KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Perubahan arah angin memasuki September 2026 menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membawa asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di wilayah Sumatera menuju Bangka Belitung. Jum’at (4/9/2026)
Plt Kepala Harian BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Agus Afandi, mengatakan perubahan pola angin tersebut telah diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Memasuki September, arah angin yang sebelumnya dominan bergerak dari selatan mulai bergeser menuju barat.
“Sesuai dengan prediksi BMKG bahwa pada bulan September ini, arah angin sudah mulai berubah. Dari arah selatan berubah ke barat sehingga ada potensi asap masuk ke Babel,” kata Agus kepada Bangkapos.com, Jumat (4/9/2026).
Menurut Agus, dampak perubahan arah angin tersebut mulai terlihat. Asap tipis dari wilayah Sumatera disebut telah masuk ke sejumlah wilayah Bangka Belitung. Meski belum dalam kondisi pekat, fenomena tersebut menjadi indikator yang perlu diwaspadai, terutama apabila aktivitas Karhutla di Sumatera terus meningkat.
“Artinya, asap tidak tebal sudah mulai ada, imbas dari Sumatera ke arah Bangka Belitung,” ujarnya.
BPBD Babel, kata Agus, terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan Karhutla, baik yang terjadi di wilayah Bangka Belitung maupun potensi dampak asap kiriman dari Sumatera. Kesiapsiagaan juga diperkuat dengan mendorong daerah-daerah yang memiliki potensi kebakaran untuk meningkatkan kemampuan penanganan di lapangan.
Agus menilai kecepatan penanganan menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah kebakaran meluas. Sejumlah kejadian Karhutla yang muncul sejauh ini masih dapat diantisipasi dengan cepat sehingga kondisi secara umum masih berada dalam tingkat kendali.
“Sejauh ini karena potensi kebakaran yang muncul dan bisa diantisipasi dengan cepat, kita mungkin bisa bilang ini masih dalam tingkat kendali,” katanya.
Namun, Agus mengingatkan kondisi tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak lengah. Karhutla dapat berkembang dengan cepat, terlebih ketika kondisi cuaca mendukung dan terdapat banyak titik api dalam waktu bersamaan.
Ia menyebut kejadian kebakaran hutan dan lahan bahkan dapat mencapai ratusan titik dalam satu hari. Kondisi itu tentunya memberikan tekanan terhadap personel maupun peralatan pemadam kebakaran yang dikerahkan untuk melakukan penanganan.
“Bukan berarti ini bisa terus menerus, karena peralatan itu kalau dipakai terus, beberapa damkar mengalami kerusakan,” jelas Agus.
Ia mencontohkan kendaraan suplai yang digunakan dalam penanganan kebakaran sempat mengalami kerusakan pada bagian pompa. Meski demikian, kerusakan tersebut masih dapat diantisipasi melalui perbaikan dengan cepat sehingga tidak mengganggu kesiapsiagaan secara keseluruhan.
BPBD Babel juga mencatat tingginya laporan kejadian Karhutla di wilayah provinsi tersebut. Berdasarkan laporan yang diterima dari sejumlah kabupaten/kota, pada Rabu (2/9/2026) tercatat sebanyak 259 titik kebakaran yang dilaporkan.
“Informasi kemarin yang kita dapat ada 259 titik terlapor dari kabupaten/kota di web kita. Kebakaran di Bangka Belitung,” ujar Agus.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa ancaman Karhutla di Bangka Belitung masih perlu mendapat perhatian serius. Selain berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan, kebakaran lahan juga dapat memunculkan asap yang mengganggu aktivitas masyarakat apabila tidak segera ditangani.
Dengan adanya perubahan arah angin dan potensi masuknya asap dari Sumatera, BPBD Babel mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan. Penanganan sejak dini dinilai penting agar titik kebakaran tidak berkembang menjadi kejadian yang lebih besar.
BPBD bersama pemerintah daerah dan unsur pemadam kebakaran di kabupaten/kota juga dituntut memastikan kesiapan personel, kendaraan, pompa, serta peralatan pendukung lainnya. Kesiapan tersebut menjadi penting mengingat September masih menjadi periode yang harus diwaspadai terhadap potensi peningkatan Karhutla.
Agus menegaskan, kondisi yang masih terkendali saat ini bukan berarti ancaman telah berakhir. Pemantauan dan penanganan cepat tetap diperlukan untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya titik kebakaran serta dampak asap dari wilayah Sumatera ke Bangka Belitung. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)













