KBOBABEL.COM (BANGKA SELATAN) – Kondisi ruas Jalan Raya Bikang–Jeriji atau Jalan Lelap Bikang di Kabupaten Bangka Selatan kembali menjadi sorotan publik. Jalan yang dibangun menggunakan anggaran hampir Rp50 miliar dan diklaim mengadopsi teknologi konstruksi modern tersebut kini mengalami kerusakan di sejumlah titik meski baru sekitar satu tahun selesai dikerjakan. Senin (15/6/2026)
Kerusakan yang terlihat berupa permukaan jalan bergelombang, retak memanjang, hingga terbelah pada beberapa bagian ruas jalan. Kondisi tersebut memicu keluhan masyarakat karena dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan serta menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas pekerjaan proyek yang menelan anggaran besar tersebut.
Persoalan ini mendapat perhatian serius dari Anggota Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rina Tarol. Politisi Partai Golkar itu turun langsung meninjau lokasi pada Sabtu (13/6/2026) setelah menerima banyak laporan dan pengaduan dari masyarakat setempat.
Saat berada di lokasi, Rina melihat secara langsung kondisi jalan yang mengalami kerusakan cukup signifikan. Menurutnya, masyarakat telah berulang kali menyampaikan keluhan terkait kualitas jalan yang dianggap tidak sesuai dengan nilai proyek yang mencapai puluhan miliar rupiah.
“Sudah berkali-kali masyarakat mengadu dan melaporkan kondisi jalan ini. Jalan yang diklaim menggunakan teknologi tinggi dengan biaya yang fantastis ternyata kembali rusak dan terbelah. Beberapa kali dilakukan pemeliharaan, tetapi tetap mengalami kerusakan,” kata Rina.
Ia menilai kondisi tersebut tidak dapat dianggap sebagai persoalan biasa. Terlebih, proyek pembangunan jalan tersebut sebelumnya digadang-gadang sebagai salah satu proyek infrastruktur strategis yang menggunakan teknologi khusus untuk mengatasi kondisi tanah lunak yang selama ini menjadi tantangan utama di kawasan tersebut.
Menurut Rina, kerusakan yang kembali muncul dalam waktu relatif singkat menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan proyek. Ia menegaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan infrastruktur yang berkualitas dan mampu digunakan dalam jangka waktu panjang.
Selain menimbulkan ketidaknyamanan, kerusakan jalan tersebut juga dinilai berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari masyarakat, bahkan telah terjadi kecelakaan lalu lintas yang diduga dipicu oleh kondisi jalan yang bergelombang dan tidak stabil.
“Ini cukup membahayakan pengendara dan berdasarkan informasi yang kami terima sudah pernah terjadi kecelakaan di lokasi ini. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama,” ujarnya.
Sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Bangka Selatan, Rina memastikan persoalan tersebut tidak akan berhenti pada peninjauan lapangan semata. Ia berkomitmen membawa temuan tersebut ke tingkat kelembagaan DPRD Provinsi Bangka Belitung agar dapat ditindaklanjuti secara serius.
Menurutnya, proyek pembangunan Jalan Lelap Bikang–Jeriji merupakan pekerjaan yang dilaksanakan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN). Karena itu, diperlukan penjelasan terbuka kepada masyarakat mengenai penyebab kerusakan yang terjadi.
Rina juga meminta aparat penegak hukum ikut mencermati persoalan tersebut. Ia menilai penggunaan anggaran negara yang mencapai hampir Rp50 miliar harus menghasilkan kualitas pekerjaan yang sebanding dengan dana yang telah dikeluarkan.
“Kami meminta aparat penegak hukum turun melihat persoalan ini. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Saya akan berkoordinasi dengan Komisi III untuk menyikapi kondisi ini secara kelembagaan karena ini merupakan aspirasi masyarakat yang tidak mungkin kami abaikan,” tegasnya.
Meski demikian, Rina menegaskan dirinya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan proyek tersebut sebagai proyek gagal. Namun, kondisi fisik jalan yang kembali rusak dalam waktu singkat merupakan fakta yang harus menjadi perhatian seluruh pihak terkait.
“Biarkan pihak yang berwenang melakukan kajian dan evaluasi. Yang jelas, masyarakat mempertanyakan mengapa jalan yang baru selesai dibangun sudah kembali mengalami kerusakan,” katanya.
Diketahui, BPJN Bangka Belitung sebelumnya memperkenalkan penggunaan teknologi Mortar Foam atau mortar busa dalam proyek peningkatan Jalan Lelap Bikang–Jeriji. Teknologi tersebut disebut sebagai yang pertama diterapkan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Metode Mortar Foam digunakan untuk mengatasi kondisi tanah dasar yang lunak dengan cara mengurangi beban konstruksi tanpa mengurangi kekuatan struktur jalan. Selain itu, teknologi tersebut juga dikombinasikan dengan pemasangan kayu cerucuk yang diklaim mampu meningkatkan stabilitas tanah dan memperpanjang usia konstruksi jalan.
Saat diperkenalkan, teknologi tersebut diyakini mampu menjadi solusi atas persoalan jalan yang selama bertahun-tahun mengalami penurunan akibat kondisi tanah rawa dan lunak di kawasan tersebut.
Namun berdasarkan dokumentasi lapangan yang diperoleh, permukaan jalan kini kembali menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Aspal terlihat retak memanjang dan terbelah pada beberapa titik, sementara bagian tengah jalan tampak bergelombang sepanjang kurang lebih 500 meter.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas teknologi yang diterapkan serta kualitas pelaksanaan proyek secara keseluruhan.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk memperbaiki kerusakan dan melakukan evaluasi menyeluruh agar persoalan serupa tidak terus berulang. Selain itu, transparansi mengenai hasil pemeriksaan teknis dan penyebab kerusakan juga dinilai penting untuk menjawab keresahan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak BPJN Bangka Belitung terkait penyebab kerusakan jalan maupun langkah penanganan yang akan dilakukan. Publik kini menunggu penjelasan resmi dari instansi terkait sekaligus tindak lanjut konkret guna memastikan keselamatan pengguna jalan serta menjaga kualitas pembangunan infrastruktur yang dibiayai oleh uang negara. (Sumber : babelhebat.com, Editor : KBO Babel)

















