Bantuan tersebut disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran pada 10 Oktober 2026. Hingga Selasa (20/10/2026), atau sepuluh hari setelah kejadian, sebagian warga masih bertahan di tenda pengungsian, sementara lainnya menumpang di rumah kerabat.
Bantuan yang diberikan meliputi perlengkapan tidur, pakaian, peralatan dapur, kebutuhan anak-anak, hingga perlengkapan sekolah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan warga tetap memperoleh kebutuhan pokok selama menjalani masa pengungsian dan memulai pemulihan setelah bencana.
Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, menegaskan bahwa penanganan korban kebakaran tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat berteduh. Pemerintah juga harus memastikan kebutuhan sehari-hari keluarga terdampak terpenuhi selama mereka belum dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Menurutnya, warga yang kehilangan tempat tinggal membutuhkan dukungan berkelanjutan, terutama untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar selama berada di pengungsian.
“Penanganan tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat berteduh. Kebutuhan keluarga selama masa pengungsian juga harus diperhatikan. Jangan sampai setelah selamat dari kebakaran, warga justru kesulitan memenuhi kebutuhan paling dasar,” ujarnya, Selasa (20/10/2026).
Kemensos Salurkan Tenda hingga Perlengkapan Keluarga
Untuk mendukung kebutuhan hunian sementara, Kemensos telah menyalurkan 86 tenda keluarga dan empat tenda serbaguna. Selain itu, terdapat 480 kasur, 504 selimut, 430 tenda gulung, serta 195 paket perlengkapan keluarga.
Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu warga yang kehilangan rumah agar memiliki tempat berlindung dan perlengkapan dasar selama masa pengungsian.
Logistik yang disalurkan berasal dari sejumlah gudang penyimpanan, yakni Gudang Regional Kemensos di Palembang, gudang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, serta gudang Kabupaten Bangka Tengah.
Penyaluran bantuan dari beberapa lokasi tersebut menjadi bagian dari upaya memenuhi kebutuhan warga terdampak di tengah situasi darurat pascakebakaran.
Selain kebutuhan tempat tinggal dan perlengkapan keluarga, perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak yang terdampak bencana. Berdasarkan pendataan, terdapat 210 anak usia sekolah, terdiri atas 12 anak PAUD, 163 siswa sekolah dasar (SD), 23 siswa sekolah menengah pertama (SMP), dan 12 siswa sekolah menengah atas (SMA).
Untuk mendukung kebutuhan mereka, Kemensos menyalurkan 800 paket makanan anak, 184 paket perlengkapan anak, 100 setel pakaian anak, dan 50 paket perlengkapan sekolah.
Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan anak-anak selama masa pengungsian, sekaligus mendukung agar kebutuhan pendidikan mereka tetap mendapat perhatian meskipun keluarga sedang menghadapi situasi darurat.
Kemensos juga menyalurkan 100 paket peralatan dapur keluarga, pakaian dewasa, serta perlengkapan ibadah. Berbagai bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang kehilangan harta benda akibat kebakaran.
Sebanyak 80 Keluarga Masih Bertahan di Pengungsian
Berdasarkan data per 20 Oktober 2026, sebanyak 333 keluarga atau 980 jiwa tercatat terdampak langsung kebakaran. Sementara itu, 137 keluarga lainnya atau 548 jiwa masuk dalam kategori terdampak tidak langsung.
Dengan demikian, total warga yang tercatat terdampak langsung maupun tidak langsung mencapai 470 keluarga atau 1.528 jiwa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 80 keluarga atau 286 jiwa masih berada di pengungsian terpusat di lapangan bola Dusun Serdang. Sebagian besar warga lainnya memilih mengungsi ke rumah keluarga atau kerabat terdekat.
Meski tidak menimbulkan korban meninggal dunia maupun luka-luka, kebakaran tersebut berdampak besar terhadap kehidupan masyarakat, terutama keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam kondisi terbatas.
Kebakaran dilaporkan bermula dari lahan di dekat permukiman. Api kemudian merambat dengan cepat akibat tiupan angin kencang dan kondisi lingkungan yang kering. Banyaknya rumah berdinding papan turut mempercepat penyebaran api ke kawasan permukiman.
Penanganan Melibatkan Berbagai Pihak
Dalam penanganan pascakebakaran, warga setempat telah mendirikan dapur mandiri dengan memanfaatkan bantuan dari pemerintah daerah. Sementara itu, kebutuhan air bersih didukung oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Bangka Selatan.
Penanganan darurat juga melibatkan Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dinas Sosial Kabupaten Bangka Selatan, Taruna Siaga Bencana (Tagana), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), petugas pemadam kebakaran, TNI, Polri, Palang Merah Indonesia (PMI), pemerintah setempat, masyarakat, serta relawan.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut diperlukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan bagi pengungsi, serta koordinasi penanganan dampak bencana.
Kemensos melalui Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan bantuan dapat mendukung kebutuhan warga selama masa pengungsian.
Dengan masih adanya puluhan keluarga yang bertahan di pengungsian terpusat, pemenuhan kebutuhan dasar dan dukungan pemulihan menjadi perhatian penting dalam penanganan lanjutan. Bantuan logistik senilai Rp1,42 miliar tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah meringankan beban korban kebakaran Dusun Serdang, sembari mendukung warga melewati masa darurat dan menata kembali kehidupan mereka. (Sumber : RRI, Editor : KBO Babel)

















