KBOBABEL.COM (PANGKALPINANG) – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Wihaji, melakukan peninjauan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, untuk memastikan pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah. Jum’at (7/8/2026)
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memastikan kualitas layanan, ketepatan sasaran, serta pemenuhan standar gizi dalam pelaksanaan program prioritas nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak sekaligus menekan angka stunting di Indonesia.
Usai melakukan peninjauan, Wihaji menyampaikan apresiasinya terhadap pengelolaan SPPG di Pangkalpinang yang dinilai telah berjalan dengan baik.
“Alhamdulillah, layanan SPPG MBG khusus 3B ini sudah bagus dan telah menjalankan prosedur tetap (protap) yang ditetapkan pemerintah,” ujar Wihaji, Kamis.
Menurutnya, kunjungan lapangan tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta seluruh jajaran pemerintah untuk lebih banyak turun langsung ke lapangan guna memastikan berbagai program strategis benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Ia mengatakan Presiden menekankan pentingnya pengawasan langsung dibandingkan hanya menggelar rapat atau diskusi di dalam ruangan.
“Presiden Prabowo Subianto telah meminta agar kita tidak banyak diskusi, lokakarya, dan lainnya. Tetapi harus banyak turun ke lapangan untuk memastikan kualitas layanan SPPG khusus MBG 3B ini,” katanya.
Dalam peninjauan tersebut, Wihaji memeriksa secara langsung berbagai tahapan pelayanan di SPPG, mulai dari proses pengolahan makanan, kebersihan dapur, kualitas bahan pangan, penyimpanan makanan, hingga mekanisme distribusi kepada para penerima manfaat.
Menurutnya, seluruh proses harus memenuhi standar keamanan pangan dan gizi agar makanan yang diterima benar-benar memberikan manfaat optimal bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Selain memastikan kualitas makanan, pemerintah juga ingin memastikan distribusi bantuan dilakukan tepat waktu dan tepat sasaran.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang disalurkan, tetapi juga dari kualitas pelayanan, kandungan gizi, serta dampaknya terhadap peningkatan kesehatan masyarakat.
“Kami ingin memastikan apakah pendistribusian MBG khusus 3B sudah tepat waktu, tepat sasaran, memenuhi standar gizi yang ditetapkan, dan jika terjadi masalah harus segera diselesaikan,” ujarnya.
Menurut Wihaji, evaluasi lapangan menjadi bagian penting dalam memperbaiki sistem pelayanan apabila ditemukan kendala di daerah.
Ia menyebut pemerintah tidak ingin ada keterlambatan distribusi maupun penurunan kualitas makanan yang dapat mengurangi efektivitas program.
Selama berada di lokasi, Wihaji juga berdialog dengan petugas SPPG untuk memperoleh gambaran mengenai pelaksanaan program sehari-hari, termasuk tantangan yang dihadapi dalam memenuhi kebutuhan penerima manfaat.
Ia berharap seluruh petugas tetap menjaga konsistensi pelayanan agar kualitas program dapat dipertahankan.
“Saya tadi sudah berkeliling SPPG ini melakukan pengecekan. Namun yang terpenting adalah semua SPPG wajib memberikan MBG khusus 3B untuk mengurangi prevalensi stunting di daerah ini,” katanya.
Lebih lanjut, Wihaji menegaskan bahwa program MBG khusus ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan inovasi pemerintah Indonesia yang belum dimiliki negara lain.
Menurutnya, banyak negara telah menjalankan program pemberian makanan bergizi untuk anak sekolah. Namun, program yang secara khusus menyasar kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai upaya pencegahan stunting masih menjadi terobosan yang dikembangkan Indonesia.
“MBG khusus 3B baru ada di Indonesia. Oleh karena itu kita ingin memastikan SPPG seluruh wilayah di Indonesia berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita merupakan fase paling penting dalam pembangunan sumber daya manusia karena kualitas gizi pada periode tersebut sangat menentukan tumbuh kembang anak di masa depan.
Oleh sebab itu, pemerintah terus memperkuat pelaksanaan program MBG sebagai salah satu strategi nasional dalam mempercepat penurunan angka stunting sekaligus meningkatkan kualitas generasi mendatang.
Menurut Wihaji, hasil peninjauan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan pelaksanaan program berjalan sesuai harapan.
Ia mengapresiasi sinergi pemerintah daerah, tenaga kesehatan, serta seluruh petugas SPPG yang telah bekerja menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sudah bagus,” katanya.
Pemerintah berharap keberhasilan pelaksanaan SPPG di Pangkalpinang dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menjalankan program Makanan Bergizi Gratis, sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di seluruh Indonesia serta mendukung terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. (Sumber : Babelpos.id, Editor : KBO Babel)












