Perminas-PT Timah Kolaborasi Olah Tin Slag, Bidik Mineral Tanah Jarang Bernilai Strategis
- account_circle Farraz Prakasa
- calendar_month 31 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto : Ilustrasi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KBOBABEL.COM (JAKARTA) – PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) menjalin kerja sama strategis dengan PT Timah Tbk (TINS) untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah sisa produksi timah menjadi Logam Tanah Jarang (LTJ). Kolaborasi dua perusahaan BUMN di bawah naungan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) tersebut menjadi salah satu upaya mendorong hilirisasi mineral kritis di Indonesia. Kamis (5/11/2026)
Kerja sama ini difokuskan pada riset dan pengembangan teknologi pengolahan limbah hasil produksi timah, khususnya Sisa Hasil Produksi (SHP) atau tailing serta tin slag. Material tersebut menjadi objek penelitian untuk mengetahui potensi kandungan mineral bernilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan lebih lanjut.
Direktur Teknologi dan Pengembangan Bisnis Perminas, La Ode Tarfin Jaya, mengatakan koordinasi antara Perminas dan PT Timah telah berjalan secara intensif. Kedua perusahaan saat ini sedang melakukan riset bersama untuk mengoptimalkan pemanfaatan material sisa produksi tersebut.
Menurut La Ode, kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya mengembangkan potensi sumber daya mineral nasional melalui penguasaan teknologi pengolahan yang sesuai.
“Kalau dengan PT Timah kan kami koordinasinya cukup intensif karena sesama BUMN di bawah Danantara ya. Jadi riset bersama kemudian untuk pemanfaatan SHP. SHP dan tin slag-nya, tin slag-nya,” ungkap La Ode saat ditemui di sela kegiatan Minerba Convention & Exhibition (Convex) 2026 di JIExpo, Selasa (3/11/2026).
Ia menjelaskan, kesepakatan kerja sama kedua perusahaan sebenarnya telah ditandatangani beberapa bulan sebelumnya. Saat ini, kolaborasi tersebut telah memasuki tahap pelaksanaan riset teknis yang melibatkan tim dari masing-masing perusahaan.
Dengan demikian, kerja sama tidak hanya berhenti pada penandatanganan kesepakatan, tetapi mulai diarahkan pada penelitian dan pengembangan metode pengolahan limbah timah secara berkelanjutan.
“Kami sudah menandatanganinya kan beberapa bulan yang lalu, mungkin kalau diingat ya dengan Timah. Sekarang lagi on going, on going bersama tim di kami, kemudian dari PT Timah,” imbuhnya.
Pemanfaatan SHP dan tin slag dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan nilai tambah dari kegiatan pertambangan timah. Selama ini, material sisa produksi masih menyimpan potensi mineral yang perlu diteliti lebih lanjut agar dapat dimanfaatkan secara optimal.
Melalui riset tersebut, Perminas dan PT Timah berupaya mengembangkan proses pengolahan yang mampu memisahkan serta mengoptimalkan kandungan mineral bernilai strategis. Namun, hasil dan nilai ekonomis dari pengolahan material tersebut masih bergantung pada hasil penelitian teknis yang sedang berjalan.
Perminas Eksplorasi LTJ di Mamuju
Selain menjalin kerja sama dengan PT Timah, Perminas juga mengembangkan kegiatan eksplorasi Logam Tanah Jarang di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.
Perusahaan tersebut telah mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi untuk komoditas LTJ dengan luas wilayah konsesi mencapai 7.300 hektare. Wilayah tersebut terbagi dalam dua blok dan memiliki potensi mineral tanah jarang tipe ion-adsorption clay primer.
Saat ini, kegiatan di wilayah Mamuju masih berada dalam tahap pengeboran eksplorasi. Tahapan tersebut dilakukan untuk memperoleh data mengenai karakteristik geologi, sebaran, serta potensi kandungan mineral tanah jarang di wilayah konsesi.
La Ode menyampaikan bahwa Perminas tetap mempersiapkan tim untuk menjalankan penugasan pengembangan LTJ apabila pemerintah memberikan mandat tambahan.
“Kita menunggu, menunggu, menunggu. Yang jelasnya sekarang kan Mamuju 7.300 hektare di dua blok. Jadi kalau misalnya pemerintah misalnya memberi tugas lagi ya kita siap timnya, prinsipnya itu,” tandasnya.
Dorong Hilirisasi LTJ di Bangka Belitung
Sementara itu, kerja sama Perminas dan PT Timah juga memiliki keterkaitan langsung dengan rencana pengembangan hilirisasi Logam Tanah Jarang di wilayah Bangka Belitung.
Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha PT Timah Tbk, Harry Budi Sidharta, sebelumnya menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut difokuskan pada pemanfaatan kemampuan teknologi Perminas dalam pengelolaan mineral tanah jarang.
Menurut Harry, Perminas memiliki mandat dalam pengelolaan LTJ sehingga diharapkan dapat menjadi mitra strategis PT Timah, terutama dalam penyediaan teknologi untuk proses pengolahan dan pemurnian mineral tersebut.
Penjelasan itu disampaikan Harry dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta, sebagaimana dikutip pada Senin (15/6/2026).
“Terkait dengan kerja sama dengan Perminas, kita fokus pada pengelolaan logam tanah jarang. Sebagaimana diketahui mandat dari Perminas adalah pengelolaan logam tanah jarang, maka peran Perminas di dalam kerja sama hilirisasi tanah jarang di Bangka Belitung bersinergi dengan PT Timah adalah sebagai partner kita dalam penyediaan teknologi,” ujarnya.
Harry menilai penguasaan teknologi menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan industri LTJ. Proses pengolahan mineral tersebut memiliki tingkat kompleksitas tinggi dan berkaitan dengan dinamika geopolitik internasional.
Kondisi tersebut membuat akses terhadap teknologi pengolahan dan pemurnian LTJ tidak selalu mudah diperoleh. Karena itu, PT Timah memilih bersinergi dengan Perminas untuk mendukung pengembangan teknologi yang sesuai dengan karakteristik mineral di wilayah Bangka Belitung.
“Sebagaimana diketahui bahwa teknologi dari pengelolaan Logam Tanah Jarang merupakan salah satu yang tidak mudah didapatkan, sensitif terhadap isu geopolitik dan lain-lain, maka kita manfaatkan atau kita bekerja sama bersinergi dengan Perminas untuk membantu kita mendapatkan teknologi yang sesuai dalam pengelolaan logam tanah jarang di Bangka Belitung,” jelas Harry.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka peluang pemanfaatan mineral ikutan dari kegiatan pertambangan timah sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral nasional.
Jika riset dan pengembangan teknologi berjalan sesuai target, pengolahan SHP dan tin slag berpotensi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan industri LTJ di dalam negeri.
Bagi Bangka Belitung, langkah ini menjadi peluang untuk memperluas kegiatan hilirisasi, sehingga potensi mineral tidak hanya dimanfaatkan dalam bentuk komoditas mentah, tetapi juga dapat dikembangkan melalui proses pengolahan yang memberikan nilai ekonomi lebih tinggi.
Meski demikian, realisasi pemanfaatan limbah timah menjadi produk LTJ tetap membutuhkan pembuktian melalui penelitian, kesiapan teknologi, serta pengembangan proses produksi yang memenuhi standar teknis dan lingkungan.
Melalui kerja sama tersebut, Perminas dan PT Timah diharapkan mampu memperkuat kemampuan nasional dalam mengelola mineral kritis sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi pengolahan dari luar negeri. (Sumber : CNBC Indonesia, Editor : KBO Babel)
- Penulis: Farraz Prakasa
- Editor: Sri Rezeki





Saat ini belum ada komentar