BGN Dorong Pengelola SPPG Buat Konten Positif di TikTok untuk Lawan Narasi Negatif MBG

Tigor Pangaribuan : Program MBG Bukan Sekadar Makan Gratis, Tapi Dongkrak Ekonomi Lokal

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Badan Gizi Nasional (BGN) mendorong seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Indonesia untuk aktif membuat konten positif di media sosial, khususnya TikTok, guna melawan maraknya narasi negatif terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah. Jumat (24/10/2025)

Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola BGN, Tigor Pangaribuan, menegaskan pentingnya narasi positif di tengah gencarnya pemberitaan yang lebih banyak menyoroti sisi negatif program tersebut. Ia mengatakan, keberhasilan besar MBG kerap tenggelam di balik pemberitaan kecil yang berfokus pada insiden minor.

banner 336x280

“Sampai minggu lalu, kami sudah melayani 1,6 miliar porsi makanan. Yang mengalami keracunan hanya sekitar 9.000 anak atau 0,0001 persen. Tapi yang diberitakan terus-menerus justru soal 0,0001 persen ini,” ujar Tigor saat menyampaikan materi dalam kegiatan Sosialisasi Kebijakan dan Tata Kelola Program MBG di Hotel Soll Marina, Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (23/10/2025).

Tigor menilai, selama ini sangat sedikit media dan masyarakat yang mengangkat keberhasilan BGN dan SPPG dalam menjalankan program nasional yang menyentuh jutaan anak Indonesia tersebut. Padahal, kata dia, dampak positif program MBG sudah mulai dirasakan di berbagai daerah, terutama dalam aspek kesehatan anak dan ekonomi masyarakat.

“Narasi positif itu penting. Kita harus bangkitkan semangat dan pemahaman masyarakat bahwa MBG bukan sekadar program makan, tapi program peningkatan kualitas sumber daya manusia bangsa,” tegasnya.

Ia juga meminta setiap pengelola SPPG, yayasan, serta mitra pelaksana untuk secara aktif memproduksi konten yang mengedukasi dan menginspirasi masyarakat, menggunakan bahasa yang mudah dipahami serta disampaikan secara kreatif.

“Jadi saya meminta semua pemimpin yayasan hingga mitra, tolong buatkan juga video TikTok dengan bahasa positif. Kita lawan bahasa-bahasa negatif itu karena bisa sangat berbahaya jika dibiarkan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Tigor memaparkan sejumlah dampak positif pelaksanaan MBG di Bangka Belitung. Dari 120 titik SPPG yang telah ditetapkan di wilayah tersebut, 36 di antaranya sudah beroperasi aktif dan terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap perekonomian lokal.

“Bayangkan jika satu SPPG menghabiskan dana Rp500 juta per bulan untuk belanja bahan makanan, berarti lebih dari Rp15 miliar uang berputar di Bangka Belitung setiap bulan. Itu belum termasuk efek ekonomi turunannya. Sekarang ekonomi masyarakat tidak hanya bergantung pada sektor timah saja,” jelasnya.

Namun demikian, Tigor juga mengakui adanya beberapa kendala teknis di lapangan. Salah satunya adalah karakteristik wilayah Bangka Belitung sebagai daerah kepulauan yang memiliki jarak antardapur SPPG yang tidak merata.

“Banyak dapur yang berdekatan, tapi ada juga yang jaraknya sangat jauh, bahkan lebih dari 6 kilometer. Kalau distribusi makanan terlalu jauh, risikonya adalah makanan bisa basi di jalan. Itu yang paling kami khawatirkan,” kata Tigor.

Selain tantangan jarak, BGN juga menghadapi persoalan pasokan bahan pangan. Menurut Tigor, sebagian besar bahan pangan untuk MBG di Bangka Belitung masih harus didatangkan dari luar daerah, seperti Palembang, Sumatera Selatan, yang membuat biaya logistik meningkat dan ketergantungan semakin besar.

Untuk itu, BGN mendorong pemerintah daerah di Bangka Belitung agar berperan aktif membangun ekosistem pertanian lokal yang dapat menopang kebutuhan program MBG. Pihaknya juga mendorong masyarakat agar mulai tertarik kembali ke sektor pertanian dan peternakan.

“Kami ingin daerah ini punya produksi sayur, ayam petelur dan pedaging, serta ikan sendiri. Jadi kebutuhan dapur SPPG bisa dipenuhi dari dalam daerah. Kalau petani dan peternak lokal bangkit, ekonomi akan berputar di sini juga,” terang Tigor.

Ia menegaskan, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mendorong kemandirian pangan daerah agar program MBG tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, melainkan bisa menciptakan ekosistem ekonomi dan gizi berkelanjutan.

“Dengan dukungan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat, program MBG bisa menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus investasi untuk generasi masa depan yang lebih sehat,” tutup Tigor.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif pemerintah pusat yang dilaksanakan secara nasional dengan tujuan meningkatkan gizi anak sekolah dan menekan angka stunting. Melalui sinergi antara BGN, pemerintah daerah, dan mitra SPPG, program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. (Sumber : Tempo, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *