Selamat Hari Guru Ya, Kek

Penulis : Marhaen Wijayanto

Opini & Artikel76 Dilihat
banner 468x60
Advertisements

KBOBABEL.COM – Oalah, kuli kapur, kuli kapur… senasib dengan  kuli gelas! Hahaha!” ujar Atok Es.

Kami sering memanggil penjual es itu dengan sebutan Atok Es, sedangkan  julukan kuli bagi pendidik mungkin hanya terjadi di negara ini. Saya tak tersinggung. Hal itu seperti wajar dan tanpa beban. Mungkin gambaran gaji guru di negara ini tak layak, sangat kecil, bahkan mungkin tak terlihat seperti kutu.

banner 336x280

Tentu itu bukan hal yang merisaukan. Kakek dan sahabatnya itu saling canda tanpa beban. Mungkin merasa apa yang dijalani dan diperoleh sudah jadi pilihan. Perkerjaan mereka bukan lagi beban, melainkan hiburan penunda panggilan Tuhan. Biarlah gaji kecil, asal dijalani dengan rasa syukur, kala halnya lebih baik daripada kufur.

Kakek mengayuh perlahan sepeda ontel besar menyusuri jalanan kering pinggiran desa. Beliau   mulai tak kuat mengayuh jauh di siang hari mengajak minum es di bawah pohon rindang. Kakek  dan penjual es itu berusia hampir sama, mereka saling tawa karena panas terik membuat es di gerobak sederhana itu laku.

Saya sering terlelap karena kekenyangan di pangkuan kakek. Tikar dari karung melindungi  dari tanah di bawah pohon pinggiran pasar itu. Bagi saya pangkuan kakek adalah tempat ternyaman lebih dari apapun. Di sanalah tempat saya menyandarkan mimpi di malam hari. Semenjak ayah dan ibu pergi, kakeklah yang setia memberi tempat    yang nyaman serta selimut kala dingin.

Memimpi  saya besok dan lusa bisa masuk sekolah, tak membantu kakek mengangkut barang. Saya berharap sekolah kami   membahagiakan, membuat siapapun yang belajar di sana nyaman. Agar saya tak jadi pelampiasan para guru muda karena jarang masuk.

Saya  meraba motif bunga-bunga di baju putih milik kakek. Seragam itu selalu kakek pakai saat mengajar. Kata orang, beliau adalah guru paling senior.  Pejuang pendidik yang mengusahakan kemajuan pendidikan negeri ini sejak empat puluh tahun lalu. Seingat saya, setiap upacara hari besar kakek selalu mendapat undangan ke lapangan pusat kota untuk sekadar menerima tali asih dan bingkisan.

Kakek pernah berkata, kusuma berarti bunga. Pekerjaan guru yang kakek cintai memiliki arti perkerjaan yang kakek kan selalu harum, jadi teladan, dan yang terpenting adalah semangat pengabdian.  Seragam serta peci hitam menutupi rambut putih membuat kakek terlihat gagah.

Ontel yang dikayuh sangat tangguh menyusuri jalanan panjang jejak kakek melalui rintangan demi rintangan sebagai guru. Di tasnya ada kapur yang ia beli dari hasil angkut barang.

Zaman sekarang sudah tidak cocok memakai kapur. Saat ini eranya papan interaktif digital. Tapi menurut kakek, secanggih apapun alat mengajar, tak akan mampu mengalahkan tulusnya hati seorang guru.  Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, mampu menghasilkan manusia  mulia.

Sesampainya di kantor, tampak banyak kado di meja guru, setumpuk, bahkan si pemilik meja tak terlihat karena tertutupi banyaknya hadiah. Tapi sayang, di meja kakek hanya ada setangkai bunga dan satu cokelat. Dengan berlambar surat, perlahan kakek membuka surat itu. Ternyata hanya guru kelas saja yang banyak menerima hadiah hari itu, tidak dengan kakek.

Hari ini lain, selain meriah dengan tukar menukar kado, banyak siswa yang memberikan bingkisan kado pada guru. Tapi berbagai hadiah itu tak sampai pada kakek. Beliau hanya guru terbang tak tetap di sekolah itu. Saya melihat senyuman kakek setelah menerima hadiah satu-satunya hari itu. Tak lain di sana ada nama saya. Cucu sekaligus murid paling setia dalam hidupnya.

