Mafia Timah di Babel Diintai CIC, Kejagung Dites: Berani Menyentuh Aktor Besar atau Tidak?

Babel Berdarah: Korupsi Timah Diduga Libatkan Bos Besar, CIC Minta Penegakan Hukum Tuntas

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) — Kasus korupsi tata niaga timah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) terus menjadi sorotan nasional. Bukan hanya karena nilai kerugian negara yang mencapai ratusan triliun rupiah, tetapi juga karena dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkannya. Di tengah pusaran kasus ini, Dewan Pimpinan Pusat Corruption Investigation Committee (CIC) muncul sebagai lembaga yang lantang menuntut keadilan dan keberanian aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas seluruh jaringan mafia timah ilegal di Babel. Kamis (9/10/2025)

Ketua Umum CIC, Raden Bambang, menyebut kasus korupsi tata niaga timah ini bukan sekadar tindak pidana ekonomi, melainkan tragedi kemanusiaan yang telah merenggut masa depan masyarakat Babel. Ia menilai praktik tambang ilegal yang telah berlangsung bertahun-tahun bukan hanya memperkaya segelintir orang, tetapi juga menghancurkan lingkungan dan kehidupan masyarakat pesisir.

banner 336x280

“Lebih dari sekadar angka Rp300 triliun, ini adalah tragedi kemanusiaan. Hutan rusak, laut tercemar, masyarakat kehilangan mata pencaharian, dan generasi muda kehilangan masa depan. Ini bukan hanya soal korupsi, tapi juga soal keadilan bagi rakyat Babel,” tegas Bambang, Rabu (9/10/2025).

Menurutnya, selama ini penegakan hukum masih terkesan tebang pilih. CIC mencatat bahwa meski sejumlah pelaku lapangan sudah diamankan, para “bos timah” besar yang diduga menjadi dalang masih bebas berkeliaran. Bambang menilai hal itu terjadi karena adanya jaringan kekuasaan yang melindungi bisnis haram tersebut.

“Kami menduga ada gurita besar di balik bisnis timah ilegal ini. Tidak mungkin para bos ini bisa beroperasi tanpa perlindungan. Ada oknum legislatif, oknum pejabat daerah, bahkan oknum aparat hukum yang menjadi backing mereka,” ungkapnya.

Bambang menegaskan, CIC menantang Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk berani menelusuri dan menindak siapa pun yang terlibat, tanpa pandang bulu. Ia menilai saat ini publik menanti apakah Kejagung benar-benar berani menyentuh aktor besar di balik kasus ini.

“Sekarang kita lihat, bernyali tidak Jaksa Agung mengadili mereka yang berlindung di balik baju seragam dan yang membacking para bos timah ilegal seperti Ahon, Athiam, dan Agat? Jangan sampai Kejagung masuk angin!” seru Bambang dengan nada keras.

CIC juga menuntut agar Kejagung melakukan investigasi menyeluruh, termasuk menelusuri aliran dana hasil tambang ilegal yang diduga mengalir ke sejumlah pihak berpengaruh. Bambang menekankan pentingnya penyitaan seluruh aset pelaku, baik yang ada di dalam maupun luar negeri, sebagai bagian dari pemulihan kerugian negara dan rehabilitasi lingkungan di Babel.

“Jangan hanya tangkap ikan teri, tangkap juga ikan hiunya. Jangan cuma sita aset kecil, tapi juga aset besar yang disembunyikan di luar negeri. Hasilnya harus dikembalikan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan dan membantu masyarakat yang jadi korban,” tegasnya.

Selain menyoroti aparat penegak hukum, CIC juga menilai pemerintah daerah Babel gagal menekan praktik tambang ilegal. Menurut Bambang, lemahnya pengawasan dan minimnya tindakan tegas dari pemerintah daerah membuat para penambang ilegal semakin berani.

“Pemerintah daerah seolah menutup mata. Padahal masyarakat Babel sudah sangat menderita. Perekonomian hancur, lingkungan rusak, dan tidak ada kepastian hukum. Kami melihat pemerintah daerah gagal menjalankan fungsi pengawasan dan justru membiarkan ini terjadi,” ujarnya.

CIC pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk turun tangan langsung dalam menyelesaikan persoalan timah ilegal di Babel. Bambang menilai, intervensi pemerintah pusat sangat dibutuhkan agar kasus ini tidak mandek dan agar masyarakat kembali percaya pada sistem hukum yang adil.

“Kami berharap Presiden Prabowo benar-benar memperhatikan Babel. Presiden harus kirim tim khusus untuk menyelidiki praktik korupsi dan tambang ilegal ini. Kami percaya beliau punya komitmen kuat untuk memberantas korupsi dan memulihkan ekonomi daerah,” ujar Bambang.

Selain mendesak pemerintah dan aparat hukum, CIC juga mengajak masyarakat Babel untuk ikut bersuara dan tidak takut melawan praktik ilegal yang merugikan daerah. Ia menegaskan bahwa perubahan hanya bisa terjadi jika masyarakat bersatu memperjuangkan kebenaran.

“Kami mengajak masyarakat Babel untuk berani berbicara, berani menolak, dan berani menuntut keadilan. Jangan takut kepada siapa pun. Kita harus bersatu menyelamatkan Babel dari kehancuran,” ujarnya menegaskan.

CIC berkomitmen akan terus mengawal kasus korupsi tata niaga timah hingga tuntas. Lembaga itu juga menyatakan siap bekerja sama dengan aparat penegak hukum dan lembaga antikorupsi lainnya untuk memastikan keadilan ditegakkan tanpa kompromi.

“Babel tidak boleh dibiarkan terus berdarah karena kerakusan segelintir orang. Kami akan kawal kasus ini sampai akar. Negara harus hadir untuk rakyat, bukan untuk para mafia,” pungkas Bambang.

Kasus korupsi tata niaga timah di Babel kini menjadi ujian besar bagi integritas Kejaksaan Agung dan komitmen pemerintah dalam memberantas kejahatan terorganisir di sektor sumber daya alam. Publik menanti langkah nyata—apakah keadilan benar-benar ditegakkan, atau justru gurita timah ilegal kembali lolos dari jerat hukum. (Sumber : newsharian.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed