KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Aksi pembobolan dan perusakan Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung oleh orang tak dikenal (OTD), Senin (30/3/2026), memicu reaksi keras dari kalangan organisasi pers. Insiden ini dinilai bukan sekadar tindak kriminal biasa, melainkan sinyal serius adanya ancaman terhadap kebebasan pers di daerah.
Pro JurnalisMedia Siber (PJS) Babel secara tegas menyatakan bahwa peristiwa tersebut harus dipandang sebagai bentuk intimidasi yang berpotensi merusak iklim demokrasi.
Ketua PJS Babel, Rikky Fermana, menegaskan bahwa kejadian ini menjadi alarm keras bagi seluruh insan pers di Bangka Belitung tanpa terkecuali.
Menurutnya, jika organisasi sebesar PWI yang memiliki sejarah panjang saja dapat menjadi sasaran, maka ancaman terhadap jurnalis di lapangan menjadi semakin nyata.
“Ini bukan sekadar kriminalitas biasa. Ini serangan terhadap rasa aman dan kemerdekaan pers. Tidak boleh ada toleransi terhadap tindakan intimidatif seperti ini,” tegas Rikky.

Ia menilai, perusakan kantor organisasi wartawan membawa pesan berbahaya, yakni upaya menciptakan ketakutan sistematis agar pers tidak leluasa menjalankan fungsi kontrol sosialnya.
Senada, Sekretaris PJS Babel, Muhamad Zen, menyebut insiden tersebut mencederai martabat profesi jurnalistik. Ia mengingatkan bahwa jika kasus ini tidak ditangani secara serius, maka akan menjadi preseden buruk bagi keberlangsungan demokrasi.

“Ini bukan hanya soal kerugian materiil. Ini soal harga diri profesi. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin wartawan di lapangan menjadi target berikutnya,” ujarnya.
PJS Babel pun mendesak aparat kepolisian, khususnya Polresta Pangkalpinang, untuk segera bertindak cepat, profesional, dan transparan dalam mengusut kasus tersebut.

Mereka meminta agar penyelidikan tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi juga menelusuri kemungkinan adanya aktor intelektual di balik aksi tersebut.
“Usut sampai ke akar. Jangan berhenti di pelaku teknis jika ada pihak lain yang menggerakkan. Demokrasi tidak boleh tunduk pada aksi premanisme,” tegas Rikky.

Lebih jauh, PJS Babel mengajak seluruh organisasi pers di Bangka Belitung untuk memperkuat solidaritas dan bersatu menghadapi segala bentuk intimidasi.
Kebebasan pers, menurut mereka, adalah fondasi utama demokrasi yang tidak boleh diganggu oleh rasa takut.
“Ini bukan hanya soal PWI, tapi soal kita semua. Soal marwah pers dan keberanian menyuarakan kebenaran. Kami tegaskan, tidak ada ruang bagi teror terhadap media dan wartawan di Bangka Belitung,” pungkasnya.











