
KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengambil langkah cepat dalam merespons maraknya kemunculan buaya liar yang memasuki kawasan permukiman warga. Untuk mengantisipasi potensi konflik antara satwa buas tersebut dengan masyarakat, BPBD Babel memastikan segera membentuk tim khusus yang fokus menangani situasi tersebut. Rabu (3/12/2025)
Kepala BPBD Babel, Budi Utama, mengatakan pembentukan tim khusus ini diputuskan setelah meningkatnya laporan dari warga di sejumlah wilayah mengenai buaya yang muncul di dekat rumah penduduk, terutama saat curah hujan tinggi dan banjir melanda.

“Kita segera bentuk tim untuk menangani konflik buaya dengan manusia ini,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (2/12/2025).
Budi menjelaskan bahwa langkah ini tidak hanya dilakukan oleh BPBD semata, tetapi akan melibatkan koordinasi lintas instansi. BPBD Babel akan bekerja sama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Pusat Penyelamatan Satwa Alobi. Kerja sama ini dipandang penting agar penanganan kemunculan buaya dapat dilakukan secara terukur, aman, dan sesuai standar konservasi satwa liar.
“Kita bersama-sama mengantisipasi masalah maraknya kemunculan buaya dan satwa liar lainnya selama musim hujan ini,” kata Budi. Ia menambahkan bahwa perpindahan buaya dari habitat aslinya menuju permukiman warga diduga kuat dipengaruhi oleh perubahan kondisi lingkungan, termasuk kerusakan ekosistem rawa dan sungai yang menjadi tempat hidup alami satwa tersebut.
Salah satu kasus terbaru terjadi di Kelurahan Pasir Garam, Kota Pangkalpinang. Warga melaporkan kemunculan seekor buaya berukuran besar yang berkeliaran di sekitar permukiman. Kejadian tersebut menimbulkan kepanikan dan kekhawatiran hingga akhirnya petugas gabungan turun ke lokasi untuk melakukan penanganan.
“Alhamdulillah, kemunculan buaya di Pasir Garam ini sudah diatasi. Namun demikian diharapkan masyarakat tetap waspada apalagi di saat terjadi banjir,” tutur Budi.
Ia menegaskan bahwa kemunculan buaya liar tidak boleh dianggap sepele, mengingat hewan tersebut dapat menyerang manusia saat merasa terancam. Kondisi air yang meluap akibat hujan deras dan pasang air laut membuat buaya lebih mudah berpindah ke wilayah yang lebih tinggi, termasuk pemukiman penduduk. Situasi inilah yang meningkatkan risiko konflik antara manusia dan buaya.
Menurut Budi, tim khusus yang akan dibentuk bertugas melakukan patroli di lokasi rawan, merespons laporan masyarakat, serta memastikan prosedur evakuasi satwa berjalan aman. Selain itu, tim juga akan melakukan edukasi kepada warga terkait langkah-langkah pencegahan, termasuk larangan beraktivitas di tepian sungai atau wilayah banjir pada malam hari.
Dia kembali mengimbau masyarakat untuk menjaga kewaspadaan, terutama saat musim hujan dan banjir.
“Kami mengimbau masyarakat untuk selalu berhati-hati, apalagi di saat terjadi banjir dampak hujan lebat dan pasang air laut, untuk tidak beraktivitas di daerah banjir itu guna menghindari serangan hewan buas ini,” pungkasnya.
Dengan dibentuknya tim khusus ini, BPBD Babel berharap penanganan konflik manusia dan buaya dapat dilakukan lebih cepat, terkoordinasi, dan efektif, sehingga tidak menimbulkan korban dan mampu menjaga keseimbangan ekosistem satwa liar di Bangka Belitung. (Sumber : MetroTv, Editor : KBO Babel)














