Harga Beli Bijih Timah Kadar 72 Persen Naik, Aksi Penambang Beltim Akhirnya Batal

Harga Timah Naik dari Rp130 Ribu ke Rp170 Ribu, Penambang Belitung Timur Urung Demo

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BELITUNG TIMUR) – Rencana aksi demonstrasi besar-besaran yang akan dilakukan ribuan penambang timah rakyat di Kabupaten Belitung Timur (Beltim) pada Rabu, 5 Agustus 2026, resmi dibatalkan. Keputusan tersebut diambil setelah tuntutan utama para penambang terkait kenaikan harga beli bijih timah di tingkat stasiun pengumpul terealisasi. Selasa (4/8/2026)

Pembatalan aksi diumumkan oleh Aliansi Penambang Timah Rakyat Belitung Timur bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dalam pertemuan yang berlangsung di Cafe Pondok Kopi, Desa Padang, Kecamatan Manggar, Senin (3/8/2026).

banner 336x280

Penanggung Jawab Aksi Aliansi Penambang Timah Belitung Timur, Wartha Ade Pramana, menyampaikan bahwa keputusan membatalkan aksi dilakukan setelah adanya perubahan harga beli bijih timah yang sebelumnya menjadi tuntutan utama para penambang.

“Saya selaku penanggung jawab aksi kegiatan dari Aliansi Penambang Timah Belitung Timur menyatakan secara resmi aksi kami pada tanggal 5 Agustus 2026 batal,” ujar Ade dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Menurut Ade, gerakan yang dilakukan para penambang sejak awal tidak bertujuan untuk menciptakan konflik, melainkan memperjuangkan harga beli bijih timah yang dianggap lebih layak bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan rakyat.

Sebelumnya, harga beli bijih timah berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram. Harga tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan hidup para penambang, terutama di tengah kondisi ekonomi yang dinilai masih lesu.

Karena itu, para penambang kemudian menyuarakan tuntutan agar harga beli bijih timah dapat dinaikkan. Bahkan, tuntutan awal yang disampaikan para penambang mencapai Rp200 ribu per kilogram, mengikuti harga yang disebut berlaku di Pulau Bangka.

Namun, setelah melalui serangkaian komunikasi dan pembahasan bersama pihak terkait, akhirnya disepakati harga Rp170 ribu per kilogram untuk bijih timah dengan kadar 72 persen Sn.

Berdasarkan pemantauan langsung yang dilakukan sejumlah koordinator lapangan (korlap) hingga Senin sore, stasiun pengumpul milik PT Timah Tbk telah memberlakukan harga pembelian sebesar Rp170 ribu per kilogram untuk ore atau bijih timah dengan kadar 72 persen Sn.

Bahkan, di sejumlah titik stasiun pengumpul, salah satunya di wilayah Mempaya, harga pembelian terpantau mencapai Rp180 ribu per kilogram.

“Sore ini beberapa rekan korlap di lapangan sudah memantau langsung. Stasiun pengumpul milik PT Timah sudah dilakukan pembelian dengan Rp170.000 kadar 72 persen Sn, ore,” kata Ade.

Ade menjelaskan, angka Rp170 ribu per kilogram tersebut merupakan hasil dari proses komunikasi dan diskusi yang dilakukan antara pihak aliansi penambang dan PT Timah. Menurutnya, angka tersebut dinilai sebagai titik temu yang realistis dan dapat memberikan keuntungan bagi berbagai pihak.

Sementara tuntutan awal yang menginginkan harga Rp200 ribu per kilogram, kata Ade, merupakan aspirasi yang disampaikan berdasarkan kondisi harga di wilayah lain. Namun, setelah mempertimbangkan berbagai aspek, harga Rp170 ribu dinilai sudah cukup memenuhi tuntutan utama para penambang di Belitung Timur.

“Intinya harga Rp170 ribu ini sudah menjadi keuntungan bagi semua pihak,” ujarnya.

Ade menegaskan, kenaikan harga dari Rp130 ribu menjadi Rp170 ribu per kilogram menjadi alasan utama pembatalan aksi demonstrasi yang sebelumnya telah direncanakan. Menurut dia, perjuangan para penambang telah menghasilkan perubahan konkret sehingga tidak ada alasan untuk tetap menggelar aksi.

Ia juga optimistis harga beli bijih timah di Belitung Timur masih memiliki peluang untuk mengalami kenaikan secara bertahap. Harapan tersebut berkaitan dengan perkembangan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta regulasi pemerintah pusat yang diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap tata kelola pertambangan timah.

Aliansi penambang memperkirakan perkembangan kebijakan tersebut mulai memberikan hasil pada awal 2027. Karena itu, para penambang berharap harga yang telah ditetapkan saat ini dapat terus mengalami penyesuaian seiring perkembangan kebijakan dan kondisi pasar.

“Aksi batal karena memang sudah ada pengaruh positif dari yang awalnya Rp130 ribu jadi Rp170 ribu. Kami juga optimis bahwa harga ini nantinya bisa naik lagi secara bertahap,” ungkap Ade.

Ia sekaligus membantah adanya intervensi atau kompromi tertentu di luar kepentingan para penambang dalam keputusan pembatalan aksi. Menurutnya, pembatalan dilakukan secara murni karena tuntutan utama terkait harga telah direalisasikan.

“Ini murni dari awal karena tuntutan sudah terpenuhi, kami melakukan pembatalan. Kalau ada masyarakat penambang Beltim yang belum puas dengan pembatalan ini, silakan langsung ke saya pribadi,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Lapangan Penambang Kecamatan Gantung, Dadang, menyambut positif keputusan tersebut. Ia menyampaikan rasa syukur karena perjuangan para penambang selama beberapa pekan terakhir melalui jalur komunikasi dan diplomasi akhirnya membuahkan hasil.

Menurut Dadang, penetapan harga Rp170 ribu per kilogram untuk kadar 72 persen Sn menjadi patokan yang dianggap lebih normal bagi para penambang dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Alhamdulillah perjuangan kami membuahkan hasil. Patokan harga kami minimal normal, di mana pihak dari PT Timah telah menetapkan harga 72 Sn Rp170 ribu. Kami minta kawan-kawan menyebarkan informasi kebenaran ini,” kata Dadang.

Atas hasil tersebut, Aliansi Penambang Timah Rakyat Belitung Timur menyampaikan apresiasi kepada sejumlah pihak yang dinilai telah membuka ruang komunikasi dan bersedia mendengarkan aspirasi penambang.

Apresiasi disampaikan kepada jajaran Polres Belitung Timur, DPRD Belitung Timur, serta pengawas produksi (Wasprod) PT Timah yang dinilai terbuka dalam menerima masukan dan berdialog dengan para penambang.

Dengan dibatalkannya aksi 5 Agustus 2026, situasi di Belitung Timur diharapkan tetap kondusif. Para penambang kini berharap kenaikan harga bijih timah dapat memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan mereka, sekaligus menjadi awal dari perbaikan tata kelola dan kebijakan pertimahan yang lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat penambang rakyat. (Sumber : posbelitung.co, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed