Pesawat ATR 42-500 Hilang Kontak, Diduga Tabrak Bukit dan Meledak di Gunung Bulusaraung

ATR 42-500 Jatuh di Gunung Bulusaraung, Saksi Mata Lihat Pesawat Terbang Rendah dan Meledak

banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM (SULAWESI SELATAN) – Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang sempat dilaporkan hilang kontak diduga menabrak bukit dan meledak sebelum akhirnya jatuh di kawasan pegunungan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan. Kecelakaan tragis tersebut terjadi pada Sabtu (17/1/2026) dan langsung memicu operasi pencarian dan penyelamatan besar-besaran oleh tim SAR gabungan. Senin (19/1/2026)

Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT itu diketahui lepas landas dari Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, dengan tujuan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Berdasarkan jadwal penerbangan, pesawat seharusnya mendarat sekitar pukul 12.20 Wita. Namun hingga melewati waktu pendaratan, pesawat tidak kunjung tiba dan dinyatakan hilang kontak saat melintasi wilayah Leang-leang, Kabupaten Maros.

banner 336x280

Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menyampaikan gambaran awal terkait dugaan penyebab kecelakaan pesawat tersebut. Berdasarkan posisi penemuan bangkai pesawat dan serpihan di lokasi kejadian, pesawat diduga kuat menghantam dinding gunung atau lereng Bukit Bulusaraung.

“Kemungkinan besar pesawat menabrak tebing atau lereng. Dari indikasi awal, pesawat masih dalam kondisi terkendali oleh pilot,” ujar Soerjanto dalam konferensi pers di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

Soerjanto menjelaskan, kecelakaan ini masuk dalam kategori controlled flight into terrain (CFIT). Dalam kondisi CFIT, pesawat sebenarnya masih dapat dikendalikan oleh awak kokpit, namun menabrak permukaan bumi seperti bukit, gunung, atau lereng akibat faktor tertentu.

“Jadi pesawat itu namanya controlled flight. Tidak ada masalah pada proses pengendalian pesawatnya. Namun, yang jelas pesawat menabrak bukit dengan kondisi yang ada,” kata Soerjanto.

Akibat benturan keras dengan lereng gunung, pesawat diduga hancur dan meledak di udara rendah atau sesaat setelah menghantam permukaan. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah pecahan dan serpihan pesawat yang tersebar di kawasan pegunungan.

“Terjadi beberapa pecahan atau serpihan pesawat akibat benturan yang sangat keras,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa dalam kategori CFIT, tabrakan terjadi bukan karena kesengajaan. Pesawat masih berada dalam kendali pilot, namun kondisi lingkungan seperti cuaca, visibilitas, atau kontur medan dapat menjadi faktor penyebab terjadinya kecelakaan.

Saksi Mata Lihat Detik-Detik Ledakan

Peristiwa mengerikan tersebut juga disaksikan langsung oleh dua pendaki muda yang berada di kawasan Gunung Bulusaraung. Reski (20) dan Muslimin (18) menjadi saksi mata kunci yang melihat pesawat terbang sangat rendah sebelum akhirnya menabrak bukit dan meledak.

Saat berada di puncak Bulusaraung, keduanya melihat pesawat melintas dengan ketinggian yang tidak biasa. Beberapa saat kemudian, ledakan besar disertai kobaran api terlihat di lereng gunung.

“Meledak dan ada api. Saya lihat serpihan berhamburan. Cepat sekali kejadiannya,” tutur Reski dengan suara gemetar.

Jarak keduanya yang diperkirakan hanya sekitar 100 meter dari titik ledakan membuat mereka terpaku ketakutan. Reski bahkan sempat mengabadikan serpihan badan pesawat yang memuat logo Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta sejumlah dokumen yang terhambur di sekitar lokasi kejadian.

Temuan saksi mata ini semakin menguatkan dugaan bahwa pesawat mengalami benturan keras dengan lereng gunung sebelum akhirnya hancur.

Operasi SAR Hadapi Medan Ekstrem

Kondisi medan yang sangat terjal dan sulit dijangkau menjadi tantangan utama dalam proses pencarian dan evakuasi. Tim SAR gabungan, termasuk personel Kopasgat TNI AU, terpaksa melakukan air landed atau penerjunan langsung di puncak Gunung Bulusaraung.

Pada Minggu pagi (18/1/2026) pukul 08.22 Wita, tim Kopasgat beranggotakan enam orang berhasil diterjunkan dan mengamankan sejumlah bagian pesawat, mulai dari jendela, badan, hingga ekor.

Sementara itu, Kepala Seksi Operasi Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengungkapkan bahwa badan dan ekor pesawat ATR 42-500 ditemukan di lereng selatan puncak Gunung Bulusaraung pada pukul 07.49 Wita.

“Pada pukul 07.49 Wita ditemukan badan pesawat dan ekor pesawat di lereng bagian selatan. Kalau dari puncak, lokasinya berada di sisi utara,” ujar Andi Sultan kepada wartawan di Posko Balocci, Kabupaten Pangkep, Minggu (18/1/2026).

Ia mengatakan, Tim AJU (Advance Jungle Unit) langsung diberangkatkan untuk melakukan evakuasi awal terhadap bagian terbesar pesawat yang ditemukan.

“Serpihan terbesar adalah badan pesawat. Tim AJU kami berangkatkan lebih dulu menuju lokasi tersebut,” jelasnya.

Menurut Andi Sultan, akses menuju lokasi penemuan sangat terjal dan berbahaya. Oleh karena itu, tim SAR gabungan harus menghitung faktor keselamatan secara cermat sebelum melakukan evakuasi.

“Akses untuk turun ke badan pesawat ini cukup terjal. Kami harus memastikan faktor keselamatan tim. Kendala lain saat ini adalah kabut yang masih tebal,” katanya.

Selain badan dan ekor pesawat, tim SAR juga menemukan serpihan kecil berupa jendela pesawat di koordinat 04°55’48” Lintang Selatan dan 119°44’52” Bujur Timur.

“Dari kru helikopter terlihat serpihan window pesawat dalam kondisi kecil,” tambahnya.

Untuk proses evakuasi lanjutan, tim SAR memutuskan menggunakan jalur pendakian sebagai jalur utama. Sekitar 500 personel SAR gabungan dikerahkan untuk mendukung proses evakuasi di medan yang ekstrem tersebut.

“Kami tetap menggunakan jalur pendakian karena lebih aman. Ada jalur yang lebih dekat, tapi sangat terjal, sehingga kami mengutamakan keselamatan,” kata Andi Sultan.

Hingga saat ini, proses pencarian, evakuasi, dan investigasi masih terus dilakukan. KNKT memastikan akan melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mengungkap faktor-faktor yang menyebabkan kecelakaan pesawat ATR 42-500 tersebut, termasuk aspek teknis, cuaca, serta kondisi operasional penerbangan. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *