KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bangka Selatan masih bertahan di angka Rp3.100 per kilogram dalam tiga pekan terakhir. Stabilnya harga tersebut disambut positif oleh para petani setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan cukup tajam yang berdampak pada pendapatan mereka. Rabu (8/7/2026)
Meski demikian, petani mengaku belum sepenuhnya merasakan keuntungan karena tingginya harga pupuk nonsubsidi masih menjadi beban utama dalam biaya produksi kebun sawit.
Petani sawit asal Desa Jeriji, Kabupaten Bangka Selatan, Yanto, mengatakan harga TBS di tingkat pabrik tidak mengalami perubahan selama sekitar tiga pekan terakhir. Sementara harga jual melalui pengepul berada pada kisaran Rp2.750 hingga Rp2.800 per kilogram.
“Sudah sekitar tiga minggu harga bertahan. Di pabrik masih Rp3.100 per kilogram, sedangkan di pengepul sekitar Rp2.750 sampai Rp2.800 per kilogram. Belum ada kenaikan ataupun penurunan,” kata Yanto, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, kondisi harga yang stabil memberikan kepastian bagi petani dalam menjual hasil panen. Setelah beberapa waktu lalu harga sawit sempat merosot tajam, kondisi saat ini dinilai jauh lebih baik karena pendapatan petani mulai kembali membaik.
Namun demikian, kenaikan pendapatan tersebut belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan petani karena biaya operasional kebun masih cukup tinggi.
Harga Pupuk Jadi Beban Terbesar
Yanto mengatakan persoalan utama yang dihadapi petani saat ini adalah mahalnya harga pupuk nonsubsidi.
Ia mengungkapkan harga pupuk hingga kini masih berada di atas Rp530 ribu per sak, jauh lebih tinggi dibandingkan harga sebelumnya yang berkisar Rp420 ribu per sak.
Menurutnya, kenaikan harga pupuk membuat biaya perawatan kebun meningkat cukup signifikan.
“Alhamdulillah harga sawit sudah lumayan, tetapi harga pupuk nonsubsidi belum turun. Sekarang masih di atas Rp530 ribu per sak,” ujarnya.
Ia menilai apabila harga pupuk dapat kembali berada di bawah Rp500 ribu per sak, sebagian besar petani masih mampu memenuhi kebutuhan pemupukan secara rutin.
“Kalau harganya di bawah Rp500 ribu per sak, petani masih sanggup membeli. Tapi kalau tetap tinggi seperti sekarang, tentu cukup memberatkan,” katanya.
Yanto menjelaskan pemupukan merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas tanaman sawit. Jika pemupukan dikurangi karena keterbatasan biaya, hasil panen dikhawatirkan ikut menurun pada musim berikutnya.
Karena itu, ia berharap pemerintah dapat mencari solusi agar harga pupuk kembali terjangkau sehingga petani tidak terbebani biaya produksi yang tinggi.
Berharap Program B50 Dongkrak Harga Sawit
Selain berharap harga pupuk turun, Yanto juga optimistis harga sawit masih berpotensi meningkat apabila program mandatori biodiesel B50 dijalankan secara maksimal.
Program B50 merupakan kebijakan pemerintah yang mengharuskan penggunaan bahan bakar diesel dengan campuran 50 persen biodiesel berbahan baku minyak sawit dan 50 persen solar.
Menurut Yanto, peningkatan kebutuhan minyak sawit untuk program biodiesel akan berdampak langsung terhadap naiknya permintaan tandan buah segar dari petani.
“Kalau program B50 berjalan maksimal, saya yakin harga sawit bisa naik lagi. Dampaknya tentu akan dirasakan langsung oleh petani, terutama petani swadaya,” ujarnya.
Ia berharap implementasi kebijakan tersebut dapat berjalan konsisten sehingga mampu menjaga stabilitas harga sawit dalam jangka panjang.
Dukung Kebijakan Ekspor Satu Pintu
Selain program biodiesel, Yanto juga menaruh harapan terhadap rencana kebijakan ekspor sawit melalui sistem satu pintu.
Menurutnya, apabila kebijakan tersebut mampu memperbaiki tata niaga ekspor minyak sawit, harga TBS di tingkat petani juga berpeluang meningkat.
“Harga sawit di petani mudah-mudahan bisa naik lagi, terutama kalau kebijakan ekspor satu pintu benar-benar memberikan dampak positif,” katanya.
Ia berharap pemerintah memastikan kebijakan tersebut benar-benar berpihak kepada petani sehingga manfaatnya dapat dirasakan hingga tingkat perkebunan rakyat.
Soroti Perbedaan Harga Bangka dan Belitung
Selain persoalan pupuk, Yanto juga mempertanyakan perbedaan harga TBS antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung.
Menurutnya, harga sawit di kedua wilayah tersebut kerap berbeda meskipun sama-sama berada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Ia berharap pemerintah memberikan penjelasan mengenai penyebab perbedaan harga tersebut agar petani memahami faktor-faktor yang memengaruhinya.
“Kenapa harga sawit di Belitung dan Bangka berbeda? Apakah karena pengiriman ke luar negeri atau ada faktor lain? Kami berharap ada penjelasan dari pemerintah,” ujarnya.
Menurut Yanto, apabila perbedaan tersebut dipengaruhi biaya distribusi, ongkos angkut, kapasitas pabrik, maupun faktor logistik lainnya, pemerintah perlu menyampaikan informasi tersebut secara terbuka kepada masyarakat.
Sempat Anjlok
Sebelumnya, harga TBS kelapa sawit di Bangka Belitung sempat mengalami penurunan tajam yang memicu keresahan petani.
Saat itu harga jual ke pabrik hanya berkisar Rp2.250 hingga Rp2.400 per kilogram, sedangkan harga yang diterima petani melalui tengkulak bahkan sempat turun hingga sekitar Rp1.750 per kilogram.
Penurunan tersebut diduga berkaitan dengan munculnya wacana kebijakan ekspor sawit melalui satu pintu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang disebut-sebut dimanfaatkan oleh sebagian pelaku usaha untuk menekan harga pembelian di tingkat petani.
Kondisi tersebut membuat pendapatan petani menurun drastis, sementara biaya produksi tetap tinggi.
Kini, dengan harga yang kembali bertahan di level Rp3.100 per kilogram, para petani mulai merasakan perbaikan pendapatan. Meski demikian, mereka berharap pemerintah tidak hanya menjaga stabilitas harga sawit, tetapi juga memperhatikan harga pupuk, memperbaiki tata niaga komoditas sawit, serta memastikan adanya kepastian pasar sehingga kesejahteraan petani sawit di Bangka Selatan dapat terus meningkat. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)

