Setelah kakek tidur, semalaman beliau tak tahu saya menyiapkan bingkisan di hari guru. Semalam, lama sekali saya   memandangi wajah keriput milik beliau. Saya tahu, karena beliau bukan guru kelas, maka hadiah dari saya bisa jadi akan jadi satu-satunya. Semua karena kakek bukan guru tetap.

Saya tahu, kakek pasti malu karena mendapat hadiah paling sedikit dibanding guru lain. Di kertas lain, saya lukis wajah beliau dengan pensil seadanya. Saya goreskan semirip mungkin. Wajahnya yang jarang tersenyum tak menghalangi saya untuk melukis wajah beliau dengan sangat bahagia. Saya berharap kakek menjadi guru paling bahagia di hari guru tahun ini, meski saya sendirian memberikan hadiah untuknya.

Jika bisa membanding, kakeklah orang paling sabar menghadapi kami. Saya sangat paham betapa perih beliau berbicara tapi kami tak mendengar. Alangkah bandelnya kami, tiap beliah bicara, dan menjelaskan materi sedangkan kami tak mendengar. Padahal apa yang diucapkan barangkali menjadi petuah emas, tapi dasar kami bandel, tak mendengar untaian mutiara yang keluar dari lidah kakek.

Dengan sedikit hadiah itu, mudah-mudahan mampu menguatkan hatinya kuat menghadapi kenakalan demi kenakalan kami tiap hari. Meski sederhana, saya hanya mengharap, detik demi detik senyuman kakek menghadapi kenakalan kami akan selalu mengembang. Seuntai bunga kertas yang saya buat untuk kakek seligus guru membuat tangannya meraih bahuku. Kakek menangis.

Beliau yang tiap hari melarang lelaki semacam saya menangis, mendandak berderai air mata. Mungkin karena gajinya yang kecil, atau bahkan orang tak memandang pengabdian beluau sebagai sungai mutiara yang mengalir sepanjang waktu.

Kakek tertegun sejenak, mengelap kacamatanya. Tampak kacamata itu agak berembun karena isakan dari matanya yang renta. Apalagi hujan di musim ini panjang, membuat halaman sekolah riuh dengan embun usai hujan. Embun itu menjelma  pecahan-pecahan  yang sedikit menghalangi pandangan mata kakek.

Kakek merayakan hari gurunya yang sepi. Mungkin hari guru hari ini perayaan bagi guru lain, bukan guru tua semacam beliau. Perayaan bagi wali kelas dan guru kelas, bukan guru terbang seperti dia. Helai demi helai rintik gerimis turun di halaman. Sekolah kami yang tak pernah tersentuh rehap sebentar lagi pasti akan becek, lembab, membuat orang tak mau sekolah di situ.

Orang di sekitar kami tak melihat air mata di balik kacamata kakek. Dengan seragam kusuma bangsa yang masih dipakai kakek, kami pun kembali mengayuh sepeda tua. Apalagi hari ini sekolah memulangkan siswanya lebih cepat. Guru-guru akan rapat.  Katanya akan membahas lomba mirip-mirip pahlawan. Kakek tidak ikut, toh cuma berstataus guru bantu.

Ibu kepala sekolah berlari menyerahkan amplop. Kata beliau isinya untuk jajan saya. Kakek menerima amplop itu sembari menangis, ibu kepala sekolah juga terisak tersedu-sedu.   Kakek menangalkan kapur di meja. Kapur itu sepertinya ikut terisak, satu butir menangis, tetapi butir kapur lain menghibur. Kapur kakek seakan ikut bersedih. Mereka melambai pada kami yang kembali ke rumah.

Hanya selembar kertas berisi lukisan kakek yang mungkin bisa menghibur guru renta seperti beliau. Orang paling bersedih di hari yang harusnya ia rayakan.  Kami berhenti di bawah pohon rindang. Di sana beliau, menumpahkan air matanya yang tak bisa tertahan. Tanpa sengaja saya pun terisak, lalu memeluknya. Selamat hari guru ya, kek.  (Red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *