KBOBABEL.COM (BANGKA BARAT) – Keheningan warga Desa Berang, Kecamatan Simpang Teritip, Kabupaten Bangka Barat, berubah menjadi guncangan hebat pada Jumat (24/04/2026). Seorang pria paruh baya berinisial IB ditemukan tewas mengenaskan setelah nekat mengakhiri hidupnya sendiri. Keputusan fatal ini diduga kuat dipicu oleh rasa depresi dan ketakutan luar biasa setelah aksi pencabulan yang ia lakukan terhadap anak tirinya terbongkar oleh pihak keluarga. Selasa (28/4/2026)
Peristiwa yang mencoreng tatanan sosial masyarakat setempat ini bermula dari sebuah pengkhianatan kepercayaan dalam rumah tangga. IB, yang seharusnya menjadi pelindung bagi anak-anaknya, justru menjadi predator di bawah atapnya sendiri.
Kronologi Terungkapnya Aksi Bejat
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, tabir gelap ini mulai tersingkap pada Kamis dini hari (23/04/2026). Korban, seorang anak perempuan di bawah umur berinisial C, tengah terlelap di kamarnya sekitar pukul 00.00 WIB. Namun, istirahat malamnya berubah menjadi mimpi buruk saat ia terbangun karena merasakan kontak fisik yang tidak wajar di area sensitifnya.
Dalam kegelapan kamar tersebut, C mendapati ayah tirinya, IB, sedang melancarkan aksi asusila. Syok dan tertekan, korban awalnya tidak mampu berteriak. Beban mental yang begitu besar sempat membuat korban terdiam membisu selama beberapa waktu. Namun, rasa trauma yang mendalam akhirnya mendorong keberanian C untuk mengadu kepada ayah kandungnya.
“Korban sempat trauma hebat dan terdiam. Namun, karena tidak tahan dengan perlakuan tersebut, ia akhirnya menceritakan semuanya kepada ayah kandungnya,” ujar Emo, salah satu warga setempat yang mengikuti perkembangan kasus ini.
Bentrokan Keluarga dan Tekanan Mental
Mendengar pengakuan pilu sang buah hati, ayah kandung korban tersulut emosi. Tanpa menunggu lama, ia segera mendatangi kediaman IB untuk meminta pertanggungjawaban. Pertemuan tersebut pecah menjadi keributan besar. Perkelahian fisik antara ayah kandung dan ayah tiri tak terelakkan di hadapan anggota keluarga lainnya yang hanya bisa terpaku melihat situasi yang memanas.
Setelah keributan tersebut mereda, pihak keluarga memutuskan untuk membawa kasus ini ke jalur hukum. Tekanan sosial dari warga sekitar, rasa malu yang mendalam, serta bayang-bayang ancaman hukuman penjara yang berat diduga menjadi faktor utama yang membuat mental IB runtuh.
Hanya berselang satu hari sejak aksi bejatnya terungkap, pada Jumat (24/04/2026), IB ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Ia diduga kuat mengakhiri hidupnya dengan cara meminum racun. Langkah pengecut ini diyakini diambil pelaku sebagai jalan pintas untuk menghindari proses hukum yang sedang mengintai.
Respons Pihak Kepolisian
Kapolsek Simpang Teritip, IPDA Agus, saat dikonfirmasi oleh awak media membenarkan adanya laporan terkait rangkaian peristiwa tragis tersebut. Meski tidak merinci detail teknis penyelidikan, pihaknya memastikan bahwa laporan awal mengenai pencabulan telah diterima sebelum pelaku ditemukan tewas.
“Wassalamualaikum wr wb. Terimakasih informasinya. Terkait laporan tersebut, (memang benar adanya),” ujar IPDA Agus singkat melalui pesan elektronik.
Saat ini, jenazah IB telah dievakuasi oleh petugas medis dan pihak kepolisian untuk dilakukan visum lebih lanjut guna memastikan penyebab pasti kematiannya. Sementara itu, fokus utama kini beralih kepada kondisi psikologis korban C.
Upaya Pemulihan Korban
Tragedi ini meninggalkan luka yang sangat dalam bagi korban C. Sebagai anak di bawah umur, dampak psikologis dari pelecehan seksual oleh orang terdekat serta kematian tragis ayah tirinya dapat menimbulkan trauma berkepanjangan.
Pemerintah desa setempat bersama instansi terkait direncanakan akan memberikan pendampingan psikologis (trauma healing) kepada korban. Langkah ini krusial agar C dapat kembali menata masa depannya dan pulih dari ingatan buruk yang menimpanya. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi masyarakat akan pentingnya pengawasan terhadap perlindungan anak, bahkan di lingkungan keluarga inti sekalipun. (Sumber : BN16 Bangka, Editor : KBO Babel)
















