Nuklir memiliki potensi besar sebagai salah satu solusi strategis. Selain mampu menghasilkan energi dalam skala besar, juga berkontribusi dalam menekan emisi karbon,” ujarnya.
Namun demikian, Bambang mengingatkan bahwa pengembangan energi nuklir bukanlah keputusan yang bisa diambil secara instan. Ia menegaskan bahwa seluruh proses harus melalui kajian komprehensif, didukung sistem pengawasan ketat, serta mengacu pada standar keselamatan internasional yang tinggi.
Menurutnya, kesiapan Indonesia tidak boleh hanya berhenti pada aspek teknologi semata. Lebih dari itu, negara harus memastikan kesiapan regulasi, kelembagaan, sumber daya manusia, hingga membangun kepercayaan publik yang menjadi faktor krusial dalam pengembangan energi nuklir.
“Yang terpenting bukan sekadar memiliki teknologi, tetapi kesiapan menyeluruh dari semua aspek, termasuk tata kelola dan penerimaan masyarakat,” tegasnya.
Forum yang dihadiri mahasiswa, akademisi, peneliti, hingga praktisi energi tersebut juga menyoroti berbagai tantangan global di sektor energi, perkembangan teknologi nuklir dunia, serta posisi Indonesia dalam menjawab kebutuhan energi jangka panjang.
Kehadiran Bambang dalam forum ini mencerminkan dorongan parlemen agar arah kebijakan energi nasional tidak disusun secara reaktif, melainkan berbasis perencanaan jangka panjang dan kajian ilmiah yang matang. Politikus asal Kepulauan Bangka Belitung itu juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan ketahanan energi nasional.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, DPR, perguruan tinggi, serta dunia usaha menjadi kunci dalam merumuskan kebijakan energi yang kuat dan berkelanjutan.
“Indonesia harus berani menatap masa depan energi dengan perencanaan matang, keputusan strategis, dan kerja bersama. Dari situlah kemandirian energi nasional bisa diwujudkan,” pungkasnya. (Muhammad Rizky Ramadhan)











