Krisis Pertalite-Pertamax di Babel Makin Parah, Warga Desak Pemerintah Bertindak Cepat

BBM Langka di Bangka Belitung, Antrean Mengular dan Aktivitas Warga Nyaris Lumpuh

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (BANGKA) – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) kembali menghantam kehidupan masyarakat Bangka Belitung. Sejak awal pekan, stok Pertalite dan Pertamax di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Pulau Bangka menipis drastis, menyebabkan antrean kendaraan mengular hingga ratusan meter. Kondisi ini memicu keresahan luas karena aktivitas masyarakat ikut terganggu. Senin (17/11/2025)

Di Kota Pangkalpinang, antrean mulai terbentuk bahkan sebelum matahari terbit. Warga dari berbagai kecamatan datang sejak subuh demi mendapatkan jatah BBM yang belum tentu tersedia. Kendaraan roda dua dan roda empat tampak memenuhi halaman SPBU dan sebagian memadati badan jalan hingga menyebabkan kemacetan.

banner 336x280

“Kalau datang jam enam sudah telat. Kadang pas sampai depan, BBM habis,” kata Dani, warga Pangkalpinang, dengan nada kesal, Senin (17/11/2025).

Situasi semakin memburuk karena tidak hanya Pertalite yang langka, tetapi juga Pertamax yang biasanya menjadi alternatif bagi masyarakat kini ikut tak tersedia. Beberapa SPBU bahkan menutup dispenser Pertamax selama berjam-jam karena stok benar-benar kosong.

“Pertalite hilang, Pertamax pun tidak ada. Kami seperti dipaksa berjudi demi dapat BBM,” ujar Reni, pengendara lain yang sudah antre lebih dari dua jam.

Antrean Panjang dari Pangkalpinang hingga Bangka Selatan

Pantauan situasi di beberapa titik seperti Sungailiat, Bangka Tengah, hingga Bangka Selatan menunjukkan kondisi yang hampir seragam. Di beberapa lokasi, antrean bahkan mencapai lebih dari satu kilometer, menimbulkan penumpukan kendaraan yang mengganggu arus lalu lintas.

Warga menyebut kelangkaan kali ini sebagai kondisi yang terparah dalam beberapa bulan terakhir. Di beberapa SPBU, warga harus mengantre hingga tiga jam hanya untuk mendapatkan setengah tangki BBM, bahkan sebagian pulang dengan kecewa karena stok terlanjur habis sebelum giliran mereka tiba.

Kelangkaan ini tidak hanya mengganggu mobilitas masyarakat umum, tetapi juga memukul sektor ekonomi kecil. Pengemudi ojek, sopir travel, pedagang keliling, dan pelaku UMKM menjadi pihak yang paling merasakan dampak langsung karena mereka bergantung pada BBM untuk menjalankan usaha.

“Kalau bisa kerja satu hari penuh, ini habis setengah hari buat antre BBM,” kata Ridho, sopir travel yang mengeluhkan pendapatannya menurun drastis.

Hal serupa juga dialami pedagang keliling. Banyak dari mereka terpaksa membatalkan rute jualan karena tidak mampu menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi BBM.

Warga Terpaksa Beli BBM Eceran

Sebagian warga, terutama yang bekerja dengan mobilitas tinggi, akhirnya memilih membeli BBM eceran meski harganya jauh lebih mahal. Para pengecer memanfaatkan kondisi ini dengan menaikkan harga di atas harga resmi SPBU.

Tindakan ini menambah beban ekonomi masyarakat yang tengah berjuang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun bagi beberapa warga, memilih BBM eceran dianggap sebagai satu-satunya cara agar mereka tetap dapat beraktivitas.

Desakan Warga: Pemerintah Jangan Hanya Memantau

Kemarahan masyarakat kian memuncak karena hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pemerintah daerah maupun Pertamina mengenai penyebab pasti kelangkaan BBM. Muncul berbagai spekulasi mulai dari keterlambatan suplai hingga dugaan adanya penyimpangan distribusi.

Namun tanpa klarifikasi, masyarakat menilai pemerintah lambat merespons situasi darurat ini. Mereka menuntut langkah konkret dari Pemprov Babel, Pertamina, dan aparat pengawas distribusi.

“Jangan saling lempar. Masyarakat butuh kepastian pasokan, bukan alasan,” tegas seorang warga di kawasan Semabung.

Warga mendesak pemerintah turun langsung memantau SPBU, mengawasi jalur distribusi, serta memastikan stok kembali normal dalam waktu dekat. Mereka menilai krisis ini sudah mengganggu berbagai sektor kehidupan, mulai dari kegiatan ekonomi hingga layanan sosial yang turut terhambat.

Risiko Masalah Sosial dan Ekonomi Lebih Besar

Berlarutnya kelangkaan dikhawatirkan memicu masalah sosial yang lebih besar, termasuk potensi konflik antarwarga akibat berebut BBM. Selain itu, dampak ekonomi diprediksi semakin meluas jika kondisi ini tidak segera ditangani.

Pemerintah diharapkan tidak hanya memberikan pernyataan bahwa situasi sedang “dipantau”, tetapi mengambil tindakan nyata yang dapat dirasakan masyarakat.

“Ini bukan sekadar antre panjang. Ini soal mobilitas masyarakat satu pulau yang terganggu. Pemerintah harus hadir, bukan hanya menyatakan sedang ‘dipantau’,” tutup warga tersebut.

Warga kini hanya berharap pemerintah daerah dan Pertamina segera mencari solusi dan memastikan kelangkaan BBM di Pulau Bangka tidak kembali terjadi dalam waktu dekat. (Sumber : Asatu Online, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed