
KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, menuai sorotan dari sejumlah warga. Beberapa penerima manfaat menilai menu yang dibagikan, khususnya makanan kering, belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan gizi penerima, terutama bagi balita. Senin (9/3/2026)
Keluhan tersebut disampaikan sejumlah orang tua yang anaknya terdaftar sebagai penerima manfaat program MBG. Mereka berharap adanya evaluasi terhadap komposisi menu yang dibagikan agar lebih menyesuaikan usia dan kebutuhan gizi penerima program.

Salah satu warga Kelurahan Toboali, Kecamatan Toboali, bernama Udi, mengaku memperhatikan isi paket makanan yang diterima anaknya dalam beberapa hari terakhir. Anak laki-lakinya yang baru berusia 10 bulan tercatat sebagai penerima manfaat program MBG di wilayah tersebut.
Udi mengatakan setiap kali paket makanan dibuka, ia berharap menemukan menu yang sesuai dengan kebutuhan anaknya yang masih bayi. Namun dalam beberapa hari terakhir, isi paket makanan dinilai hampir serupa.
Menurutnya, dalam paket tersebut terdapat berbagai jenis makanan kering seperti kacang polong, kacang telur, hingga kacang koro. Jenis makanan tersebut menurutnya belum tentu cocok untuk bayi yang bahkan belum genap berusia satu tahun.
“Menu kering program MBG selama bulan Ramadan saya nilai kurang efektif,” kata Udi, Minggu (8/3/2026).
Ia mengungkapkan bahwa menu kacang-kacangan tersebut bahkan dibagikan hampir berturut-turut dalam beberapa hari. Kondisi ini membuat dirinya mempertanyakan kesesuaian menu tersebut bagi balita, khususnya bagi anaknya yang masih berusia 10 bulan.
Sebagai orang tua, Udi merasa khawatir jika makanan tersebut tidak sesuai dengan kondisi anaknya yang masih dalam tahap perkembangan. Ia menilai balita usia 10 bulan tentu memiliki kebutuhan gizi yang berbeda dibandingkan anak yang lebih besar.
“Balita 10 bulan rasanya tidak masuk akal kalau setiap hari diberi kacang-kacangan,” ujarnya.
Meski demikian, Udi mengakui tidak semua menu dalam paket MBG berisi makanan kering. Dalam beberapa kesempatan, paket yang diterima juga berisi makanan yang menurutnya lebih sesuai untuk anak-anak.
Ia menyebutkan beberapa menu yang pernah diterima antara lain susu UHT, roti, puding, telur, serta buah-buahan. Menurutnya, jenis makanan tersebut lebih masuk akal untuk diberikan kepada anak-anak sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan gizi.
Namun dominasi makanan kering dalam beberapa hari terakhir membuatnya merasa program tersebut perlu ditinjau kembali agar lebih tepat sasaran.
Udi berharap pihak penyelenggara program MBG dapat melakukan evaluasi terhadap jenis makanan yang dibagikan kepada penerima manfaat, terutama bagi balita yang masih membutuhkan asupan gizi khusus.
“Jangan sampai kejadian seperti ini terus berulang. Kami berharap ada evaluasi,” katanya.
Selain itu, ia juga berharap pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Toboali dapat menyesuaikan menu makanan berdasarkan usia penerima manfaat.
Menurutnya, kebutuhan gizi anak berusia 10 bulan tentu berbeda dengan anak usia sekolah ataupun remaja yang juga menjadi sasaran program MBG.
“Semoga SPPG bisa melakukan evaluasi terhadap balita penerima manfaat agar menu yang dibagikan benar-benar disesuaikan dengan kondisi dan usia penerima manfaatnya,” ujar Udi.
Keluhan yang hampir serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Irna, yang tinggal di Kecamatan Pulau Besar, Kabupaten Bangka Selatan.
Irna mengaku sempat memperhatikan isi paket makanan yang diterima anaknya yang duduk di bangku sekolah menengah atas dan menjadi penerima manfaat program MBG di wilayah tersebut.
Menurutnya, secara umum program MBG merupakan program yang sangat baik karena bertujuan membantu pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.
Namun ketika melihat komposisi makanan yang dibagikan, ia merasa masih ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan dievaluasi.
“Saya rasa program MBG selama bulan Ramadan khususnya menu kering bisa dievaluasi karena saya rasa tidak sesuai,” kata Irna.
Ia mencontohkan paket makanan yang diterima anaknya pada Kamis (5/3/2026). Pada hari tersebut, menu yang dibagikan terdiri dari keripik tempe, jeruk, telur, dan kue.
Sekilas komposisi tersebut terlihat cukup beragam. Namun bagi sebagian warga, komposisi menu tersebut tetap memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian dengan kebutuhan gizi penerima manfaat.
Irna mengatakan masyarakat awam seperti dirinya tentu tidak sepenuhnya memahami standar gizi yang digunakan dalam program tersebut. Namun ia berharap setiap menu yang dibagikan benar-benar mempertimbangkan kebutuhan gizi penerima manfaat.
“Sebagai masyarakat awam kami juga mempertanyakan mengenai hal ini,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri hadir sebagai salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, pelajar, dan balita.
Melalui program ini, pemerintah berharap kebutuhan nutrisi masyarakat dapat terpenuhi sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Karena itu, sejumlah warga berharap pelaksanaan program tersebut dapat terus diperbaiki dan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
Evaluasi terhadap jenis makanan yang dibagikan dinilai penting agar manfaat program benar-benar dirasakan oleh masyarakat sesuai dengan tujuan awal program tersebut.
Masyarakat juga berharap pihak penyelenggara dapat lebih memperhatikan variasi menu serta menyesuaikan jenis makanan dengan usia penerima manfaat, terutama bagi balita yang masih memerlukan asupan gizi khusus untuk menunjang masa pertumbuhan mereka. (Sumber : Bangkapos.com, Editor : KBO Babel)









