KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Tradisi Sembahyang Rebut atau Chit Ngiat Pan kembali digelar masyarakat keturunan Tionghoa di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Ritual budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut berlangsung di Klenteng Bong Fa Pakkung, Jumat (28/8/2026) malam. Sabtu (29/8/2026)
Sembahyang Rebut menjadi salah satu tradisi masyarakat Tionghoa yang digelar setiap pertengahan bulan ketujuh dalam kalender China atau bertepatan dengan tanggal 15. Tradisi ini juga dikenal masyarakat sebagai bagian dari ritual pada bulan ketujuh kalender China.
Selain menjadi bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur, pelaksanaan Sembahyang Rebut di Pangkalpinang turut menjadi ruang berkumpulnya masyarakat dari berbagai latar belakang.
Pengurus Klenteng Bong Fa Pakkung, Akhiong, mengatakan Sembahyang Rebut merupakan ritual yang dilakukan untuk memanjatkan doa kepada Tuhan agar masyarakat diberikan kebaikan, keselamatan dan kelancaran dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Sembahyang Rebut ini merupakan ritual masyarakat Tionghoa dan biasa ritual ini digelar setiap pertengahan bulan ketujuh kalender China atau biasa juga disebut dengan bulan hantu dan pintu akhirat terbuka lebar,” kata Akhiong kepada wartawan.
Menurut Akhiong, rangkaian kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri bagi masyarakat yang melaksanakannya. Tradisi tidak hanya menjadi agenda keagamaan dan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari warisan yang terus dijaga oleh masyarakat Tionghoa di Pangkalpinang.
Puncak perayaan Chit Ngiat Pan berlangsung tepat pada pukul 00.00 WIB. Menjelang waktu tersebut, masyarakat telah berkumpul dan mengikuti rangkaian ritual yang dilaksanakan di lingkungan klenteng.
Setelah aba-aba diberikan panitia, masyarakat diperbolehkan mengambil berbagai makanan pokok dan hasil bumi yang sebelumnya telah disiapkan untuk kegiatan Sembahyang Rebut.
“Puncak perayaannya malam ini dan masyarakat yang telah berkumpul menunggu aba-aba dari panitia. Kemudian barang-barang yang telah disediakan boleh diperebutkan masyarakat,” ujarnya.
Tradisi memperebutkan berbagai barang yang telah disediakan menjadi salah satu bagian yang paling menarik perhatian masyarakat. Suasana semakin ramai ketika warga menunggu dimulainya prosesi tersebut.
Namun, daya tarik Sembahyang Rebut di Pangkalpinang tidak hanya terletak pada ritual dan tradisi yang dilaksanakan. Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang etnis juga memperlihatkan bagaimana kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan antarwarga.
Akhiong mengatakan pelaksanaan Sembahyang Rebut tidak hanya disaksikan oleh masyarakat keturunan Tionghoa. Warga Melayu serta masyarakat dari berbagai latar belakang etnis juga turut hadir menyaksikan jalannya kegiatan.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi gambaran kuatnya nilai toleransi dan kebersamaan yang telah terbangun di tengah masyarakat Bangka Belitung.
“Agenda tahunan ini bukan hanya disaksikan masyarakat Tionghoa saja, namun turut disaksikan masyarakat Melayu. Karena semua umat etnis menyatu sehingga toleransi umat beragama begitu menyatu di Bangka Belitung,” katanya.
Nilai kebersamaan tersebut menjadi salah satu pesan penting dari pelaksanaan tradisi Sembahyang Rebut. Masyarakat tidak hanya datang untuk menyaksikan ritual budaya, tetapi juga berinteraksi dan berkumpul tanpa membedakan latar belakang etnis.
Bagi masyarakat Pangkalpinang, kondisi tersebut menjadi modal sosial yang penting dalam menjaga kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Bangka Belitung sendiri dikenal sebagai daerah yang memiliki keberagaman masyarakat. Berbagai kelompok etnis dan budaya hidup berdampingan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat lintas kelompok dapat menjadi sarana memperkuat hubungan sosial.
Warisan Budaya Ratusan Tahun
Akhiong menjelaskan, tradisi Chit Ngiat Pan telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun. Keberadaan tradisi tersebut menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat Tionghoa yang menetap dan berkembang di Bangka Belitung.
Menurutnya, pelestarian tradisi tidak dapat hanya mengandalkan generasi tua. Generasi muda harus ikut mengambil peran agar kebudayaan tersebut tetap dikenal dan tidak hilang akibat perkembangan zaman.
“Ritual ini sudah ada beberapa ratus tahun lalu. Kita sebagai generasi muda atau penerus akan terus memelihara kebudayaan ini sebagai sesuatu kebanggaan,” tuturnya.
Ia mengatakan, pelestarian tradisi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali nilai kebersamaan yang dibangun oleh masyarakat, termasuk dukungan para donatur yang ikut memberikan sumbangsih terhadap pelaksanaan kegiatan.
“Sebab tujuannya agar kita mengingatkan kembali suatu kebersamaan dari teman-teman donatur yang memberikan sumbangsih untuk perayaan ini agar pelestarian kebudayaan tetap terjaga,” katanya.
Pelaksanaan Sembahyang Rebut di Klenteng Bong Fa Pakkung pada tahun ini akhirnya tidak hanya menjadi agenda rutin masyarakat Tionghoa. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi lokal dapat menjadi jembatan interaksi dan memperkuat toleransi.
Kehadiran warga dari berbagai etnis yang turut menyaksikan rangkaian kegiatan menjadi gambaran bahwa keberagaman dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
Tradisi Sembahyang Rebut pun diharapkan terus dipertahankan oleh generasi berikutnya. Selain sebagai warisan leluhur masyarakat Tionghoa, tradisi tersebut juga dapat menjadi bagian dari kekayaan budaya Bangka Belitung yang mencerminkan nilai kebersamaan, gotong royong dan toleransi antarmasyarakat.
Dengan demikian, Sembahyang Rebut di Pangkalpinang bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat hubungan sosial serta menjaga harmoni masyarakat di tengah keberagaman etnis dan budaya yang ada di Bangka Belitung. (Sumber : beritasatu.com, Editor : KBO Babel)















